Dua kali sehari ia membersihkan lantai masjid, luar dalam. Karpet pada lantai dalam tempat ibadah tersebut tergulung, karena pandemi diakibatkan virus korona masih menghantui.
Kasto memiliki kiat tersendiri dalam menyapu dan mengepel lantai. Ia memerhatikan detail keresikan alat sapu dan pel. Demikian agar tidak terdapat sebutir debu menempel pada perkakas kebersihan.
Hasilnya, lantai luar dalam masjid tampak suci. Halaman terlihat rapi dan asri.
Perihal cara, cukup unik. Sementara pria lajang itu menyapu lantai, ia meletakkan alat pel bergagang di bawah kran air yang sedang mengucur. Tidak menggunakan ember berisi air untuk membilasnya.
Dengan demikian, kotoran pada kain pel dijamin meluruh, terbuang melalui selokan ke kali.
Setelah sekian kali, suatu pagi Kasto menjumpai kenyataan yang menggentarkan. Mendadak pikirannya terkait kepada cerita mistis petugas kebersihan sebelumnya.
Peristiwa-peristiwa selanjutnya telah meruntuhkan keyakinannya pada titik nadir, bak daun kering yang runtuh akibat tertiup angin.
Itulah alasan terkuat pembuat kehendak untuk berhenti bekerja. Sudah tiga kali ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri.
Riwayat pertama. Sekembalinya dari menyapu, Kasto melihat putaran kran sudah tertutup. Ia ingat benar, tadinya ia membukanya demi air mengucur deras, dalam rangka membilas kain pel bergagang.
Sepi. Tiada satupun orang di sekitar atau jejak-jejak tertinggal. Merinding bulu kuduk Kasto.
Peristiwa kedua dengan keadaan sama membuat Kasto hampir menyerah. Ia mulai memercayai adanya hantu bergentayangan dari pohon beringin. Siapa lagi?