***
Peristiwa di mana saya mengalami too much analyzing terjadi di sekitar tahun 2000-an.
Setelah menyelesaikan tahap Basic, bersama 100 orang dari berbagai institusi, saya mengikuti experimental training pada jenjang Advance. Biaya pelatihan di level ini dua kali lipat dari kelas dasar. Materi yang disuguhkan lebih padat dan sifat dari pelatihan juga lebih ketat.
Tujuannya sama dengan pelatihan sebelumnya, yaitu berkaitan dengan perkembangan kepribadian dan kesadaran diri dalam berkelompok (organisasi), berkomitmen, kerja kelompok secara efektif, dan pembentukan karakter pemimpin.
Pelatihan bukan bersifat teoritis. Tidak ada sekalipun tugas mencatat materi pelatihan. Pelatihan yang disampaikan dalam bahasa Inggris penuh itu adalah tentang menyimak materi dan mengalami sendiri peristiwa dalam bahan diajarkan.
Singkatnya, setelah 4 hari terus-menerus berada di ruangan, pada hari berikutnya peserta mendapatkan kesempatan untuk berjalan-jalan. Jangka waktu untuk kembali ke kelas adalah 3 jam (kalau tidak salah).
Hanya ada satu tugas sederhana yang harus diselesaikan, yakni menemukan keramaian dan melakukan mingle atau berkomunikasi dengan orang baru dikenal. Menanyakan nama, asal muasal, dan pertanyaan umum lainnya yang akan dicatat pada selembar kertas. Gampang bukan?
Saya dipasangkan dengan seorang peserta, akuntan dari sebuah BUMN. Di dalam perjalanan, kami memilih: tempat mana yang akan dituju? Sebaiknya seramai apa, agar kami bisa melakukan peran sosial secara sempurna? Apakah ruang sosial yang homogen atau heterogen? Dan seterusnya. Dan seterusnya.
Setelah sekian kali berhenti untuk membahas jawab atas pertanyaan tersebut, maka dipilihlah acara pameran di Balai Sidang Jakarta (JCC).
Di sana, ada bertambah lagi pertanyaan: Siapa yang dipilih? Dari kelas sosial yang bagaimana? Muda atau tua? Perorangan atau keluarga? Apakah mereka berkeberatan? Bagaimana menghadapi penolakan?
Kami membahas segala kemungkinan, berhati-hati dalam memilih, dan menimbang solusi apabila skenario terburuk terjadi, sambil masing-masing melahap semangkuk bakso, minum kopi, dan menyedot asap sekian batang sigaret.