c. Kesalahan Ad Hominem : ketika pengumpulan sumber sejarah, sejarawan memilih orang, otoritas, profesi, pangkat, atau jabatan. Jika sejarawan memilih wawancara satu  orang, sangat memungkinkan terjadi kesalahan ad hominem. Sehingga perlu dilakukan pengumpulan setidaknya tiga sumber.
d. Kesalahan kuantitatif : karena kebanyakan orang percaya dengan data - data yang memuat angka padahal tidak sedikit angka statistik yang mungkin menipu atau mengecoh.
e. Kesalahan estetis : jika sejarawan hanya memilih sumber - sumber sejarah yang mungkin mempunyai efek estetis ( keindahan ).
3. Kesalahan Verifikasi, sejarawan sering terganggu dengan istilah relativitas yang menyebabkan orang ragu terhadap kemampuan terhadap pengetahuan dan metode sejarah dalam mencapai objektivitas suatu penulisan sejarah.
a. Kesalahan pars pro toto : jika sejarawan menganggap bahwa bukti yang sebenarnya hanya berlaku sebagian, tapi dianggap berlaku untuk keseluruhan. Contohnya saja keluhan R.A. Kartini bahwa setiap Wanita selalu dipingit, padahal hal tersebut hanya berlaku untuk gadis bangsawan. Sedangkan, tidak berlaku untuk gadis desa dan justru sering dinikahkan ketika masih usia remaja.
b. Kesalahan toto pro pars : kebalikan dari pars pro toto, bahwa sejarawan mengemukakan seluruhnya sedangkan bukti hanya berlaku Sebagian. Contohnya sejarawan menggambarkan seolah - olah Angkatan 1928 semua pemuda adalah nasionalis, semua mahasiswa adalah demonstran.
c. Kesalahan menganggap pendapat umum sebagai fakta : contohnya saja, banyak orang selalu menganggap bahwa orang - orang China merupakan pedagang dan kaya. Sedangkan kenyataannya tidak sedikit orang - orang China di Singkawang banyak yang menjadi petani atau asisten rumah tangga yang miskin.
d. Kesalahan menganggap pendapat pribadi sebagai fakta : sejarawan yang menganggap pendapat dan kesenangan pribadi berlaku secara umum dan menjadi fakta sejarah. Contohnya pada tahun 1910, ada seorang Wanita yang mahir bermain musik Barat di Surakarta. Sedangkan hal tersebut tidak dapat dijadikan sebagai bukti sejarah bahwa para Wanita pada zaman tersebut sudah mahir bermain musik.
e. Kesalahan perincian angka yang presis : banyak dari data tradisional yang tidak mungkin diperinci angkanya karena dapat menimbulkan pertanyaan.
f. Kesalahan yang spekulatif : sejarah sebagai ilmu yang empiris sehingga tidak boleh ada bukti sejarah yang di luar jangkauan sejarah. Contohnya : tidak ada bukti sejarah yang dapat membuktikan bahwa Bendera Merah Putih sudah berusia 6000 tahun, seperti yang dikatakan oleh Moh. Yamin.
4. Kesalahan Interpretasi, sejarawan terkadang lupa bahwa terikat oleh logika yang terdapat dalam semua ilmu sehingga harus seimbang antara pengumpulan sumber dan kemampuan untuk menjelaskan.