Perompak dipilih untuk menjadi tokoh antagonis di Pulau Hari Kamis. Pulau ini merupakan sarang perompak paling ditakuti. Kawanan perompak dipimpin oleh Dorokdok-dok (Perompak Kay). Perompak Kay pun masih bertalian darah dari Petani Kay, Paman Kay, dan Kakek Kay.
Dua ratus tahun lalu dia adalah Raja Kepulauan Komet, berkuasa di Pulau Hari Jumat. Hingga suatu hari gerombolan perompak menyerang pulau. Dorokdok-dok kalah, terusir dari Pulau Hari Jumat. Dia terlunta-lunta hingga terdampar di Pulau Hari Kamis (hlm.275).
Tiga sekawan diuji seberapa besar cinta kasihnya terhadap kawanan perompak dan Dorokdok-dok yang menderita semacam sakauw (ketergantungan) akibat efek samping penggunaan cincin pada tubuhnya. Cincin merupakan senjata terampuh di Kepulauan Komet.
Saksi Perebutan Siklus 200 Tahunan
Seolah tanpa henti tiga sekawan menyaksikan konflik ataupun berkonflik. Di Pulau Hari Jumat mereka menjadi saksi siklus perebutan kekuasaan tiap 200 tahun sekali antara Raja Kay dan Dorokdok-dok (Perompak Kay). Mereka pun bertukar posisi. Dorokdok-dok kembali menjadi Raja.
"Dan ingat jangan panggil, jangan panggil aku dengan sebutan Dorokdok-dok lagi. Panggil aku Raja Kay. Raja di Kerajaan Pulau Hari Jumat..." (hlm.321).Â
Â
Berdasarkan anjuran Raja Kay, tiga sekawan diberi saran menuju ke Pulau Hari Sabtu. Di sana ada sauadara Kay berikutnya, yakni Pelaut Kay. Pelaut Kay merupakan satu-satunya orang yang yang tahu tentang lokasi pulau dengan tumbuhan aneh yang dicari oleh tiga sekawan.
Ujian Tiada Kunjung Henti
Amboi mantap nian membaca novel Komet. Tere Liye sungguh rapi menyiapkan kejutan dalam tiap lembar halaman novel. Kemampuannya meramu kompleksitas konflik antar tokoh patut diacungi jempol. Kemunculan tokoh antagonis yang menyerang atau merintangi tiga sekawan dalam menuntaskan misi petualangannya sungguh tiada terduga. Tokoh antagonis yang dimunculkannya dapat berupa manusia, binatang, atau monster laut ganas.
Ujian ketahanan fisik dan ketangguhan mental dari tiga sekawan tersaji dalam pertempurannya melawan gurita raksasa. Hingga mereka hampir menyerah.