Mendung tebal bergulung-gulung di langit dan sedikit semburat cahaya rembulan menembus mendung melukiskan suasana malam yang mencekam. Tak terdengar bunyi binatang malam saat itu kecuali kepak-kepak sayap burung hantu diantara dahan-dahan pepohonan di pekarangan samping dan belakang rumah. Angin dingin bertiup sepoi-sepoi menerbangkan dedaunan kering. Dan di malam itu kampusku mengadakan pesta Halloween di sebuah halaman rumah tua tak berpenghuni di dekat kampus.
Jarum jam merambat pelan menuju pukul sepuluh malam. Detak detiknya terdengar berpacu dengan detak jantungku. Aku memberanikan diri untuk mengikuti acara Hallowen malam itu.Â
Suara tokek di langit-langit kamar menemaniku merias wajah dan rambutku agar kelihatan seram. Tak lama kemudian Aku pun sudah selesai dengan dandananku. Perlahan Aku menggeser kakiku menuju cermin besar di sudut kamar.
Darahku seolah berhenti mengalir dan jantungku seolah meloncat entah kemana. Aku telah berubah menjadi sesosok kuntilanak meskipun hanya dengan masker bengkoang putih yang terlihat retak-retak dan daster putih lusuh pinjaman dari kakakku. Rambut hitam panjang acak-acakan dan warna gelap disekitar ke dua bola mataku menambah kesan menakutkannya kostum ini.
Aku mengambil hape dan kukirim pesan WA pada temanku. Akan kutunggu dia di jalan setapak di belakang kampung. Aku segera keluar dari rumah dan berjalan kaki menuju tempat pesta yang telah ditentukan. Sebenarnya aku ragu saat memutuskan melewati jalan setapak menyusuri tepian sungai yang sepi di belakang kampungku.Â
Rasa takut mulai merayap memenuhi sebagian hatiku ketika Aku melihat disekitarku hanya gelap dan rimbunnya pepohonan. Meski begitu Aku tetap berjalan dan berharap bertemu dengan temanku di jalan ini.
Nyaliku pun mulai rontok saat sayup-sayup terdengar bunyi mantra-mantra pemanggil arwah yang biasa diucapkan oleh anak-anak kampung ketika bermain jailangkung di bawah rimbunnya pohon bambu beberapa meter di depanku.
Rasa takut ini memaksaku menghentikan langkah sejenak. Karena tidak kulihat seorangpun di sana kecuali sebuah boneka kayu jailangkung tanpa kaki yang berdiri di bawah rumpun bambu. Dia meloncat-loncat dan bergoyang sendiri. Kepala dari batok kelapanya terlihat menyeramkan saat menoleh ke arahku. Tubuh kayunya terbalut kain mori usang. Dia bergoyang melambaikan kainnya seperti ingin ikut denganku.
Aku berusaha mempertahankan kesadaranku dan berpikir logis. Mungkinkah boneka kayu jailangkung itu tertarik dengan kostum kuntilanakku dan ingin ikut denganku ke pesta Hallowen? Seketika merinding bulu kuduk di sekujur tubuhku.
Darahku benar-benar berhenti mengalir. Tubuhku menjadi dingin membeku seolah-olah terbungkus bongkahan salju di Puncak Jayawijaya ketika kulihat sekelebat bayangan keluar dari tubuh boneka kayu jailangkung. Dan ... boneka jailangkung itu roboh ke tanah.
Terlihat sesosok nenek bongkok telah berdiri di depanku. Kulit wajahnya sangat keriput dan matanya besar melotot. Tercium bau apek saat nenek bongkok itu berjalan mendekat ke arahku. Langkahnya tertatih-tatih dengan ditopang sebatang tongkat kayu. Tangan satunya menjulur ingin menyentuhku seolah memberi isyarat akan ikut denganku.
Aku memalingkan wajah. Tubuhku gemetaran dan bersiap mengambil langkah seribu. Tetapi ke dua kakiku seperti terpaku dan menghujam sangat dalam ke dalam tanah. Tubuhku terasa limbung ketika merasakan sebuah tangan menepuk pundak dan menyapaku.
"Kenapa berhenti? Takut ya lewat jalan ini?"
Suara itu terdengar berat di telingaku dan memaksaku untuk menoleh. Ya Tuhan ... ada makhluk lain lagi! Sesosok tubuh besar berwarna hijau gelap dengan bulatan mata hitam berdiri di belakangku. Itu buto ijo! Pandanganku nanar ke arahnya tapi buto ijo itu malah tersenyum padaku.
Senyuman itu menyadarkan Aku pada seorang teman yang telah berjanji bertemu di tempat ini. Ternyata dia datang dengan kostum buto ijonya.
Aku merasa lega dan menunjuk ke arah rumpun bambu tadi dan bertanya padanya.
"Kamu melihat nenek bongkok di sana?"
"Tidak, yang kulihat hanya boneka kayu jailangkung tergeletak di tanah di depan rumpun bambu."
Dia mengajakku melanjutkan perjalanan. Tapi kaki ini masih terasa berat untuk melangkah dan punggungku seperti menanggung berat beban tubuh orang dewasa. Seperti ada yang menaiki punggungku. Dengan tertatih-tatih menyusuri jalan setapak Aku berjalan di belakang buto ijo menuju tempat pesta Halloween. Keringatku bercucuran meski udara malam itu terasa sangat dingin. Dan kami disambut oleh para hantu Hallowen ketika sampai di depan pintu pagar halaman rumah tua.
Para hantu itu hanya berkerumun di sana dan tidak ada seorang pun masuk ke halaman rumah yang telah di buat panggung untuk pesta Hallowen.
"Baru saja terjadi insiden dan semua peserta berhamburan keluar dari tempat pesta," kata salah seorang panitia menceritakan kejadian di sana.
"Aliran listrik tiba-tiba putus, suasana menjadi gelap di sana. Kemudian terdengar benda berat jatuh di panggung. Terus kalian lihat sendiri ada apa di sana."
Semua mata memandang ke tengah panggung. Dalam cahaya remang-remang terlihat sosok nenek bongkok duduk bersimpuh sambil memegang tongkat kayunya. Dan Aku baru menyadari kalau beban berat di punggungku telah hilang. Sesuatu itu telah turun dari punggungku beberapa langkah sebelum Aku tiba di tempat pesta Halloween.
Nenek bongkok itu ikut pesta hantu Halloween ... datang diantar siapa?
Hanya buto ijo yang tahu dan menoleh kearahku sambil tersenyum ...
Solo.22.11.2018
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI