Mohon tunggu...
Ruang Berbagi
Ruang Berbagi Mohon Tunggu... Dosen - 🌱

Menulis untuk berbagi pada yang memerlukan. Bersyukur atas dua juta tayangan di Kompasiana karena sahabat semua :)

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Bocah Pemulung Baca Al Quran dan Pasal 34 yang Indah dalam Tulisan

7 November 2020   06:13 Diperbarui: 16 November 2020   12:52 842
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
anak-anak pemulung - dokpri

Berapa Jumlah Anak Jalanan di Indonesia?

Pusat Data dan Informasi Kesejahteraan Kementerian Sosial mencatat, hingga Agustus 2017 jumlah anak jalanan di Indonesia sebanyak 16.290. Apakah data ini valid? Terus terang, data pemerintah lazimnya "ABS" atau "Asal Bapak Senang".

Mengadakan sensus pada kaum marjinal itu sangat sulit. Mereka cenderung berpindah-pindah tempat. Tiada dokumen kependudukan yang dimiliki. Takut pada kehadiran aparat, meski sebenarnya aparat budiman yang hendak mendata dan menolong.

Dengan hantaman pandemi Covid-19 ini, kiranya jumlah keluarga miskin dan anak jalanan makin meningkat. Merekalah sebenarnya kalangan yang paling mendesak diperhatikan negara. 

Anggaran negara dan daerah seharusnya difokuskan untuk menolong fakir miskin dan anak jalanan. Bukan untuk komodo di Pulau Rinca yang sudah ribuan tahun hidup tenang di habitatnya dan tidak pernah minta dibuatkan Jurassic Park.

Fakir Miskin dan Anak Jalanan (Seharusnya) Dipelihara Negara

Tentu tulisan ini tidak bermaksud mengerdilkan kerja keras pemerintah pusat dan daerah dalam menangani anak jalanan. Kementerian Sosial dan pemerintah-pemerintah daerah telah, sedang, dan akan berusaha mendampingi anak jalanan.

Yang saya kritisi adalah kurangnya upaya pejabat dan pegawai dinas terkait untuk turun ke jalanan. Presiden Joko Widodo sudah memberikan teladan semangat blusukan. Nah, bawahan beliau seharusnya juga suka blusukan.

Akbar selama bertahun-tahun mengembara di jalanan, tanpa pernah (kiranya) sekalipun didata dan ditolong Dinas Sosial atau lembaga negara mana pun. Ini artinya, sistem pendataan dan penanganan anak jalanan tidak berfungsi. Jangan-jangan, juga cuma indah di atas kertas saja!

Seandainya sungguh ada, tentu tiap hari pegawai Dinas Sosial dan lembaga terkait di daerah proaktif mendata dan membina anak jalanan. Ini tugas negara yang selama ini kiranya lalai dijalankan dengan semestinya.

Justru yang pertama membantu anak jalanan biasanya warga yang juga berkekurangan dan tak punya dukungan kelembagaan. Seperti pasutri di Tangerang yang tergerak oleh belas kasihan, lantas spontan mengumpulkan donasi dari sahabat dan tetangga demi membantu anak jalanan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun