KEKASIH
Kekasih,... saat ini daku sendiri sepi tanpa kehadiranmu; mencoba melupakanmu namun kutakmampu; bayangmu selalu hadir dalam setiap langkahku.
Masih melekat kenangan terakhir bersamamu; kau bonceng aku dengan motor tua menopang kita yang semakin renta; kulingkarkan kedua tanganku kepinggangmu; hangat tubuhmu aku rasakan, aroma khas tubuhmu menyeruak hidungku; aku ingin lebih lama bersandar di punggungmu; tak ingin momenku segera pergi karena berjalannya waktu.
Namun, hatiku sangat sedih dan hancur tatkala dirimu tak mampu lagi menjemputku, tatkala tubuhmu terbaring lesu; hanya pandangan matamu mengikuti langkahku, pandangan penuh kasih itu menjadi memelas; menahan sakit yang kau derita sekian lama.
Kasih,..hatiku serasa tercabik-cabik, pedih,.perih..
Andai aku bisa menyembuhkanmu; namun aku tak mampu; aku hanya dapat mendampingimu, memelukmu, dan menyayangimu hingga Tuhan memanggilmu.
Kasih,.. kini aku sendiri; menemani buah hati kita hingga mandiri; setiap tetesan air mata tak mampu mengikis kepedihanku.
"Tuhan,.ampunilah hamba-Mu
yang rapuh,.
Berikan tempat terindah untuk kekasihku,.
Karena dia milik-Mu.
Jangan palingkan hamba dari kasih-Mu."
NANI KUSMIYATI
Jonggol, 23 September 2022
Puisi prosais yang didalamnya menggunakan TANDA BACA dan KONJUNGSI.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI