Mohon tunggu...
Billkis Tunggal
Billkis Tunggal Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa PBSI UNS

Mahasiswa PBSI UNS

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Opini tentang Linguistik dalam Pengajaran Bahasa Indonesia

31 Desember 2023   16:22 Diperbarui: 31 Desember 2023   17:09 91
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Ditulis Oleh: Billkis Sukreni Wulan Tunggal dan Dr. Muhammad Rohmadi, M.Hum.

Opini Tentang Linguistik Dalam Pengajaran Bahasa Indonesia

buku pengantar  linguistik dari seluruh dunia selalu memuat pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan bidang linguistik. Ada dua jenis linguistik, yaitu linguistik teoretis (linguistik teoretis -- sering disebut sebagai linguistik "murni"). dan Linguistik Terapan ( Linguistik Terapan). Misalnya, penelitian linguistik teoretis bertujuan untuk mengeksplorasi universalitas bahasa (Chomsky's Universal Grammar [UG], 1957 dan Greenberg, 1966).  Hal ini menjelaskan fenomena linguistik (bahasa sebagai fakta sosial [de Saussure, 1914)]. [ bahasa sebagai jendela menuju dunia penuturnya [Sapir, 1940]; bahasa sebagai hasil proses mental [Chomsky, 1957]) dan eksplorasi hubungan antar bahasa (linguistik diakronis,  de era Dahulu Linguistik ) Saussure).

Saat ini, linguistik terapan mengacu pada penerapan hasil 4.444 kajian linguistik teoritis dalam praktik kehidupan sehari-hari. Jika dalam linguistik teoretis salah satu cirinya bersifat deskriptif (memperlakukan bahasa apa adanya), maka dalam linguistik terapan bahasa harus diperlakukan secara normatif (diatur). Perlu diperjelas bahwa berbagai jenis bidang dalam linguistik terapan meliputi pengajaran bahasa,  penerjemahan, dan leksikografi (leksikografi). Dengan kata lain pengajaran bahasa merupakan salah satu cabang ilmu linguistik, bukan sebaliknya.

Dari segi bahasa, linguistik dibagi menjadi dua cabang: linguistik  deskriptif dan linguistik preskriptif. Linguistik deskriptif mempunyai pengertian yang kurang lebih  sama dengan linguistik teoritis. Artinya, bersikaplah seobjektif mungkin (amati saja), jangan merendahkan atau memperhatikan benar dan salah, dengan kata lain mengamati bahasa apa adanya. Praktisi pandangan ini sering disebut deskriptif. Hal ini umumnya berkaitan dengan hubungan bahasa, fenomena linguistik dalam  kehidupan sehari-hari, struktur dan sistem bahasa, dan hakikat bahasa. 

Pekerjaan mereka meliputi 4.444 peneliti bahasa (lembaga bahasa, pusat, kantor), instruktur kursus linguistik, atau peneliti budaya bahasa (Max Planck Institute). Sedangkan yang dimaksud dengan linguistik normatif adalah pandangan  bahasa dari standar , kebenaran penggunaan, atau kesantunan. Pandangan ini memperhitungkan ada 4.444 cara berbahasa yang salah dan benar, 4.444 cara berbahasa yang baik dan buruk, serta 4.444 cara berbahasa sopan dan kasar. Perhatian diberikan pada perbaikan ejaan, pedoman terminologi , tata bahasa Indonesia baku, dan penggunaan kamus Besar Bahasa Indonesia . Pelaku normatif lebih beragam, misalnya editor bahasa, pengajar bahasa, dan guru bahasa, namun masyarakat pada umumnya juga mempunyai pandangan normatif (karena merupakan hasil belajar mereka di sekolah).

William G. Moulton (Parera, 1986: 21) menguraikan prinsip-prinsip bahasa berdasarkan penelitian linguistik dan "komprominya"  dengan bidang pendidikan: Pertama, bahasa adalah bahasa, bukan bahasa tulisan. Oleh karena itu, pengajaran bahasa adalah bahasa. harus diawali dengan mendengarkan dan berbicara, dan membaca dan menulis  merupakan perwujudan kedua. Kedua, karena bahasa merupakan seperangkat kebiasaan, maka siswa memerlukan keakraban, dimulai pada tataran peniruan dan penghafalan (imitation and hafalan [disingkat mim-mem]). 

Ketiga, pendidikan bahasa bukan tentang pengajaran tentang bahasa, melainkan tentang pengajaran bahasa. Hal ini karena tata bahasa, misalnya, bukanlah tujuan  pengajaran bahasa, melainkan alat untuk mencapai tujuan pengajaran tersebut. Keempat, bahasa adalah bahasa  penutur asli dari bahasa yang diajarkan, bukan bagaimana pendapat orang non- yang menggunakannya. Bahasa ini. Kelima, tidak semua bahasa itu sama, sehingga semua bahasa harus diperlakukan sesuai kaidah yang berlaku  pada bahasa yang diajarkan secara mandiri.

Sejak manusia pertama kali muncul di bumi ini, kehidupan manusia selalu penuh dengan perubahan generasi. generasi lama akan digantikan oleh generasi baru, saat ini dianggap generasi baru, kemudian digantikan oleh generasi baru, dan akan segera digantikan oleh generasi baru. Demikian pula dalam ilmu pengetahuan selalu terjadi modifikasi, dan teori-teori menjadi semakin  sempurna hingga dapat disebut hukum. Hasil kajian ilmiah tersebut diharapkan dapat bermanfaat secara praktis dalam kehidupan sehari-hari demi kemaslahatan umat manusia. 

Untuk itu generasi baru harus terus aktif meneliti kepentingan penelitiannya masing-masing tanpa mengabaikan peran generasi tua yang telah menginspirasi kita. Oleh karena itu, yang sangat penting adalah siswa/guru bahasa Indonesia generasi baru memerlukan apa yang disebut "ilmu". Guru  bahasa Indonesia  tidak harus mengajarkan bahasa kepada siswa secara teoritis atau secara teknis, tetapi mereka harus sadar sepenuhnya akan ilmu yang dimilikinya dan isi yang diajarkan. 

Tujuannya  agar dapat direvisi dan direvisi oleh guru generasi baru. Dalam filsafat (Keraf dan Dua. 2001: 33-37), pengetahuan dibagi menjadi empat kategori: pengetahuan, bagaimana mengetahui, pengetahuan tentang, dan pengetahuan mengapa. Pengetahuan tingkat  masih merupakan pengetahuan teoritis yang berguna. Pengetahuan tingkat kedua, seperti (know-how), mengacu pada kemampuan melakukan sesuatu berdasarkan teori tertentu dan bersifat praktis, seperti mengetahui cara menulis di komputer. Selanjutnya, pengetahuan tentang (pengetahuan) mengacu pada pengalaman  langsung terhadap suatu subjek tertentu , yang dapat dijelaskan secara rinci. Yang terakhir, ilmu merupakan tingkatan tertinggi dari segala ilmu karena  lebih dalam. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun