Ketika dunia hanyalah malam
Terbatas pangkal keladi - kaladi berumur kecil
Jemari yang mengkilat
Menopang beban lahir
Beban semenjak kuncup merekah
berasal dari bilah ke bilah lain
Tersimpul bahagia . . . benar?
Hingga terbentuk tunas mungil
Jemarinya masih lembut
kulitnya belum hijau, masih semu
Angin masih meledek, kadang menimangmu
Biangnya itu yang perkasa ─ jemarinya kokoh, penuh tebuk
Tebuk-tebuk terbentukÂ
Kala mudanya berbaris dalam gelap
Sebelum menghirup terai dunia
Apa ?
Untuk apa gunanya ?
Semakin berumur penuh jemari berhias tebuk
Ajaib bukan . . .? hanya untuk menyilap
Para ngengat, kupu - kupu, maupun kalian. Manusia . . .
Bisiknya pelan saja.Â
Tawa kecilku berkerumun meriah
pada daun bertebuk.
Yogyakarta, 10 Oktober 2017
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI