Bagaimana mungkin,
Kau menginginkan kami tanpa cela, sementara kau sendiri tak sempurna dan bertabur titik noda.
Bagaimana bisa,
Kau mengharuskan kami selalu benar tiada dosa, sedangkan kau sendiri belum mampu keluar dari kubangan kesalahan yang sama.
Apa pula maksudnya,Â
Kau menuntut kami senantiasa berupa manis lagi mendayu, sedang raut angkara sering kau unjukkan tanpa ragu pun malu.
Jangan paksa kami berjaga semalaman, kalau kau sendiri ingin segera bergelung dalam buaian.
Jangan paksa kami berenang ke seberang hilir, bila kakimu sendiri bahkan tak ingin menyentuh air.
Yang tidak baik, tak selalu tidak baik. Namun seringkali karena memang kau tak ingin mencoba melihat yang baik.
Manislah, meski tak selalu yang manis tersaji di hadapanmu.