Mohon tunggu...
Sylvius Bennedicto Brilliant
Sylvius Bennedicto Brilliant Mohon Tunggu... Pelajar Sekolah - Seminaris

warta nyata

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Refleksi Kemanusian 1 Tahun Perang Rusia Ukraina

24 Februari 2023   08:04 Diperbarui: 24 Februari 2023   08:09 173
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Pada tanggal 24 Februari 2022 merupakan hari pertama dimana Rusia melakukan invasi kepada Ukraina. Dampak yang diberikan puntidak hanya bagi kedua negara tetapi hampir seluruh negara di Dunia. Dilansir dari harian Kompas tanggal 20 Februari 2023, kurang lebih ada 22 negara yang terdampak perang ini terkait dengan kebijakan anggaran negara. Indonesia menjadi salah satu negara yang disebut oleh kompas. Sudah banyak respons negara-negara terkait perang ini. Hasilnya pun tidak mampu menghentikan perang ini. 

Kini telah ada 8 juta pengungsi yang tersebar di negara-negara eropa. 1 tahun perang di Rusia dan Ukraina mengajak kita semua untuk sejenak berefleksi terkait kemanusiaan dari perang. Pertanyaan dasarnya adalah siapakah kita manusia? Apakah arti penderitaan? Hal-hal ini semua merupakan masalah terkait eksistensi manusia dan sumber kekhawatiran selanjutnya. Dimanakah sinodalitas manusia?

Kekuasaan tanpa belas kasih.

Dengan dasar keinginan yang fana, manusia telah jatuh dalam haus akan kekuasaan. Itulah yang merupakan dasar mengapa manusia menyerang manusia demi mendapat kekuasaan. Demi mendapat kekuasaan angan-angan itu manusia rela membunuh ribuan dan jutaan jiwa orang, seperti perang dunia 1 dan perang dunia 2 yang menghasilkan 95 juta korban. 

Perang Vietnam, bahkan juga korban perang rusia-ukraina, yang telah menghasilkan 7199 korban yang tidak berdosa. Mereka merupakan korban penyalahgunaan kekuasaan. Patutlah ditekankan kata "Korban penyalahgunaan kekuasaan". Belum lagi, mereka yang terdampak secara materil. Terdapat dampak yang panjang akibat perang ini. Terutama, di masa pemulihan pasca pandemi C-19.

Para penguasa seharusnya menyadari bagaimana perang sangat berdampak pada umat manusia. Memang, telah dilakukan banyak sekali perundingan bahkan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, telah bertatap muka dengan Presiden Ukraina, Vlodimir Zelensky, dan Presiden Rusia, Vladimir Putin. 

Tapi, tampaknya belum ada hasil yang cukup cerah. Alih-alih menghentikan perang, perang rusia-ukraina malah menjadi sarana untuk menunjukan teknologi militer yang dimiliki negara, terutama negara NATO dan Rusia. 

Sarana-sarana teknis yang tersedia dalam perang ini menjadi sarana penghancuran melalui konflik militer. Jika begini terus masakan para penguasa dengan senang hati melihat rakyatnya terus menderita dengan hujan artileri dan bom seraya minum secangkir anggur sambil duduk di Balkon rumah dinas? Dimana letak hati penguasa itu?

Kemanusiaan yang Kurang Diasah.

Menurut data korban dari dewan komisaris PBB untuk HAM, total korban warga sipil adalah 18. 483. Itu belum termasuk mereka yang mengungsi ke negara lain. Dapat dibayangkan bagaimana keluarga mereka yang berpisah oleh kekejaman perang. Anak-anak yang menjadi korban, yang menurut dewan komisaris PBB untuk HAM ada 400 anak-anak yang menjadi korban meninggal akibat perang ini. 

Bayangkan saja, mereka, yang merupakan masa depan bangsa, tidak hanya Ukraina tetapi juga dunia, harus menemui ajal di Usianya yang masih muda. Padahal, mereka dapat menjadi orang-orang besar di Dunia. 400 orang itu bisa saja merupakan calon penemu teknologi, atau presiden yang mengubah dunia. Ada ratapan ibu yang melihat anaknya meregang nyawa, dan ada ratapan anak yang menyaksikan kedua orang tuanya meninggal akibat kekejaman perang.

Tentu, kita harus menaruh hati kita pada korban. Perang ini harus segera berhenti untuk mencegah dampak yang lebih jauh. Baik itu dampak materil maupun korban jiwa. Jika perang ini  terus berlanjut maka pertanyaannya adalah mau sampai berapa jumlah korban akibat perang ini? Namun, kembali lagi ke pertanyaan awal, bagaimana cara kita menghentikan perang, yang tampaknya merupakan akibat dari ketakutan dan kehausan akan kekuasaan dan wilayah? Kapan kita harus bergerak?

Memang, resiko yang dihadapi sangat besar. Akan ada banyak resiko dan konsekuensi jika kita ingin perang ini berhenti. Yang pasti, kita tidak bisa melawan peperangan dengan peperangan. 

Senjata melawan senjata, dan juga bukan menyerah. Kita harus bergerak sebagai sesama manusia, pertama-tama untuk menghentikan perang bukan untuk melihat siapa yang salah atau siapa yang benar, bukan rusia atau ukraina. Melainkan, berapa jumlah korban mereka dan dari dua negara ini telah memberikan berapa dampak. 

Jika, kita mencari siapa yang salah, maka akan tercipta dua sudut pandang, yakni : pro Rusia dan Pro Ukraina. Lalu, perang malah berlanjut alih-alih berhenti. Maka, yang pertama kita dukung adalah kemanusiaan yang terdampak. Bagaimana citra kita sebagai manusia telah tergores karena perang ini? Apa yang kita cari?

Belajar untuk Damai dari Perang Rusia-Ukraina

Sebagai sesama mahluk sosial dan juga mahluk Tuhan, sudah selayaknya kita saling membantu sama lain. Terkadang, kita tidak perlu mencari kebenaran. 

Kita tidak perlu bersusah payah mencari pro atau kontra. Namun, jika kita pandang dari sisi kemanusiaan, semua sisi akan ternilai buruk, sebab kita telah melukai martabat kita sebagai manusia karena kekuasaan. Kita sebagai manusia pun juga harus tolong menolong, patut ditebali kata 'Mahluk Sosial'. 

Dengan demikian, kita semua pada aslinya sama, dirimu laki-laki atau perempuan, berkulit putih atau hitam, beramata hitam atau biru. Apa yang membedakan kita? orang tua? Ideologi? Atau agama? Padahal, semua itu ciptaan manusia yang fungsinya memecah belah. Masakan manusia dapat dipisahkan oleh karena pengelompokan yang dilakukan oleh ilmuwan, ataupun masakan manusia dapat dipisahkan oleh karena berbeda paham ideologi? Inilah percikan-percikan yang menyalakan api konflik. Padahal, kita sama-sama manusia.

Dari perang ini , kita dapat belajar 2 makna, yaitu bagaimana kekuasaan dapat menghancurkan peradaban dan menjadi manusia yang mampu memanusiakan manusia. Kekuasaan telah membutakan mata mereka para penggerak perang. Mereka buta akan kemanusiaan, yang merupakan dampak dari perang. Kita diajak untuk menjadi manusia bagi manusia. sikap egois merupakan awal mula dari peperangan. 

Kita tidak dapat meremehkan kebiasaan buruk kita. kemanusiaan harus diasah sejak dini. Keegoisan mencipatkan perang, tidak hanya perang secara harfiah, tetapi juga perang batin. Sulit dibayangkan mereka yang merupakan dalang dari perang ini? Oleh sebab itu, mari kita refleksikan secara bersama-sama terkait perang yang terjadi di Rusia-Ukraina. Pertanyaan reflektifnya adalah apakah aku telah menjadi manusia yang sungguh-sungguh manusia, yang mampu memberikan diriku bagi sesama manusia dan menghadirkan kedamaian dalam hidupku?

Sumber :

Koran harian kompas, Senin, 20 Februari 2023

https://www.ohchr.org/en/press-releases/2023/02/turk-deplores-human-cost-russias-war-against-ukraine-verified-civilian Diakses pada 23 Februari 10.00 WIB

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun