Bioetanol telah menjadi fokus penelitian sebagai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan, terutama karena potensinya dalam mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan dampaknya yang lebih rendah terhadap lingkungan. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengeksplorasi limbah pertanian, khususnya jagung, sebagai sumber bahan baku bioetanol. Artikel ini merangkum hasil lima penelitian yang menyoroti berbagai aspek produksi bioetanol dari limbah jagung.
1. Pengaruh Massa Limbah Jagung dan Waktu Pengadukan (Muzakky & Rubianto, 2023)
Penelitian ini menunjukkan bahwa variasi massa bonggol jagung dan durasi pengadukan selama proses hidrolisis berpengaruh signifikan terhadap kadar glukosa yang dihasilkan. Kondisi optimal adalah penggunaan 25 gram limbah jagung dengan waktu pengadukan 90 menit, menghasilkan kadar glukosa sebesar 15%. Penelitian ini memperlihatkan bahwa pemanfaatan limbah jagung tidak hanya mendukung energi terbarukan tetapi juga pengelolaan limbah yang berkelanjutan.
2. Optimalisasi Fermentasi dan Berat Ragi (Chusna et al., 2024)
Fokus pada kulit jagung sebagai bahan baku, penelitian ini mengungkap bahwa produksi bioetanol tertinggi, yaitu 11%, dicapai pada hari pertama fermentasi dengan 1 gram ragi Saccharomyces cerevisiae. Selain itu, pentingnya pengaturan konsentrasi asam sulfat dan pH selama proses fermentasi menjadi sorotan utama. Penelitian ini menekankan bahwa limbah pertanian seperti kulit jagung memiliki potensi besar sebagai biomassa.
3. Modifikasi Metode Fed-Batch SSF (Zukhri et al., 2024)
Penelitian ini menawarkan inovasi dengan menggunakan ion mineral seperti PO4, Fe, dan Mg untuk meningkatkan hasil bioetanol. Modifikasi metode fed-batch Simultaneous Saccharification and Fermentation (SSF) menghasilkan bioetanol hingga 17,5%. Metode ini menunjukkan efisiensi tinggi dan relevansi terhadap tujuan keberlanjutan, terutama dalam mendukung SDGs Indonesia 2045.
4. Perbandingan Limbah Jagung dan Ampas Tahu (Yulianto et al., 2023)
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa limbah bonggol jagung lebih unggul dibandingkan ampas tahu sebagai bahan baku bioetanol. Dengan konsentrasi HSO 5%, limbah bonggol jagung menghasilkan kadar bioetanol 3,1%. Penelitian ini memperlihatkan potensi limbah pertanian lain yang dapat ditingkatkan melalui optimasi proses.
5. Implementasi Komunitas di Wuluhan, Jember (Prastika & A'yun, 2022)
Penelitian ini fokus pada implementasi skala komunitas, menunjukkan bahwa limbah tongkol jagung di Wuluhan, Jember, memiliki potensi besar untuk diolah menjadi bioetanol. Penelitian ini menekankan pentingnya edukasi masyarakat dan kolaborasi untuk mengatasi masalah lingkungan akibat pembakaran limbah pertanian.
Tantangan dan Rekomendasi
Meskipun penelitian-penelitian ini menunjukkan hasil yang menjanjikan, terdapat beberapa tantangan, seperti keterbatasan skala laboratorium, variasi bahan baku, dan proses optimasi yang memerlukan pengembangan lebih lanjut. Rekomendasi untuk penelitian berikutnya meliputi eksplorasi limbah pertanian lainnya, pengujian pada skala industri, dan peningkatan kesadaran masyarakat melalui edukasi.
Pemanfaatan limbah pertanian, khususnya limbah jagung, untuk produksi bioetanol memberikan solusi nyata terhadap tantangan energi terbarukan. Dengan inovasi teknologi dan kolaborasi lintas sektor, bioetanol dapat menjadi salah satu pilar transisi menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H