Mohon tunggu...
Bambang Setyawan
Bambang Setyawan Mohon Tunggu... Buruh - Bekerja sebagai buruh serabutan yang hidup bersahaja di Kota Salatiga

Bekerja sebagai buruh serabutan, yang hidup bersahaja di Kota Salatiga

Selanjutnya

Tutup

Vox Pop

Aksi Buruh, Tak Harus Rusuh

1 September 2015   01:11 Diperbarui: 1 September 2015   01:32 970
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="Aksi Buruh Di Jakarta (foto: dok kompas.com)"] 

 

Hari ini, Selasa (1/9) siang, rencananya puluhan ribu Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang,  dan Bekasi (Jabodetabek) bakal menggelar aksi unjuk rasa guna menentang pemutusan hubungan kerja (PHK) masal akibat lemahnya nilai tukar rupiah.

Massa buruh yang berasal dari gabungan beberapa serikat pekerja, nantinya akan mengajukan 9 tuntutan. Diantaranya : Turunkan harga barang pokok, BBM, pemerintah agar mengambil langkah antisipasi supaya tak terjadi PHK missal, menghentikan kemudahan- kemudahan masuknya tenaga kerja asing, mengembalikan daya beli dengan menaikkan upah minimum tahun 2016,memperbaiki pelayanan BPJS hingga merevisi Undang- Undang Nomor 2 Tahun 2004.

Aksi buruh yang konon bakal melibatkan sekitar 40 ribu orang ini, nantinya akan mengambil titik kumpul di Bundaran HI, selanjutnya berkonvoi menuju Istana Negara. Seperti galibnya demo buruh, dampak kegiatan tersebut, bisa dipastikan menimbulkan kemacetan di berbagai titik jalan Ibu Kota. Untuk mengantisipasinya, aparat keamanan sudah menyiapkan 11 ribu personil.

Demonstrasi secara besar- besaran yang dilakukan oleh buruh se Jabodetabek tersebut, sepertinya merupakan akumulasi kekhawatiran atas terpuruknya nilai rupiah terhadap dollar. Diduga, buruh merasa nasipnya terancam oleh PHK massal. Sebab, berdasarkan keterangan Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri, belakangan telah terjadi PHK sekitar 2500 orang.

Pengerahan buruh untuk turun ke jalan, biasanya dilakukan saat memperingati hari buruh internasional (May Day) yakni setiap tanggal 1 Mei. Sayang, agenda tahunan tersebut akhirnya ditambah, sebab, phobia atas PHK terus menerus menghantui para pimpinan buruh. Hal ini tentunya merupakan hal yang wajar, mengingat sampai sekarang pihak pemerintah masih tak berdaya mengendalikan nilai tukar rupiah.

Ada hal yang mengelitik pada diri saya (yang juga seorang buruh), apakah aksi tersebut tak bakal rusuh ? Persoalannya, buruh yang akan turun ke jalan dan mengepung Istana jumlahnya cukup besar, yaitu 40 an ribu orang. Semisal jumlahnya hanya ratusan, mungkin potensi kerusuhan relatif kecil. Lha ini, puluhan ribu orang, berkumpul serta memiliki kepentingan yang sama. Mungkinkah segala potensi kerusuhan mampu diredam ?

Kelompok Kecil

Dalam suatu kerumunan massa (crowds), maka segala sesuatunya sulit ditebak. Terlebih lagi, suhu panas Jakarta di siang hari sangat mudah memicu emosi seseorang. Ketika terpancing sedikit saja, akibatnya bisa fatal. Setiap saat, rusuh mampu meledak tanpa terkendali. Bila hal itu terjadi, siapa yang rugi ? Tentunya selain buruh sendiri, masyarakat juga dirugikan.

Ketika ribuan orang terkumpul, kiranya sangat mudah terprovokasi oleh hal- hal yang seharusnya dalam kondisi normal tak terpancing emosinya. Untuk itu, kiranya para pentolan buruh telah menyiapkan skenario antisipasinya. Jangan sampai, massa yang kepanasan, kehausan dan lapar disusupi oknum- oknum tidak bertanggung jawab.

Tanpa ada langkah- langkah kongkrit  untuk mengantisipasinya, puluhan ribu buruh itu mirip petasan besar bersumbu pendek. Terpicu sedikit, akibatnya sangat fatal. Apa lagi semisal ada pihak- pihak tertentu yang menungganginya, maka, kerusuhan jelas- jelas di depan mata. Bukan rahasia, terkadang di situasi tertentu, dilakukan operasi diam- diam (silent operation). Tujuannya, sengaja membenturkan buruh dengan penguasa.

Saya sendiri memiliki ekspektasi agar aksi buruh tak berbuah rusuh. Sedikit berbagi, sekitar tahun 2006 lalu, saya pernah menjadi koordinator lapangan sekaligus penanggung jawab aksi massa dalam jumlah sekitar 25 ribu orang. Berdasarkan informasi yang masuk, saya memperoleh adanya oknum- oknum yang menyusup dan bertujuan akan memperkeruh aksi.

Begitu menerima informasi yang bersifat A 1 (akurat) tersebut, kurang dari 15 jam menjelang aksi, seluruh koordinator kelompok saya kumpulkan. Saya perintahkan para koordinator membentuk kelompok- kelompok kecil dengan penanggung jawab 1 orang. Sedang personil dalam kelompok kecil ini maksimal 30 orang, yang terdata identitasnya. Terkait hal itu, data personil yang akan turun ke jalan harus disetorkan minimal 1 jam sebelum aksi dimulai.

Di sini saya menekankan agar setiap penanggung jawab kelompok, harus tahu persis siapa anggotanya. Begitu pun dengan personil kelompok, ia perlu mengenali orang di samping kiri dan kanannya. Hal ini saya lakukan agar mudah mengidentifikasi semisal ada yang berulah atau masuknya oknum yang tidak dikenal.

Sesuai skenario antisipasi, satu jam sebelum beraksi, seluruh data massa telah di tangan saya. Hingga pelaksanaan aksi, meski tetap saja ada pihak yang memprovokasi, namun semua berhasil dikendalikan. Tak ada benturan sedikit pun. Demikian yang bisa saya sampaikan, semoga aksi buruh hari ini tetap berlangsung mulus, aman serta damai. (*)

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Vox Pop Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun