Hadir Mengalir Merawat Negeri
Tanggapl 24 Agustus, selain merupakan hari kelahiran TVRI juga merupakan Hari Televisi Nasional. Ada pula yang menyebutnya sebagai Hari Pertelevisian Nasional---mengacu pada hari kelahiran Televisi Republik Indonesia (TVRI). Walaupun tepat 27 tahun kemudian, lahirlah sebuah stasiun televisi swasta pertama di Indonesia yang menjadi awal komersialisasi penyiaran televisi di Indonesia. Pada hari yang sama lahirlah Rajawali Citra Televisi (RCTI) disusul setahun kemudian hadir Surya Citra Televisi (SCTV). Selanjutnya televisi pun berkembang bak jamur musim hujan. Meskipun ijin siaran nasional hanya dikantongi kurang lebih 11 stasiun televisi.Â
Diantara banyaknya stasiun televisi yang kini hadir mengisi frekuensi siaran di Indonesia. Hanya LPP TVRI satu-satunya televisi yang mendapatkan alokasi anggaran APBN selain RRI tentunya. Lewat mekanisme asas Public Service Broadcasting (PSB) untuk memenuhi hak-hak publik untuk mendapatkan informasi yang benar, sehat, bermanfaat dan bermartabat. Penyiaran yang dilakukan dan dikendalikan oleh publik, untuk publik. Tidak komersial atau bebas dari campur tangan politik dan tekanan dari kekuatan komersial.
Ini menunjukkan bahwa posisi LPP TVRI masih memiliki peran penting secara sosial, politis dan budaya. Setidaknya bagi negara dalam upaya memberikan layanan informasi bagi warga negara. Betapapun maraknya media televisi dan internet yang terus bertumbuh baik jumlah maupun kualitasnya. Melalui PSB, warga diinformasikan, dididik dan juga dihibur. Ketika dijamin dengan pluralisme, keragaman program, independensi editorial, pendanaan yang sesuai, akuntabilitas dan transparansi, penyiaran layanan publik dapat berfungsi sebagai landasan demokrasi.
LPP TVRI sebagai lembaga non kementerian yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden memiliki ikatan yang kuat terhadap negara. Bagaimana tidak, LPP TVRI adalah satu-satunya televisi yang dibiayai oleh negara. Dari produksi program acara, gaji pegawai, operasional dan perawatan inventaris dan pengembangan asetnya. Tentu sebuah potensi yang tidak dimiliki boleh stasiun televisi swasta lain. Skema Publik Servis Broadcasting (PSB) diharapkan berkemanfaatan sepenuhnya kepada masyarakat, warga negara atau publik sebagai penerima manfaat.Â
Strategi Kebudayaan Media Publik
Jika pepatah mengatakan "Teori tanpa praktek adalah lumpuh. Praktek tanpa teori adalah buta." Maka Televisi pun bukan soal tafsir atau persepsi. Melainkan tindakan nyata yang berbasis pada data kebutuhan obyektif rasional terukur yang berorientasi pada hasil: input ---> proses ---> output. Proyeksi Penyiaran LPP. Televisi selayaknya mimbar kebebasan akademik, kebenaran ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan netralitas dan obyektivitasnya. Dimana unsur mewujudkan struktur dan menentukan postur sebagai sebagai sebuah program tayangan. Prasyarat pastinya, obyektif rasional netral, tidak berpihak dan imparsial. Asas Kolaboratif Masyarakat, Stakeholder, Kepemerintahan dan Negara. Menjadi prasyarat utama keberhasilan penyiaran publik membangun demokratisasi komunikasi partisipatif.
Televisi memang berkutat pada parameter indikator berbasis Content Analysis Riset, Indeks Kualitas Program, Indeks Kepuasan Masyarakat, sebagai bentuk pertanggung jawaban publik (akuntabilitas-blameworthiness). Selain juga dipahami bahwa institusi yang mampu bertahan adalah lembaga dengan corporate shared value, nilai-nilai untuk kebaikan kemanusiaan dan tanggung jawab sosial (Corporate Social Responsibility - CSR). Bukan sekedar dalam capaian rating dan share sebagaimana televisi komersil atau swasta yang menjadikan tolok ukuran utamanya adalah profit market. Karena dari parameter indikator rating share itu profit iklan akan di raup.Â
Berbeda dengan LPP TVRI jika melakukan hal yang sama dengan televisi swasta atau komersil, maka akan kehilangan daya kristisnya terhadap realitas yang tengah berlangsung di masyarakat. Bagaimana Pride (kebanggaan), Prize (penghargaan), Privilege (hak istimewa), Responsibility (tanggung jawab), Volition (kemauan) sebagai sebuah negara dan bangsa adalah tujuan utama. Sejalan konsep Nation and Character Building, atau Pembangunan Karakter Bangsa. Menjadikannya rumusan baku sebagai pegangan para jurnalis dan progaming acara pendidikan dan hiburan dalam mengembangkan perspektif materi tayangannya. Berdasarkan Luasan pengaruh (Magnitude), Kedekatan (Proximity), Aktual (Kebaruan), Dampak (Impact), Masalah kemanusiaan (Human Interest) dan Keluarbiasaan (Unusualness) yang hidup dinamis dalam realitas sosial masyarakat.Â
Menyelenggarakan kegiatan penyiaran televisi sesuai dengan prinsip-prinsip televisi publik, independen, netral, mandiri dan program siarannya senantiasa berorientasi pada kepentingan masyarakat. Tidak hanya untuk mencari keuntungan dan menyelenggarakan kegiatan usaha jasa penyiaran publik dalam bidang informasi, pendidikan, dan hiburan serta usaha-usaha terkait lainnya yang dilakukan dengan standar yang tinggi. Merupakan upaya kolektif-sistemik suatu negara kebangsaan untuk mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang sesuai dengan dasar dan ideologi, konstitusi, haluan negara, serta potensi kolektifnya dalam konteks kehidupan nasional, regional, dan global .
Melalui dukungan kekayaan seni budaya, diversitas etnis dan sosial sebagai sumber inspirasi, hal tersebut menjadi kunci kesuksesan program. Berbagai program era ini, diminati pemirsa, sebab mencerminkan pembangunan bangsa atau 'nation and character building'. Sebagaimana dahulu TVRI berjaya dengan programnya yang selalu dinanti pemirsa. Dunia Dalam Berita, Drama Series, Sinetron Film Televisi, Kuis Gimmick, Konsultasi Kesehatan, Kerohanian, Dokumenter, Sastra Seni Budaya. Yang kesemuanya berbasis pada pengembangan siasat kebudayaan.Â