Hal yang sama juga sempat terjadi di Indonesia, ketika film Indonesia benar-benar matisuri. Lalu sindikasi sineas muda yang kemudian melahirkan film Kuldesak (1998). Kerja keroyokan beberapa film maker muda itu cukup inspiratif menggugah semangat memproduksi film dalam negeri sampai hari ini.
Gantian kemudian Pandemi Covid-19 menghentikan gairah bisnis gambar bergerak. Bagaimana tidak, jika untuk mencapai BEP cost produksi tidak lagi mudah.
Tentu ini soal yang harus dijawab kemudian secara serius. Meyakinkan penonton agar mau datang ke bioskop, belum lagi protokol kesehatan yang harus meminalisir kapasitas kursi gedung. Rasa-rasanya untuk menghabiskan sebuah film menjadi box-office pun butuh prasyarat perhitungan baru.
Sebelum Covid-19 saja, banyak yang masih menyandang kesulitan, untuk survive tiap hari saja harus mau jungkir balik, termasuk membalikkan kenyataan biar tetap tampak gagah dan mempesona. Antara yang berhutang dan dihutangi, bisa saling toleransi. Ada speleng margin untuk memberi kelonggaran pada yang berutang.
Tapi kini, semua membutuhkan, karena situasi yang sulit, stack berhenti. Gulung lipat nir pendapatan. Wajarlah kalau harus menagih. Mungkin itu pulalah yang menjadi alasan mengapa salah satu kriteria bisnis tontonan harus contentable. Meskipun ekspresinya bisa macam-macam, sesuai dengann perspektifnya sendiri-sendiri. Begitulah New Normal menuntut penyikapan untuk melakukan reformating seluruh aspek yang terkait.
"Evolusi Ekologi" media yang ditandai dengan transisi masyarakat dari pengguna media lama (old media) menjadi pengakses media baru (new media) menuntut adaptasi dan intervensi. Jika tidak ingin hanya menjadi buih yang melompat dari arus ke arus berikutnya, "viral" ke 'viral', dari trending ke trending, dari "isu" ke 'isu', dari "aktual" ke 'aktual', dari "update" ke 'update', dari "up-to-date" ke 'up-to-date', dan lupa mengingat ada berapa sudah patahan riak gelombang dilewati, kecuali nanti mengharamkan jejak digital. Begitulah era digital yang serba cepat dan instan.Â
Popularitas memang sedang menjadi arus keutamaan. Kualitas kadang seolah mustahil diperdebatkan ulang, tak usahlah gegabah menyebutnya sebagai degradasi atau reduksi. Masih ingat kan, ini mazhabnya kebenaran pascakebenaran, post truth, pemegang otoritas dialah penentuannya. Kuasa dominan itu. Faktanya kembali pada soal di atas, pegiat medsos netizen sekali lagi tengah menjadi orientasi tujuan sasaran sekaligus goalnya. Toh mereka juga representasi penerima manfaat atas nama publik.
Bukanlah tabu jika untuk melakukan upgrading. Sebuah karya film penting disiapkan pula alokasi plafon beaya promosi pemasaran. Jikalau dipandang perlu marketing buzz-nya. Namanya juga buzz promotions sekalian Stealth Marketing. Menjajagi interaksi persuasi, kemungkinan dialektika, bukan sekedar pencitraan, menginformasikan, mensosialisasikan, memahamkan, sebagai sebuah proses internalisasi.
Di ranah pasar, publik hanyalah obyek, selayaknya riak buih yang digerus arus komersialisasi dan konsumerisme. Bagaimana pun melawan tetap harus mau hanyut, tenggelam atau minggir tersisih. Industrialisasi, materialisme dan kapitalisme itu esensi sesungguhnya, bukan kesepakatan terminologis, tetapi memang 'basic want' dari hampir kebanyakan insan. Jika dijamakkan menjadi seolah 'public need' yang kemudian diargumentasikan secara persuasi di ruang interval dialektika.
Benar yang dimaui para nitezen, konten digital itu kaidahnya gak rumit-rumit amat. Sederhana, ringan, ringkas, padat, mudah dipahami, unik, aneh, lucu, segar, lucu-lucuan, mengena, menampilkan kebaruan, inovatif, alternatif baru, dan mengandung ikatan-ikatan sosial yang kuat supaya mudah populer, ringkasan evergreen. Lalu apakah kemudian citra film pendek dikemudian hari hanya akan seperti itu?
Tentu sangat tergantung para pelaku, film maker independen itu sendiri. Merekalah pemilik sah sejarah dan masa depan film selanjutnya, di tengah gempuran berbagai persoalan yang tidak sederhana lagi.