Mohon tunggu...
Baizul Zaman
Baizul Zaman Mohon Tunggu... Dosen - -

lahir di pulau Muna, Desa Pure, Kelurahan Labunia, Tahun 1988. Setelah tamat Sekolah di SMA 2 RAHA, saya melanjutkan kuliah di STMIK Dipanegara Makassar sampai tahun 2010. Tahun 2013 melanjutkan Studi S2 Bidang Teknik Informatika Universitas Hasanuddin.

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Pilihan

Saat Satelit Telkom 3S Bisa Menjangkau Seluruh Nusantara, Disitu Saya Mulai Merasa Bahagia

28 Februari 2017   22:59 Diperbarui: 1 Maret 2017   08:00 382
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber Gambar. www.BUMN.go.id

Pada suatu waktu saya menonton video lucu yang diperankan oleh kelompok lawak dari Papua. Video itu menceritakan kisah seorang pace-pace dari pedalaman Papua yang datang ke kota untuk membeli handphone. Namun, beberapa hari setelah handphone tersebut dibeli, pace-pace itu datang kembali ke kota menemui si penjual untuk mengembalikan handphone yang sudah dibelinya.

Pace-pace itu merasa tertipu dan menganggap handphone itu palsu karena tidak bisa berfungsi dengan baik di daerahnya. Si penjual pun memberikan penjelasan bahwa handphone itu asli. Ia tidak berfungsi karena di tempat pace-pace itu tinggal tidak ada jaringan telekomunikasi.

Bagi sebagian orang yang sudah menonton video yang singkat ini mungkin hanya akan menganggapnya sebagai lucu-lucuan semata. Namun, kalau kita menyadarinya, sesungguhnya apa yang diceritakan dalam video tersebut tentang tidak adanya jaringan telekomunikasi di daerah pedalaman Papua adalah sebuah kenyataan yang juga sama adanya dengan daerah-daerah lain khususnya daerah 3T (terluar, terpencil, terdepan) di negeri ini.

***

Bulan Oktober 2015 saya mendaftarkan diri sebagai relawan pengajar Kelas Inspirasi yang diselenggaran di Kabupaten Kepulauan Selayar. Pada waktu itu, saya mendapatkan lokasi mengajar di Pulau tarupa. Pulau ini ditempuh dalam waktu 8 jam perjalan menggunakan perahu nelayan dari Kota Benteng, Kepulauan Selayar.

Di pulau Tarupa yang luasnya tidak lebih dari dua kali lapangan bola ini terdapat sebuah sekolah dasar dengan jumlah murid yang cukup banyak. Di sekolah inilah kemudian saya mendapatkan tugas untuk memberikan pembelajaran. Saya mengajarkan mereka banyak hal, khususnya yang berkaitan dengan latar belakang keilmuan saya sebagai sarjana komputer.

Di sekolah itu saya melihat betapa semangat dan antusiasnya anak-anak tersebut untuk belajar dan mendengarkan banyak hal saya. Saya pun berpikir, seandainya saja mereka bisa mengakses internet, mungkin saja mereka bisa lebih antusias lagi dalam belajar. Namun, harapan saya pada waktu itu tidak bisa terwujud. Karena di pulau yang jaraknya sangat jauh dari kota itu tidak ada jaringan telekomunikasi, sehingga untuk mengakses internet sulit untuk dilakukan.

Keadaan yang sama juga saya saksikan pada saat berkunjung di Pulau Sabalana Kabupaten pangkep, Sulawesi Selatan pada tahun 2009. Dengan Jarak tempuh selama 25 jam dari dermaga Poetere Kota Makassar,  maka di Pulau ini jangankan untuk mengakses internet, perangkat komunikasi seluler pun tidak bisa digunakan sama sekali. Saat berada disana, rasanya seperti berada di dunia lain. Tidak ada informasi yang bisa diakses.

Realitas ini sungguh sangat ironi. Seharusnya, di abad ke-21 ini fasilitas telekomunikasi sudah menjangkau seluruh pelosok tanah air dari sabang merauke. Dari miangas sampai pulau rote. Namun pada kenyataanya, masih jauh panggang dari api. Prasarana telekomunikasi yang ada masih sangat memprihatinkan.

Padahal, kalau kita bandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia, justru pada pertengahan tahun 80-an semua daerahnya dari ujung ke ujung sudah tersambung dengan prasarana telekomunikasi. Begitu juga halnya dengan negara Thailand yang sudah lebih dari 10 tahun semua daerahnya juga sudah terakses telekomunikasi.

Tentu hal ini sangat mengkhawatirkan. Apalagi saat ini kita tengah memasuki era pasar bebas dimana keberadaan jaringan telekomunikasi menjadi hal wajib yang harus tersedia. Tanpa adanya jaringan telekomunikasi yang memadai maka tentu mustahil bagi bangsa ini untuk bisa bangkit dan berkembang apalagi bisa bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Kita akan jauh tertinggal. Kita tidak akan pernah bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan hanya akan menjadi pasar bagi negara-negara lain.

ADA HARAPAN UNTUK BISA LEBIH BAIK


Bertepatan dengan pelaksanaan Pilkada serentak pada hari rabu tanggal 15 Februari 2017, satelit Telkom 3S berhasil diluncurkan tanpa kendala dari fasilitas peluncuran roket Guiana Space Center, kota Kourou, Guyana Prancis. Saya menilai, peristiwa ini semakin menegaskan bahwa bangsa kita sedang berproses menuju ke arah yang lebih baik.

Kehadiran satelit ini tentu saja menjadi hadiah terindah bagi mereka yang tinggal di daerah-daerah terluar, terpencil dan terdepan yang ada di negeri ini. Pasalnya, sudah begitu lama mereka yang tinggal di daerah-daerah 3T ini terisolasi dengan dunia luar. Karena minimnya jaringan telekomunikasi, maka mereka kesulitan membangun komunikasi atau mengakses informasi dari dunia luar. Sehingga, mereka juga sulit untuk memahami seperti apa kondisi bangsa ini.

Oleh karena itu, sebagai negara yang terdiri dari ribuan pulau dengan struktur geografis yang tidak biasa, tentu saja keberadaan sistem komunikasi satelit ini sangatlah menguntungkan bagi bangsa kita. Dengan jangkauanya yang begitu luas yakni bisa meliputi seluruh pelosok tanah air dan bahkan wilayah Asia Tenggara serta Asia Timur maka kedepanya bisa dipastikan daerah-daerah 3T sudah bisa mengakses internet ataupun menggunakan komunikasi selular . Dengan demikian maka mereka tidak akan lagi terkungkung dengna keadaan karena akses informasi sudah bisa didapatkan dengan mudah.

***

Pada akhirnya, ada kebahagiaan yang timbul dalam diri saya. Saya sudah membayangkan, jika nanti tiba saatnya untuk kembali mengunjungi pulau-pulau itu sebagai relawan pengajar, saya berharap sudah bisa mengajak anak-anak yang ada disana untuk mengkases ilmu pengetahuan melalui internet. Pada saat yang bersamaan pula, lewat internet saya akan membuka wawasan mereka agar bisa memahami bahwa bangsa Indonesia tempat mereka berpijak saat ini adalah bangsa yang besar dan majemuk, terdiri dari ribuan pulau, ribuan suku, ragam warna kulit, ragam budaya dan agama. Untuk itu, dengan kemajemukan ini maka sudah menjadi kewajiban bagi setiap anak bangsa agar saling menghormati, saling menjaga satu sama lain. Dengan demikian maka keutuhan bangsa ini bisa tetap terjaga sampai kapan pun. Semoga.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun