"Persoalan literasi kita saat ini bukan pada bisa atau tidaknya kita membaca atau menulis, tetapi mau atau tidaknya kita membaca atau menulis" - Alvin Toffler.
Seperti halnya tulisan di Kompas.com beberapa waktu lalu yang menuliskan tentang rendahnya minat baca kita di Indonesia yang baru mencapai 0,001 berdasarkan rilis indeks minat baca dari UNESCO tahun 2012. Hal ini berarti di setiap 1000 orang hanya ada satu orang yang punya minat baca. Akan tetapi pemerolehan dan penilaian indeks tersebut nampaknya bisa dibantah, sebab tidak tertera kriteria jelas tentang penilaian tersebut.
Mengapa demikian, sebab gerakan-gerakan literasi di Indonesia sudah memulai geliatnya dengan menyediakan perpustakaan kampung, Perpustakaan keliling, atau bahkan gerakan yang afiliasinya sebagai distributor untuk donasi buku (salah satunya Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara). Namun karena dukungan dalam bentuk bahan bacaan atau pendanaan, pun gerakan tersebut hanya berputar di porosnya saja.
Dan sepertinya pagi tadi geliat minat baca yang rendah perlahan mulai terbantahkan, sejak tanggal 8 September 2016 marak tersebar di beberapa Grup media sosial bahwa gudang penyimpanan Gramedia yang ada di Yogyakarta mengadakan "Hutan Buku" dengan kisaran harga mulai Rp. 5.000-an perbuku, dan agendanya pelelangan buku tersebut akan berakhir pada 30 Sepetember.
Bahkan dengan Heroiknya iklan-iklan yang tersebar mengatakan " Gramedia mengadakan Hutan Buku, dari pada buku tersebut dimusnahkan, maka dilelang untuk umum dengan kisaran harga mulai 5.000-an, yang berlokasi di gudang penyimpanan Gramedia Jl. Tajem, No. 197, Maguwoharjo, Depok, Sleman".

Antrian di gerbang kedua ini pun harus sabar sebab mereka hanya bisa masuk ketika pengunjung yang sudah di dalam gudang keluar. Alasan dari penyelenggara membatasi jumlah pengunjung yang masuk karena gudang tersebut bawahnya hanya dihamparkan papan sebagai alas, padahal jika ditinjau dengan kapasitas pengunjung yang sangat membludak tersebut bisa saja bukunya dihamparkan di halaman gudang yang cukup luas dan pastinya bisa menampung sekian banyak pengunjung.

Kembali ke konteks hegemonik yang mengatakan minat baca kita rendah, di setiap ada pameran buku dengan harga miring pasti selalu banjir pengunjung. Terlebih Gramedia yang dengan branding-nya menerbitkan karya-karya terbaik dan dengan harga yang biasanya selalu lebih tinggi, kini menggiring persepsi publik untuk ramai mengunjungi Gramedia dengan pelelangan harga miring untuk buku-buku yang digudang mereka. Dan ternyata kejadiannya seperti pagi tadi banyak pengunjung yang kecewa, sebab mereka membatasi pengunjung yang boleh masuk dengan alasan keamanan gudang dan kenyamanan pengunjung. Siapa pun tidak akan nyaman untuk antri sepadat itu, terlebih mereka akan membeli, bukan antri untuk dibagikan.
Beberapa pengunjung yang baru keluar dengan tentengan plastik besar mereka semakin membuat iri pengunjung yang hanya melongo di depan gerbang pertama. Bahkan salah seorang Ibu-ibu mencoba bernegosiasi dengan pengunjung yang baru keluar tersebut bahwa dia berani membeli buku-buku tersebut dengan harga 15 ribu perbuku, namun ditolak olehnya. Lalu apa sebenarnya tujuan Gramedia mengadakan pelelangan buku namun membatasi jumlah pengunjung, tidak lain hanyalah untuk mengangkat brand Gramedia di antara pesaing toko-toko buku yang lainnya, bahwa mereka sudah bisa memperalat persepsi publik yang biasanya jarang membeli buku di Gramedia sebab harga yang cukup tinggi, perlahan digiring untuk menilai Gramedia dengan stok buku terlengkap kini beranjak memberikan harga murah.
Jika benar mereka mengadakan pelelangan buku sebab gudang yang akan dijadikan warehouse, sepertinya alasan mereka tentang keamanan gudang dan kenyamanan pengunjung tidak rasional seandainya mereka ingin buku-buku tersebut cepat laku. Dengan jumlah pengunjung yang mencapai 600-an jika degelar di halaman depan gudang sepertinya tidak sampai 30 September pun bisa saja buku tersebut habis semua, atau jika tidak laku semua, masih banyak gerakan-gerakan literasi, perpustakaan warga, sekolah terpencil, yang sangat membutuhkan bahan bacaan, lalu dengan teganya mereka menyebar iklan "dari pada bukunya dimusnahkan, mending dibeli saja dengan harga serba 5.000-an".

Harga Murah Sebagai Iming-iming
Konsep "hutan buku" yang diusung mereka sudah berhasil menggiring persepsi publik bahwa buku yang dilelang tersebut dengan mudahnya dapat diakses pengunjung sebagaimana halnya pameran-pameran buku yang lain, namun kenyataannya berbeda ketika sampai di lokasi.
Sementara pengunjung berpanas-panasan antri di depan gerbang, pihak pengelola merasa bangga telah berhasil mengawasi situasi bagaimana sistem penjualan mereka ke depan dengan melihat jumlah pengunjung yang rela antri untuk membeli buku-buku mereka. Pengunjung gerbang kedua yang sudah antri lama itu pun tidak ada jaminan untuk mereka semua bisa masuk ke gudang, sebab durasi waktu yang hanya sampai pukul 15.00, dan pengunjung yang di dalam gudang belum tentu bisa sampai 1 jam atau 2 jam langsung keluar dengan belanjaan mereka, mesti memilih buku-buku terbaik yang mereka inginkan, apalagi dengan pemikiran "mumpung harga murah".

Pengunjung yang sudah masuk di dalam gudang sepertinya tidak berpikir bahwa pengunjung yang di gerbang kedua menunggu mereka keluar baru dapat masuk. Padahal terik mentari semakin menyengat, namun karena mereka diiming-imingi harga murah dan sudah berada di gerbang kedua, mereka harus sabar, jika tidak mau kesia-siaan sudah menunggu lama namun tak dapat masuk, sementara waktu terus beranjak.
Gramedia dengan brandingnya sebagai stokist buku terlengkap, dan dengan buku terbaru cepat terdistribusi di sana telah berhasil mempecundangi pengunjung dengan antri yang panjang, dan dengan iming-iming harga murah berhasil membangun hegemonik kepada publik bahwa mereka mencoba mendukung pertumbuhan minat baca. Padahal minat baca kita yang rendah bukan hanya karena kita tidak mau membaca, tetapi ketersediaan bahan bacaan itu pun salah satu permasalahan terbesar yang harus dihadapi.
Buktinya banyak pengunjung ketika diiming-imingi harga murah, sebab banyak yang tidak mampu untuk membeli buku yang ter-komersialisasi dengan harga tinggi, terlebih di kalangan mahasiswa, harga satu buku di gramedia bisa saja dimanfaatkan untuk “penyambung Hidup” selama beberapa hari. Lalu akses untuk peminjaman buku di perpustakan pun sepertinya belum ada kemudahan dengan procedural mereka yang njelimet.
Dan akhirnya bukan hanya minat baca rendah yang dihadapi, problematika ketersediaan bahan bacaan perlu untuk mendapat perhatian lebih. (Baim Lc, 10/09/16)
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana. Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI