Pengaruh Gadget terhadap Minat Baca Siswa: Dilema di Era Digital
Oleh: Dr. Sarah Amelia, M.Pd (Pengamat Pendidikan dan Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan)
Era digital telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam hal kebiasaan membaca di kalangan siswa. Kehadiran gadget dengan berbagai fitur menariknya telah menciptakan paradigma baru dalam cara siswa mengakses dan memproses informasi. Namun, di balik kemudahan dan kecepatan akses informasi yang ditawarkan, terdapat kekhawatiran serius mengenai menurunnya minat baca konvensional di kalangan pelajar.
Transformasi Pola Membaca di Era Digital
Dalam dekade terakhir, kita menyaksikan pergeseran dramatis dari membaca buku fisik menuju konten digital. Siswa masa kini lebih sering berinteraksi dengan layar gadget dibandingkan dengan halaman buku. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Kemendikbudristek (2023), rata-rata waktu yang dihabiskan siswa SMP dan SMA untuk menggunakan gadget mencapai 6-8 jam per hari, sementara waktu membaca buku non-pelajaran hanya berkisar 30 menit per hari.
Fenomena ini membawa dampak ganda. Di satu sisi, akses terhadap informasi menjadi lebih mudah dan cepat. Siswa dapat menemukan berbagai referensi pembelajaran dalam hitungan detik melalui mesin pencari. Namun di sisi lain, kemudahan ini seringkali mengurangi kemampuan siswa dalam melakukan pembacaan mendalam (deep reading) dan analisis kritis terhadap suatu teks.
Implikasi terhadap Kualitas Literasi
Penggunaan gadget yang berlebihan telah menciptakan fenomena "snacking content", di mana siswa cenderung mengonsumsi informasi secara sepotong-sepotong dan dangkal. Dr. Ahmad Syafii dalam penelitiannya "Literasi Digital dan Dampaknya terhadap Perkembangan Kognitif Remaja" (2024) mengungkapkan bahwa 75% siswa mengalami kesulitan ketika harus membaca teks panjang dan kompleks karena terbiasa dengan konten singkat di media sosial.
Kondisi ini diperparah dengan maraknya konten-konten entertainment yang mengalihkan perhatian siswa dari aktivitas membaca. Games online, media sosial, dan platform streaming video menawarkan stimulus yang lebih menarik dan instant dibandingkan dengan membaca buku. Akibatnya, siswa kehilangan kesabaran dan konsentrasi yang dibutuhkan untuk memahami bacaan secara mendalam.
Solusi dan Langkah Strategis
Menghadapi tantangan ini, diperlukan pendekatan komprehensif yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Prof. Dr. Siti Nurhaliza dalam bukunya "Revolusi Literasi di Era Digital" (2024) menekankan pentingnya "digital literacy balance", yaitu keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan pemeliharaan kebiasaan membaca konvensional.