Raka menatap lilin itu lagi, kali ini dengan perasaan berbeda. "Tapi dia akan habis, kan ? Akhirnya lilin itu tetap akan mati."
Lia tertawa kecil. "Itu benar. Tapi bukankah semua hal di dunia ini punya akhirnya ? Lilin itu tidak berpikir soal habis atau tidaknya. Yang dia pikirkan hanyalah bagaimana dia bisa bermanfaat selama dia masih menyala."
Kata-kata itu menampar Raka seperti hujan deras yang membangunkan orang dari tidur panjang. Dia terdiam, merenung.
Seminggu setelah pertemuan itu, Raka mencoba melangkah lagi. Ia mulai mencari pekerjaan baru, kali ini dengan lebih tekun. Meskipun tawaran yang datang hanyalah pekerjaan kecil sebagai penjaga toko, ia menerimanya tanpa ragu.
Setiap malam, ia teringat lilin itu---bagaimana benda kecil itu mampu memberikan terang di tengah kegelapan. Ia mulai melihat hidupnya seperti lilin: kecil, rapuh, tapi punya potensi untuk memberi arti.
Sementara itu, hubungan Raka dan Lia semakin dekat. Mereka sering berbincang di malam hari, berbagi cerita tentang mimpi dan perjuangan masing-masing. Lia mengajarkan Raka cara menyusun CV yang lebih menarik, sementara Raka sering membantu Lia mengedit tugas akhir.
Hingga suatu malam, saat lilin di meja Raka kembali menyala, Lia berkata, "Mas, kamu tahu nggak ? Kadang lilin juga butuh nyala dari lilin lain."
Raka menatapnya, bingung. "Apa maksudmu ?"
Lia tersenyum, lembut tapi penuh arti. "Kita nggak harus selalu berjuang sendirian. Kadang, saling membantu justru membuat nyala kita lebih kuat."
Setahun kemudian, Raka sudah menjadi supervisor di sebuah minimarket. Ia tak lagi terlambat, tak lagi mengeluh soal perjalanan, dan hidupnya kini lebih terarah. Di kamarnya, lilin kecil itu masih ada---sekarang dalam keadaan tidak menyala, tapi selalu menjadi pengingat tentang titik balik hidupnya.
Dan Lia ? Dia lulus dengan predikat terbaik dan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studinya ke luar negeri. Sebelum pergi, ia meninggalkan sebuah pesan di meja Raka :
"Lilin kecil itu hanya bisa menerangi satu kamar. Tapi dengan cukup keberanian, nyalanya bisa menjadi mercusuar yang menerangi seluruh lautan. Jangan pernah padam, Mas Raka."