Mohon tunggu...
Azaria Fernanda
Azaria Fernanda Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Saya menyukai hal asik dan juga menantang, jika itu menantang tapi tidak asik maka saya tidak suka.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Netizen Indonesia Malas Membaca!

18 Juli 2024   19:27 Diperbarui: 18 Juli 2024   19:45 50
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Oleh:

Azaria Fernanda dan Iyan Sofyan

(Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris dan Dosen PG PAUD

Universitas Ahmad Dahlan)

Data menunjukkan bahwa literasi di Indonesia masih perlu ditingkatkan. Hal tersebut dilihat dari hasil Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2022 yang dirilis oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada selasa (5/12), yang mengatakan bahwa hasil menunjukkan peringkat hasil belajar literasi Indonesia mengalami peningkatan 5 sampai 6 posisi dibanding PISA 2018. 

Namun, skor literasi membaca yang didapatkan di Indonesia hanya sebesar 359 poin pada tahun 2022. Nilai tersebut tercatat lebih rendah dibanding tahun 2018 yang memiliki skor sebesar 371 poin. Hal tersebut menjadikan skor literasi 2022 Indonesia sebagai ini merupakan rekor terendah sejak awal berpartisipasi dalam PISA (Sumber: Kompasiana,2024).

Warga Indonesia memiliki minat baca yang sangat rendah, hal itu terbukti dari pernyataan di atas yang dimana pada tahun 2022, Indonesia meraih skor paling rendah pada tahun tersebut. Sampai saat ini pun masih banyak masyarakat Indonesia yang malas membaca terlebih beberapa tahun yang lalu dunia digemparkan oleh pandemi yang berlangsung kurang lebih 3 tahun, hal tersebut yang seharusnya menjadikan masyarakat Indonesia lebih memiliki banyak waktu luang di rumah untuk membaca tetapi kebanyakan masyarakat malah bermalas-malasan, dan itu terbukti dari menurunnya kemampuan akademis di Indonesia. 

Meskipun era digital membawa kemudahan akses informasi, tetapi minat baca masyarakat menjadi menurun. Untuk menyelesaikan masalah tersebut, masyarakat dapat melakukan kegiatan-kegiatan yang bisa meningkatkan kemampuan literasi masyarakat, seperti membaca buku, membaca majalah, membaca koran, dan lain-lain. Ajarkanlah kepada anak-anak kebiasaan untuk membaca buku, karena hal itu sangat penting untuk mengasah kemampuannya di masa depan.

Pendidikan di Indonesia masih sangat jauh dari kata bagus, masih banyak sekolah di daerah terpencil dengan sumber daya terbatas tidak memiliki fasilitas dan sumber daya yang memadai untuk pengembangan literasi. Sekolah di daerah terpencil membuat guru-guru kebingungan untuk mengembangkan literasi muridnya, dikarenakan keterbatasan dana sekolah yang membuat sekolah tersebut tidak bisa membeli bahan bacaan. 

Masalah lain pun muncul, dengan posisi sekolah yang letaknya jauh dari perkotaan, membuat mereka sulit memiliki akses untuk pergi ke perpustakaan umun, inilah yang membuat pendidikan di Indonesia masih belum memadai. Upaya untuk menanggulangi masalah tersebut yaitu, sebaiknya pemerintah pusat maupun daerah turut membantu sekolah-sekolah terpencil, dengan cara mendonasikan buku sebagai bahan bacaan, membuat akses menuju perpustakan agar lebih mudah ataupun membangun perpustakaan di dekat sekolah tersebut.

Kalaupun minat baca di Indonesia sudah sangat meningkat masyarakat memiliki masalah lain, yaitu keterbatasan bahan bacaan. Di Indonesia tempat seperti perpustakaan umum sangatlah sedikit, tidak semua tempat memilikinya, bahkan untuk perpustakaan di sekolah pun tidak selalu layak disebut perpustakaan, dikarenakan buku yang berada di perpustakaan tersebut sangatlah sedikit.

 Memang di Indonesia sudah banyak toko buku yang sudah lengkap isinya, tetapi tidak semua orang di Indonesia memiliki ekonomi yang mencukupi untuk membeli sebuah buku. Masyarakat dengan ekonomi yang kurang memadai, walaupun minat baca mereka tinggi tetapi kalau dia tidak bisa membeli buku tersebut, maka dia tidak akan bisa membaca apaun. Maka dari itu perbanyaklah perpustakaan umum di Indonesia agar masyarakat yang berada di tempat terpencil sekalipun bisa memiliki akses untuk membaca buku.

Upaya untuk menangani masalah literasi, negara dan pemerintah daerah memiliki peran yang sangat penting, seperti menerbitkan banyak buku di Indonesia. Karena banyak penulis di Indonesia yang berpotensi memiliki karya tulis yang luar biasa, namun terhalang oleh ekonomi nya yang terbatas, negara bisa membantu para penulis untuk menerbitkan karya tulis mereka, semakin banyak penulis di Indonesia maka semakin banyak pula buku yang bisa hadir di Indonesia. 

Negara dan influencer memiliki peran yang penting untuk menggait masyarakat Indonesia agar mereka mau membaca, karena masyarakat memerlukan dorongan untuk membaca dari orang-orang yang mereka percayai. Terlebih untuk influencer di Indonesia, mereka bisa membuat program edukasi untuk para penggemarnya, karena mereka biasanya akan mengikuti apa yang idolanya lakukan.

Upaya dalam menghadapi krisis literasi ini, kolaborasi dari berbagai pihak seperti akademisi, penulis, dan penerbit sangatlah diperlukan. Maka dari itu masyarakat Indonesia harus bekerja sama dalam meningkatakan krisis literasi ini dengan cara menumbuhkan minat baca masyarakat, membangun fasilitas untuk membaca, dan saling menasehati sesama warga Indonesia untuk selalu membaca. Upaya-upaya tersebut bisa meningkatkan literasi masyarakat dan meningkatkan pengetahuan masyarakat Indonesia. Mari wujudkan hal tersebut untuk masa depan yang lebih cerah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun