Mohon tunggu...
Ika Ayra
Ika Ayra Mohon Tunggu... Penulis - Penulis cerpen

Antologi cerpen: A Book with Hundred Colors of Story (jilid 1) dan Sewindu dalam Kota Cerita

Selanjutnya

Tutup

Foodie Pilihan

Lempeng Pisang, Kudapan Khas Banjarmasin

25 Januari 2022   12:24 Diperbarui: 25 Januari 2022   12:30 1194
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi cara membuat lempeng pisang|foto: kolase dokpri

Sekilas mengenal Banjarmasin

Banjarmasin adalah ibu kota Kalimantan Selatan. Nama Banjarmasin sendiri tidak lepas dari pendiri kerajaan Banjar yaitu Patih Masih. Pada waktu itu Belanda menyebutnya Bandzermash. Sesudah tahun 1664, penyebutannya menjadi Bandjarmassin. Lalu pada pertengahan abad 19, Jepang menyebut Bandjarmasin. Akhirnya disesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia menjadi Banjarmasin seperti yang dikenal sekarang.

Atmosfer kehidupan yang heterogen atau banyak suku, tidak menghilangkan ciri kehidupan masyarakatnya yang khas. Kegiatan tradisional yang merupakan mata pencaharian seperti memancing ikan di sungai (maunjun), berkebun semangka dan gumbili/ubi, bersawah (bahuma), berdagang, serta membuat kerajinan tangan, masih bertahan di kota berjuluk seribu sungai ini. 

Kuliner khas Banjarmasin

Jika Sahabat pernah mendengar keunikan pasar terapung sungai Kuin Barito, kerajinan kain sarung sasirangan, anyaman purun, belum lengkap rasanya tanpa mengenal kuliner khas dari Banjarmasin, bukan?

Selain kue talam yang manis, masih banyak pula kudapan lain yang asyik dinikmati bersama keluarga. Salah satunya saya rekomendasikan sebagai kue sederhana Widz dengan lima bahan dasar saja. 

Datuk-datuk kami biasa menambahkan santan ataupun parutan kelapa mengkal atau suwiran nangka manis. Namun resep ini dapat pula dimodifikasi dengan topping lain seperti cokelat, keju, atau kismis. Tidak heran, usaha seperti ini masih ada yang melakoni di daerah asalnya sana. Peminatnya seluruh lapisan masyarakat termasuk dari warga pendatang.

Meski berdarah Makassar, ketiga anak saya juga sangat menyukai penganan tradisional ini. Kali ini mereka request parutan keju yang banyak. Mmm, yuk kita langsung membuatnya.

Lempeng pisang topping keju parut

Ilustrasi lima bahan untuk membuat lempeng pisang|foto: dokpri
Ilustrasi lima bahan untuk membuat lempeng pisang|foto: dokpri

Bahan yang dibutuhkan:

  • 10 buah pisang raja, boleh pisang kepok, ambon atau mauli. Namun keunggulan pisang raja memberi aroma wangi dan mengurangi penggunaan gula
  • 200 gr tepung terigu
  • 100 gr gula pasir, atau sesuai selera
  • 100 gr keju cheddar, parut
  • Secukupnya margarin sebagai ganti minyak goreng sekaligus perasa asin

Cara membuat:

Ilustrasi cara membuat lempeng pisang|foto: kolase dokpri
Ilustrasi cara membuat lempeng pisang|foto: kolase dokpri
  • Kupas dan potong-potong pisang. Boleh juga dilumatkan dengan bagian bawah gelas/botol kaca
  • Tambahkan tepung terigu protein sedang, gula pasir (boleh juga gula aren yang sudah disisir). Aduk rata.
  • Panaskan teflon, masukkan margarin secukupnya
  • Masukkan adonan secukupnya, ratakan. Masak dengan api kecil.
  • Bila adonan mulai wangi dan kering, balik dengan bantuan spatula dan garpu. Setelah beberapa saat dan matang, angkat dan sajikan bersama topping yang disukai

Nah, mudah bukan? Hanya sekali proses memasak yang artinya menghemat pemakaian bahan bakar. 

Dengan sepuluh buah pisang raja ukuran sedang, saya menjadikan lima lempengan atau lima porsi. 

Kudapan ini enak dinikmati selagi hangat. Bisa untuk sarapan pagi ataupun teman minum teh sore hari.

Bagi yang tidak suka keju, boleh mengganti dengan taburan cokelat chocochips ataupun kismis sebelum adonan matang.

Jika ingin menikmati resep asli, cukup tambahkan parutan kelapa mengkal atau suwiran nangka manis. 

Filosofi kue lempeng pisang

Tidak secuma enak di lidah, kue tradisional ini mempunyai filosofi yang menarik. Penasaran?

  • sebagai tanda syukur karena semua bahan (pisang, nangka, kelapa muda) didapat dari hasil berkebun sebagai rezeki dari Sang Pencipta
  • mengingatkan akan kuwitan (orang tua) yang selalu berusaha menyajikan santapan bagi anak-anaknya meski sangat sederhana
  • mengikat rasa persaudaraan dan kebersamaan karena selalu menikmatinya bersama seluruh anggota keluarga
  • membiasakan hidup sehat dengan makanan olahan sendiri (bukan pabrik) yang artinya tanpa pengawet dan pemanis buatan
  • menimbulkan kecintaan pada kampung halaman yang subur dengan berbagai hasil kebun, salah satunya pisang

Ilustrasi lempeng pisang topping keju parut|foto: dokpri
Ilustrasi lempeng pisang topping keju parut|foto: dokpri

Bagi kami, anak-anak suku Banjar, kemanapun pergi merantau, kuliner khas Banjarmasin akan selalu menimbulkan kerinduan akan kampung halaman. 

Baca juga kuliner khas Banjarmasin: Tumis Tudai, Resep praktis Pengundang Selera

Tumis Sulur Keladi, Menu Sedap ala Kampung Saya

Maraknya camilan kekinian tak serta-merta mengalahkan kenangan bersama keluarga saat menikmati makanan khas di tanah kelahiran.

Akhirnya, selamat ulang tahun untuk Sahabat Kompasianer Widz Stoops. Semoga bahagia mewarnai hidup bersama keluarga tercinta.

Ayra Amirah untuk Kompasiana

Kota Tepian, 25 Januari 2022

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Foodie Selengkapnya
Lihat Foodie Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun