Mohon tunggu...
Ikhwanul Halim
Ikhwanul Halim Mohon Tunggu... Editor - Penyair Majenun

Father. Husband. Totally awesome geek. Urban nomad. Sinner. Skepticist. Believer. Great pretender. Truth seeker. Publisher. Author. Writer. Editor. Psychopoet. Space dreamer. https://web.facebook.com/PimediaPublishing/ WA: +62 821 6779 2955

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Legenda Sang Perusak (Bab 45)

26 Oktober 2022   14:45 Diperbarui: 16 Juni 2023   23:35 111
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
dok. pri. Ikhwanul Halim

Berlawanan dengan keinginannya, Johan Takur sadar bahwa satu-satunya cara dia bisa terbebas pembahasan rumah duka dengan Kenang adalah dengan membawanya ke sana. Dalam rentang waktu yang singkat sejak dia menceritakan kisah-kisah itu padanya, Kenang terus-terusan mengungkitnya sampai Johan muak. Dia tahu dia tidak akan bisa menerima lebih banyak ejekan dari kenang. Tapi  dengan sedikit keberuntungan, sesuatu mungkin terjadi pada istrinya, dan dia bisa terbebas dari ejekan wanita jalang itu selamanya.

Omelan Kenang yang terus-menerus telah mendorongnya ke pelukan Ratna bertahun-tahun yang lalu. Jika Kenang tersingkir, dia tahu dia bisa menjadi lelaki yang kembali bahagia. Ratna telah menjadi segalanya baginya. Tidak hanya dia lebih molek dibanding Kenang, tetapi dia dan Ratna mempunyai banyak minat yang sama. Ratna menyukai alam bebas. kenang, di sisi lain, hobi orang yang sibuk seperti keramik dan menenun. Johan bukan jenis orang yang bisa duduk terkurung sepanjang hari. Dia perlu keluar dan berkeliling di udara terbuka tempat dia merasa sehat dan bugar.

Memikirkannya, dia berharap ada cara untuk memastikan bahwa apa pun yang ada di rumah duka akan keluar dan membuang Kenang ke neraka dengan amarah penuhnya. Sayang sekali istrinya tak memiliki riwayat penyakit jantung. Entah bagaimana, meskipun tertutup, Kenang adalah salah satu orang paling sehat yang pernah dia kenal, meski gemuk karena makan sembarang lemak.

"Apa pendapatmu tentang aku mengajak Kenang berkeliling ke rumah duka malam ini, Sayang?" Johan bertanya pada Ratna saat mereka berbaring di katil yang dia tempatkan di ruang kerjanya setahun sebelumnya.

"Setelah apa yang terjadi beberapa bulan yang lalu, aku tidak ingin kamu masuk ke sana, Johan. Tapi kemudian, kamu tahu apa yang aku pikirkan tentang istrimu. Jika secara tidak sengaja tidak berhasil kembali, aku akan menjadi orang pertama yang bertepuk tangan. Kamu akan menjadi milikku sepenuhnya."

Mendengar kata-kata itu, Johan memberinya ciuman, dan mereka melebur bersama menjadi gairah yang tidak pernah mampu dilakukan Kenang. Mereka bermain penuh gairah selama satu setengah jam sampai telepon di meja kerja tiba-tiba membuyarkan kesenangan mereka. Johan langsung tahu bahwa itu adalah Kenang, dan dia merasa sedikit jijik.

"Johan," terdengar suara Kenang membentak, menghancurkan sedikit perasaan baik yang masih tersisa dalam dirinya, "kenapa kamu belum pulang? Kamu tahu bahwa aku selalu menyiapkan makan malammu lebih awal agar kita bisa bermain kim di Sentajo."

"Aku baru saja menyelesaikan beberapa dokumen, sayang. Aku akan segera pulang. Omong-omong, bagaimana kita melewatkan saja permainan kim malam ini?"

"Apa? Kamu tahu aku menantikan permainan kim sepanjang pekan. Ada apa denganmu?"

"Tenang saja, Kenang. Kupikir kita akan melakukan perjalanan ke rumah duka yang selalu menggangguku. Mungkin akan menyenangkan, tahu."

Johan mengatakan sambil tersenyum, tahu bahwa Kenang pasti tak menolak karena ingin mengolok-oloknya. Kenang tidak percaya hantu, dan membuktikan bahwa dia bodoh akan membuat istrinya senang tanpa akhir. Benar-benar wanita jalang.

"Oh, baiklah, Johan. Kurasa kita bisa melewatkan kim sekali ini saja. Perubahan mungkin bermanfaat bagi kita berdua."

Johan tidak menjawab. Dia hanya berharap kenang akan mendapatkan sesuatu yang berharga dari petualangan malam itu. Kematian kenang pasti akan mencerahkan hidupnya.

"Kurasa aku harus pulang sekarang, Ratna. Kenang akan sakit. Tapi, kita mungkin akan menakut-nakutinya malam ini. Aku akan membawanya ke rumah duka."

"Kamu hati-hati di sana, Johan sayang. Begini, aku tidak ingin kamu panik dan terbunuh atau semacamnya. Dia sangat cerewet, kurasa iblis sendiri tidak bisa memasukkannya ke dalam kuburnya, apalagi mentolerirnya."

"Kurasa kamu mungkin benar. Tapi aku harus melakukannya untuk melepaskannya dari punggungku, setidaknya untuk sementara waktu. Jika tidak ada yang lain, mungkin dia akan belajar bahwa bukan imajinasiku semata setiap kali aku masuk ke tempat itu."

Setelah ciuman terakhir, Johan meninggalkan Ratna untuk kembali ke nenek tenung yang menjadi istrinya. Penampilan kucai seorang suami yang menyedihkan dan tertekan kembali ke wajahnya, dan dia pulang terlalu cepat menurut perasaannya sendiri.

"Sudah waktunya kamu sampai di sini, Johan. Aku khawatir setengah mati."

Tapi Johan tahu itu adalah omong kosong yang bisa ditemukan di kandang hewan ternak mana pun. Kenang tidak pernah berhenti membuatnya takjub.

"Aku akan makan dan mandi sebentar, Sayang. Lalu kita akan pergi ke rumah duka."

"Yah, cepatlah. Aku ingin ini tuntas besok pagi. Dan jangan lupa memakai popok agar celanamu tidak kotor nanti."

Kenang terkekeh di belakang punggungnya saat keluar dari ruangan. "Lebih baik lagi yang berpenyerap super."

Dia mengabaikan olok-olok terakhir Kenang, dan empat puluh menit kemudian mereka bergegas dalam perjalanan ke rumah duka. Mereka akan sampai di sana setelah gelap.

Johan berdoa mereka akan melihat sesuatu. Sesuatu yang teramat sangat mengerikan....

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun