Mohon tunggu...
Ikhwanul Halim
Ikhwanul Halim Mohon Tunggu... Editor - Penyair Majenun

Father. Husband. Totally awesome geek. Urban nomad. Sinner. Skepticist. Believer. Great pretender. Truth seeker. Publisher. Author. Writer. Editor. Psychopoet. Space dreamer. https://ikhwanulhalim.com WA: +62 821 6779 2955

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Tapak Dara

17 Maret 2022   20:43 Diperbarui: 17 Maret 2022   20:44 693
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Tiba-tiba, seorang pria dengan papan penjepit kertas muncul entah dari mana di depanku. Aku rasa dia adalah pegawai pemerintah yang akan mengambil fotoku sendirian dan mengantongi sampel ludahku.

"Mungkin kalau lain kali saya dipanggil, saya akan lebih beruntung," kataku padanya, berharap dia tertawa, mengangguk dan berbagi cerita lucu atau sesuatu seperti yang biasanya dilakukan orang-orang seperti dia.

Pria itu hanya menatap, membisu dan tidak berkedip.

"Mungkin kalau lain kali saya dipanggil kembali, saya akan lebih beruntung," aku mendengar tanggapan. Hanya saja, suara itu tidak datang dari pria yang berdiri di depanku, tapi dari dalam kepalaku sendiri.

"Mungkin kalau lain kali saya dipanggil kembali, saya akan lebih beruntung," saya mendengarnya lagi, ketika bagian-bagian ruangan terpotong menjadi apa yang hanya bisa kugambarkan sebagai titik buta dalam sudut penglihatanku. Bukan kegelapan, hanya saja ... tidak ada apa-apa.

Bintik butaku tumbuh dengan potongan berbentuk persegi, tapi anehnya aku masih bisa melihat bagian dari kursi yang setengah di dalam titik butaku.

Apakah aku mengalami serangan jantung? Hilangan ingatan?

Aku tak bisa bangun atau bergerak sedikit pun, sungguh.

"Mungkin kalau lain kali saya dipanggil kembali, saya akan lebih beruntung," aku mendengar diriku berkata sekali lagi.

Pria yang berdiri di depanku mulai kehilangan wajahnya dengan cara yang tidak bisa kujelaskan...

Aku mencoba melihat ke bawah, tetapi tidak dapat melihat lengan atau kakiku atau bagian mana pun dari diriku, tetapi selama beberapa detik saya dapat dengan jelas melihat kursi yang kududuki, seolah-olah aku tak terlihat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun