Ragam Bahasa Menurut Sarana
Menurut sarananya, ragam bahasa dapat dibagi menurut ragam lisan atau ujaran dan ragam tulisan. Â
Setiap kelompok masyarakat pasti mempunyai ragam bahasa lisan. Karena ragam tulisan munculnya kemudian, maka yang perlu ditelaah adalah bagaimana orang menuangkan lisannya ke dalam bentuk tulisan.
Sebagai lingua franca, bahasa Melayu untuk sebagian besar masyarakat adalah bahasa bersama berupa ragam lisan dengan penggunaan yang agak terbatas.
Apa perbedaan antara ragam lisan dan tulisan?
Pertama, yang berhubungan dengan suasana peristiwa. Jika menggunakan sarana tulisan, kita berpraduga bahwa orang diajak berbahasa tidak ada di hadapan kita. Â Konsekuensinya, karena ujaran kita tidak dapat disertai dengan dengan gerakan isyarat dan penegasan dari pihak kita, maka bahasa kita perlu lebih jelas dan terang.
Itulah sebabnya kalimat dalam ragam tulisan perlu lebih cermat. Fungsi gramatikal, seperti subjek,predikat, objek dan hubungan antar fungsi masing-masing harus jelas dan nyata. Berbeda dengan ragam tulisan, karena penurut bahasa saling berhadapan, unsur-unsur itu terkadang dapat ditinggalkan.
Orang yang halus rasa bahasanya sadar bahwa, berlainan dengan kalimat dalam ujarannya, kalimat yang ditulisnya dibaca, dikaji dan dinilai dengan lebih mudah. Maka dia akan berhati-hati dan berusaha agar kalimatnya lengkap, lebih ringkas dan elok dibandingkan ujarannya. Bentuk akhir ragam tulisan tidak jarang merupakan hasil beberapa kali penyuntingan.
Kedua, beda ragam lisan dengan ragam tulisan berkaitan dengan upaya dalam ragam lisan, seperti tinggi rendah dan panjang pendek suara serta irama kalimat yang sulit dilambangkan dengan ejaan dan tata tulis yang berlaku.
Jadi, acapkali penulis perlu merumuskan kembali kalimatnya jika ingin menyampaikan ungkapan perasaan yang sama telitinya atau jangkauan makna yang sama lengkapnya dengan ragam lisan.
Misalnya, ucapan Dia tidak mencopet dompetmu, dengan intonasi pada kata tidak, makadalam tulisan mungkin akan menjadi Bukan dia yang mencopet dompetmu.