Tahun demi tahun terus berganti, namun mengapa yang dihati tak mau terganti
Banyak yang singgah, namun hatiku tetap berkata hanya engkaulah rumahnya
Bagaimana aku bisa membenci, jika bersamamu aku tidak pernah mengenal rasa perih
Ragaku ingin selalu bersamamu, walau nyatanya hatiku terpaut jauh darimu
Kadang aku ingin melupakanmu, namun tak sedikit kisah manis itu terulang di kepalaku
Temanku berkata "sudah, relakan saja" karna kata mereka, pria bukan hanya dirimu saja
jawabku "Ya, itu mudah" walau nyatanya hatiku berkata "rela tak semudah kata"
jawabku "ya, pria memang bukan hanya dia" walau nyatanya yang dihati memang hanya dia
berpura-pura Bahagia tanpamu, walau nyatanya aku merasa asing jauh darimu
Aku selalu merasa sempurna Ketika bersamamu,
Sabarmu dalam mengajariku banyak hal, lembut tutur mu dalam becakap,
Sangat mustahil untuk cepat berlalu.
Ketika yang lain ingin merubah pasangannya untuk menjadi lebih baik,
Melihatmu saja, aku tak ingin ada yang berubah
Dimataku dirimu sempurna,
Terlampau sempurna, sampai aku merasa bukan apa-apa tanpamu
Walau hari-hari terus terasa berat, tapi aku merasa jauh lebih baik untuk saat ini
Ya, akan ku coba untuk terus berdamai dengan diriku sendiri
Entah sampai kapan harapku menanti
Memang benar, nyatanya tidak semua pertemuan ditakdirkan berlangsung abadi
Namun aku akan selalu yakin dan berdoa,
Jika suatu saat nanti dirimulah takdir satu dan selamanya
Abadi dihati, takkan terganti.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI