Mohon tunggu...
Astuti -
Astuti - Mohon Tunggu... -

seorang perempuan biasa yang ingin berusaha selalu belajar.seorang ibu bekerja dengan 1 anak.

Selanjutnya

Tutup

Puisi

surat untuk bunda

14 Oktober 2010   04:05 Diperbarui: 26 Juni 2015   12:26 559
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

"Lalu kau pukul dia ?"

"Iya, aku kesal."

"Lalu selesaikah masalahmu ? Puaskah hatimu ? Atau lalu ia menjadi temanmu ?"

"Tidak, Bun."

"Sekarang apa yang kau rasakan ?"

"Kesal, Bun. Rasanya aku ingin marah."

"Jadi kau mengerti ? Pukulanmu tidak menyelesaikan masalah bahkan membuat hatimu penuh dengan amarah ?"

Dan aku menangis dalam pelukanmu.

Bun, aku rindu pelukanmu. Rindu kalimat-kalimat lembutmu yang menenangkan.

Bunda, rasanya kucukupkan surat ini disini dulu ya ? Lain waktu, aku akan menulis surat lagi untukmu. Boleh kan, Bun ?

Menulis apa yang aku rasakan, apa yang ingin aku ceritakan dan semua yang aku alami padamu. Agar lega hati ini, Agar terobati rinduku padamu.

Bunda, aku mencintaimu. Merindukanmu.

Salam sayangku,

Anakmu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun