Mohon tunggu...
Emmanuel Astokodatu
Emmanuel Astokodatu Mohon Tunggu... Administrasi - Jopless

Syukuri Nostalgia Indah, Kelola Sisa Semangat, Belajar untuk Berbagi Berkat Sampai Akhir Hayat,

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Budaya Barakah dan Strategi Bersyukur

14 November 2020   15:40 Diperbarui: 14 November 2020   15:45 122
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Sudah sejak terpilihnya Joe Biden Yr,di Pilpres Amerika, Peringatan Hari Pahlawan diTanah Air, aku berfikir tentang hidup-kini dan bersyukur. Berfikir tentang hidup masa kini kita disibukkan saat itu akan kedatangan dan sekarang sudah Imam Besar Pencetus Gagasan Revolusi Akhlak, padahal Jokowi sudah dari masa jabatan pertama menghembuskan Revolisi Mental.

Masih mananti berita tentang apa yang terdengar dengan Revolusi Akhlak Kamis pagi-pagi (11.12) saya baca tentang Budaya Barakah di REPUBLIKA.CO.ID  MUI menggelar Silatnas Komisi Pembinaan Seni Budaya Islam (KPSBI) seluruh Indonesia secara virtual, Rabu (11.11).Tiga pembicara yang  yang diberitakan yaitu Dr.KH.Sodikun MSi, Ketua MUI bidang Pembinaan Seni Budaya Islam, Usdatz Erick Yusuf Anggota KPSBI  dan Habiburrahman El Shirazy,ketua KPSBI Pusat..

Hari ini saya lebih tertarik belajar lebih dahulu mengenal tentang Habib Rizieq Shihab. Sebab sejak kemarin saya sudah mengapresiasi Budaya Barakah dari MUI itu. Untuk mengenal Pencetus Revolusi Akhlak saya berhutang budi saja kepada dua penulis Artikel Utama/Pilihan di Kompasiana ini untuk memudahkan bila pembaca mau recek referensi saya itu. Pertama artikel Sdr Mahir Martin di : sini. Yang kedua artikel Sdr TotoPriyono di sini. 

Saya catat dari apa yang dipaparkan Sdr Mahir Martin tentang Revolusi, tentang pilihan Nama . Tercatat beda asal, kata Akhlak dibanding  kata Mental. Cakupan kata Akhlak dan Mental. Arah yang sama keduanya menuju tata sosial yang adil dst.  Ditutup artikel itu dengan "Alhasil, jika dilihat dari sudut pandang agama, revolusi akhlak memang perlu, tetapi hal ini tidak berarti revolusi mental tidak perlu. 

Mungkin revolusi mental adalah bagian dari revolusi akhlak itu sendiri.Yang jelas, kedua revolusi semestinya dilakukan dengan cepat dan juga lambat. Kita harus cepat bergerak memulainya, tetapi jangan dipaksakan dan terburu-buru ingin melihat hasilnya, perlu menunggu waktu yang lebih lama."   (cetak miring oleh saya)

Sementara itu Rekan TotoPriyono memasang judul yang telah menyatakan siapa penulis siapa bagaimana yang ditulis. Rupanya diasumsikan olehnya atau masyarakat yg teramati bahwa kedatangan Habib Rizieq Shihab ini akan ada perubahan. Disamping itu diperkirakan Habib Rizieq Shihab dengan FPI adalah oposan terhadap Pemerintah. Dan pernah menyatakan bahwa Ulama berkedudukan lebih tinggi dari pemerintah. Maka TotoPriyono menegaskan harapannya untuk bersabar dengan tertulis : "Yang perlu kita lakukan adalah untuk bisa bersabar dalam melakukan proses perubahan,..." 

Dasar lain yang diharapkan adalah ini : "Catat ini dan sebarkan, biar pemerintah dengar. Kami siap mendukung anda kalau melakukan revolusi akhlak, kalau anda besok berbuat adil. Kalau anda menegakan keadilan, kalau anda merubah segala kezaliman ini menjadi ketaatan kepada allah kami siap menghormati anda. Kami siap tundauk kepada aturan anda. Kalau anda tidak adil, gelombang manusia, gelombang rakyat dari sabang sampai merauke akan melawan ketidakadilan" (Habib Rizieq Shihab- dikutip Detik.com)

Dari pembelajaran dua artikel yang terrekomendasi dan berita kegiatan dan dari situ visi dan programnya MUI saya ikut mencatat dan berharap bahwa Rovolusi yang berdengung-dengung itu bukan suatu langkah perubahan radikal.Dalam berrevolusi tikak ada oposan juga dalan  membangun budaya masyarakat beriman

Bahkan saya masih mengharapkan adanya langkah yang mendukung move-onnya MUI dalam berita terkutip diatas :

Tiga topik Strategis dikupas, Pengertian Budaya Barakah, Perlunya blueprint budaya Islam atau Islami; Seni budaya sebagai sarana dakwah yang tidak menimbulkan gejolak sosial, tetapi justru semakin memantapkan perkembangan sosial.

Menurut Kiai Sodikun, budaya barakah itu starting point-nya adalah bimbingan kebijakan Ilahi yang berupa tuntunan dari Allah.  Untuk itu perlu mengubah perilaku.  Itu yang sulit, maka harus dilakukan dengan strategi. Bicara strategi berarti membicarakan tema himayatul ummah (melindungi umat) dan sinergi baik dengan pemerintah (shadiqul hukumah).Kebijakan Ilahiyah menjadi sistem sosial. 

Realitas sosial perlu dibina dengan perubahan yang optimal menjadi lebih baik, ada penguatan, jati diri (identitas), kemandirian, kepedulian, keadaban dan keistiqomahan.Jika siklus ini dilakukan dengan strategi yang baik, maka akan menghasilkan budaya barakah. Mwnjadi lebih jelas bila kita bicara tentang budaya wani piro. Itu bertentangan dengan kebijakan Ilahiyah,dan menjauhkan dari budaya yang barakah.

 Ustadz Erick Yusuf  mengawali presentasinya dengan pertanyaan apakah yang pas itu istilah seni budaya Islam atau Islami. Berapa banyak  kearifan lokal yang  bisa dibina menjadi sarana pembinaan nilai-nilai yang diajarkan dalam agama Islam. Maka, perlu blue print pembinaan seni budaya Islam di Nusantara ini sehingga pembinaan tersebut bisa optimal.

Habiburrahman El Shirazy,  berbagi pengalaman kerja kesenian dan dakwah yang dilakukannya melalui film. Makalahnya yan berjudul "Berdakwah dengan Media Film adalah Bagian dari Berdakwah Melalui  Wasilah Seni Budaya". Ditegaskan bahwa dalam Islam, dalam pengertian yang luas dakwah Islam mempunyai kaitan simbiosis dengan seni budaya.

Sebagai media atau metoda, seni budaya itu mempunyai proyeksi yang mengarah kepada pencapaian kesadaran kualitas keberagamaan Islam, yang pada gilirannya mampu membentuk sikap dan prikaku Islami yang notabene tidak menimbulkan gejolak sosial, tetapi justru semakin memantapkan perkembangan sosial. (msn)

Dari visi dan program kedepan MUI untuk merealisasi hasil Seminar membangun budaya berkah, dengan semua kejadian terpapar diatas saya kira ada semacam sikronisasi gagasan. Maka kiranya tidak berlebihan saya mengharap  Pemerintah segera memprakarsai Forum Komunikasi Antar Pemuka Umat Beragama ditingkat Pusat hal mana sudah terjadi di daerah. (Akhir bulan lalu sudah diberitakan adanya gagasan ini oleh beberapa tokoh)

Memang Charles Dickens (1812-1870) seorang penulis dan pengamat sosial Inggris yang kritis, pernah menulis kira-kira begini : "Renungi berkah yang sekarang kita masing-masing terima, yang berbeda beda, lupakan kekecewaan masa lalu bukankah kekecewan itu biasanya sama." Sepintas sepertinya tidak perlu kita ingat kekecewaan, Dalam hidup keseharian baik pengalaman maupun itu sekedar berita, memang memberi suatu pertimbangan untuk masa depan.

Tetapi dalam perspektif pesan Charles Dickens pengalaman dan berita peristiwa sudah masa silam. Apa yang benar masa sekarang, adalah berkah yang sedang kita alami sekarang ini. Berkah dalam pesan C.Dickens itu untuk pembahasan kita, adalah peluang yang kita imani sebagai karunia Tuhan yang juga sebenarnya kemampuan manusia berupaya. 

Dan upaya itu Merenungi berkah sekarang dengan Merubah Wawasan Menjadi Pengalaman, penghayatan ! Dan berlanjut Mencari pengalaman baru untuk mendapatkan langkah kehidupan kedepan. Semoga terwujut Budaya Berkah Masa Kini.Dan itu tandanya kita bisa Bersyukur.

Tolong terima Salam hormat saya dan mohon maaf bila ada kesalahan kata yang membuat Pembaca tidak berkenan.

Ganjuran, Nopember,14, 2020. Emmanuel Astokodatu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun