1. Ing Ngarsa Sung Tuladha (Di depan memberi teladan): Guru sebagai role model yang memengaruhi karakter siswa.
2. Ing Madya Mangun Karsa (Di tengah memberi semangat): Guru mendampingi siswa, memberikan dorongan, dan membangun motivasi belajar.
3. Tut Wuri Handayani (Di belakang memberi dorongan): Guru memberikan kebebasan kepada siswa untuk berkembang secara mandiri dengan tetap memberikan arahan dan dukungan.
Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara tidak hanya berfokus pada aspek kognitif tetapi juga mencakup aspek afektif dan psikomotorik. Pendekatan ini sangat humanis karena bertujuan membentuk manusia yang merdeka secara pikiran, jiwa, dan tenaga.
Persamaan Konsep
Kedua pendekatan ini memiliki sejumlah kesamaan, yaitu:
1. Pembelajaran Berpusat pada Siswa: Baik deep learning maupun teori belajar Ki Hajar Dewantara menempatkan siswa sebagai pusat dari proses pembelajaran. Siswa tidak hanya menjadi penerima informasi tetapi juga menjadi peserta aktif yang berperan dalam membangun pengetahuan.
2. Refleksi dan Pemahaman Mendalam: Ki Hajar Dewantara menekankan bahwa pendidikan bukan sekadar transfer ilmu tetapi proses pemahaman nilai-nilai kehidupan. Hal ini sejalan dengan deep learning yang berfokus pada pemahaman mendalam dan refleksi terhadap pembelajaran.
3. Penerapan Konteks Nyata: Dalam kedua pendekatan, pengetahuan tidak hanya diajarkan secara teoretis tetapi juga diterapkan dalam kehidupan nyata, sehingga pembelajaran menjadi lebih relevan.
4. Karakter dan Moral: Deep learning mendukung pembentukan keterampilan sosial dan moral, sementara teori Ki Hajar Dewantara berfokus pada pendidikan karakter.
Perbedaan Konseptual