Dan karena di Karawang banyak penari ronggeng maka timbullah persepsi umum jika perempuan Karawang itu tukang rebut lelaki orang. Dan stigma itu berlangsung sampai sekarang meskipun kelas Ronggeng-nya sendiri sudah punah.
Akhirnya semua pandangan negatif tentang ronggeng berujung pada negativitas Goyang Karawang. Sebagian orang, termasuk warga Karawangnya sendiri tidak mau istilah Goyang Karawang dihubungkan dengan tarian yang berakar pada sejarah ronggeng, yakni tarian yang rancak dan cenderung menonjolkan sisi sensualitas tubuh perempuan. Padahal dari gaya tari seperti itulah lahirnya istilah Goyang Karawang.
Kita harus menghargai sejarah para ronggeng karena merekalah yang telah berjasa mewariskan seni tari di Karawang. Yang membuat seni tari lestari di Karawang bukanlah penguasa apalagi puteri-puteri manja keraton. Tetapi perempuan dari desa-desa Karawang yang disebut ronggeng.Â
Lekatnya sejarah ronggeng di Karawang bahkan terawetkan ke dalam banyak cerita rakyat dan situs-situs peninggalannya di banyak tempat di karawang seperti di Batu Ronggeng Kebon Jambe, Pasir Ronggeng Telukjambe, Leuwi Ronggeng Klari dan lainnya.
Tapi kemudian menjadi aneh ketika anak cucu Karawang kemudian menolak sejarah mereka dan menilai jelek pada konsepsi tarian yang mereka lahirkan. Padahal jaman sudah menghukum mereka dengan menghapus kelas ronggeng di muka bumi.
Jaman juga sudah menghukum mereka dengan semakin punahnya gaya asli tarian Goyang Karawang karena para penari Karawang sekarang jauh lebih lembut dan cantik dalam menari. Jadi tak harus kita ikut menghukum mereka dengan menolak penyematan istilah Goyang Karawang pada seni tari tradisional.
Dalam persepsi kebudayaan, Goyang Karawang bukan lagi sebatas tarian, tapi telah menjadi delegasi sejarah Karawang masa silam, dimana melalui pembacaan utuh terhadap eksistensinya kita bisa mengenal pandangan, tata nilai, pola hidup dan aktualisasi diri masyarakat Karawang dahulu.
Jika Goyang Karawang dinilai negatif karena goyangannya, demikian pula Pelet Jampang dan Debus Banten bisa dinilai negatif karena campur tangan ke-gaibannya. Lagipula bukankah yang namanya tarian pasti ada goyangannya?
Sumber : My Blog - https://sundapura.com/goyang karawang/
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H