Cinta adalah alasan mengapa orang dapat menekuni pekerjaan yang sama selama berpuluh-puluh tahun lamanya. Ermy Kulit, Rien Djamain dan Margie Segers telah menjadi vokalis lebih dari 40 tahun. Mereka tampil di klub, panggung hingga rekaman di sepanjang karir mereka. Dan kali ini, mereka masih tampil dan bernyanyi di panggung Java Jazz Festival.
The Ladies of Jazz tampil dengan mengusung lagu-lagu yang membawa nama mereka dikenal pecintanya di Indonesia. warna dan karakter mereka dalam membawakan lagu-lagu sangat kuat hingga tetap dikenali sampai saat ini. Saat mereka bercerita tentang karir mereka, mereka menyebut beberapa nama senior yang sangat berjasa menulari mereka musik jazz. Margie Segers dan Rien Djamain menyebut Jack Lesmana sebagai guru mereka, dan Ermy Kulit mengaku banyak dibimbing oleh Ireng Maulana.
Di panggung Djarum Super Mild, pada 6 Maret 2015 menampilkan Angel Pieters, Jumaane Smith feat Ron King Quintet dan ditutup dengan penampilan Jon Reagen. Hari kedua tampil semenjak sore di antaranya: Rinnie Wulandari, Etienne Charles, Mocca dan Skyline. Kemudian pada hari terakhir, tampil Maruli Tampubolon, Lea Simanjuntak bersama Timeless Jazz, Petra Sihombing di malam harinya dan ditutup penampilan Mondo Gascaro.
Sementara di panggung utama, sekaligus menjadi pemuncak Jakarta International Jazz Festival 2015 adalah Jessie J. Dia tampil di malam terakhir, 8 Maret 2015, setelah pada malam sebelumnya tampil pula Christina Perri. Baik Christina Peri maupun penampilan Jessie J, keduanya menjadi magnet kuat perhelatan JJIF 2015. Terutama bagi kalangan kawula muda. Antrian tidak hanya mengular sangat panjang saat penonton hendak memasuki panggung utama, beberapa di antara mereka juga sempat ada yang pingsan. Diperjuangkannya sampai dehidrasi demi menyaksikan Jassie J. Panitia rupanya sudah mengantisipasi, bahkan mungkin hingga kemungkinan yang terburuk. Para petugas keamanan dan medis selalu berjaga dan siaga, sehingga para penonton pun nyaman menikmati pertunjukan demi pertunjukan.
Antusiasme para penonton di ajang JJIF memang sangat tinggi. Para penggemar musik jazz ternyata juga merupakan orang-orang dari berbagai kalangan dan usia. Mereka juga datang tidak hanya dari Jakarta, tetapi juga dari kota-kota seluruh Indonesia. Musik jazz mempertemukan mereka dalam sebuah ajang apresiasi tingkat internasional, dengan musikalitas para musisi yang mumpuni.
Jadi, musik jazz itu apa? Mungkin sebuah paduan improvisasi dan harmonisasi yang Indah, yang asyik. Mungkin juga merupakan sebuah pesan cinta dan dedikasi sebagaimana yang menjadi semangat The Ladies of Jazz. Rio Sidoq Tetapi buat saya, ketika Jessie J akan tampil, dengan ribuah penonton meruyak menuju satu pintu masuk, saya memilih menyingkir dan menikmati pertunjukan kelompok musik jazz dari Bali, Rio Sidiq. Duduk pada sebuah bangku besi, Rio Sidiq menghipnotis penonton dengan vokalnya yang khas dan desingan clarinet yang dimainkannya. Langit cerah, beberapa kamera drone terlihat mondar-mandir di atas, telinga kubiarkan lena bersama suara Rio Sidiq menyanyikan sebuah lagu milik Santana, sementara anganku terbang mengenang perjuangan dan orang yang saya cintai: