Cerita-cerita sindiran pun dibualkan penulis melalui tiap tokoh yang digarapnya, begitu pula toko Mat Dawuk dan Inayatun sebagai tokoh yang disutradarai Makhfud Ikhwan akan mengingatkan kita dengan Beauty and The Beast, bedanya novel ini mempertemukan tokoh nakal dengan nakal jadi berakal. Alegorisasi yang dimaksudkan Makhfud Ikhwan pun memperlihatkan keliahaian dia dalam menyentil perilaku ketidakmanusiawian kita dalam menjajak pendapat suara masyarakat terhadap kredibilitas seseorang yang hanya dinilai melalui covernya saja.Â
Memang, dari sekian banyak perhitungan yang ditampilkan penulis dalam menggiring opini kita terhadap pesan yang ingin disampaikan terletak pada akhir puzzlecerita yang dirangkainya. Duh, jadi baper masa Madrasah Aliyyah dulu kan, mungkin kalau ada pertanyaan "apa amanat dari novel ini ?" dengan lugas dan tegas akan saya tuliskan : Baca novelnya dan kamu akan tahu.
Surabaya, 31 Maret 2018
     Â
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H