Mohon tunggu...
Abahna Gibran
Abahna Gibran Mohon Tunggu... Freelancer - Penulis dan Pembaca

Ingin terus menulis sampai tak mampu lagi menulis (Mahbub Djunaedi Quotes)

Selanjutnya

Tutup

Sosok

Mata yang Jatuh Iba pada Prabowo-Sandiaga Uno

22 Agustus 2018   21:26 Diperbarui: 22 Agustus 2018   21:40 507
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (Kompas.com)

Lama tidak bertemu dengan teman yang satu ini. Selain karena tempat tinggal kami berbeda kampung, juga disebabkan selama ini saya masih berkutat dengan asam urat. Hari itu kebetulan saya pulang dari dokter di kota kecamatan, lalu saya menyempatkan untuk berkunjung ke kantornya yang memang berada pinggiran kota kecamatan kami.

Teman yang satu ini seorang pendatang. Bukan asli pribumi. Wong Jowo, berasal dari salah satu kabupaten di Jawa Tengah. Kebetulan dia berjodoh dengan perempuan dari daerah kami. Biasa, karena dipertemukan saat kuliah.

Akan tetapi meskipun seorang pendatang, dan aksen bicara Jawa-nya masih kental, ia saya anggap mampu beradaptasi dengan keadaan di kampung kami. Terbukti dia dipercaya untuk memegang program pemberdayaan masyarakat. Dan berkat tangan dinginnya, program itu cukup berhasil, dan berkembang dengan pesat.

Salah satu sikapnya yang saya sukai dari dia adalah pendiriannya yang kuat. Meskipun ramah, dan rendah hati, namun apabila sudah menyangkut prinsip, tak seorangpun mampu untuk menggoyahkannya. Bisa jadi hal itu sesuai dengan nama depan dan panggilan sehari-hari, Mas Kukuh. Selalu keukeuh dengan apa yang diyakininya. 

Sebagaimana halnya pada saat Pilpres 2014 lalu. Meskipun di kampung kami sebagian besar warganya merupakan pendukung pasangan Prabowo-Hatta Rajasa, Mas Kukuh tak tergoyahkan dengan tetap mengidolakan pasangan Jokowi-Jusuf Kalla sebagai pilihannya.

Akan tetapi ketika dalam pertemuan kali ini saya mencoba untuk meminta komentarnya terhadap Pilpres 2019 mendatang, dan kebetulan akan terjadi tanding-ulang antara Jokowi dengan Prabowo yang tempo hari dipecundanginya, serta bakal calon pemimpin Indonesia itu sudah menentukan juga bakal calon pendampingnya, betapa saya merasa kaget dengan kalimat pertama yang meluncur dari mulut Mas Kukuh.

"Saya jadi jatuh iba pada mantan menantu penguasa orba itu, Kang!" katanya lirih dengan mimik muka yang terlihat sedih.

Sesaat saya kehilangan kata-kata mendengarnya. Hanya saja dalam hati saya menyadarinya. Dalam kurun waktu empat tahun, bisa jadi seiring waktu ada perubahan di dalam diri seseorang. Apalagi berkaitan dengan masalah politik. Mungkin saja Mas Kukuh terpengaruh oleh situasi dan kondisi yang tengah terjadi di negeri ini.

Entahlah. Hanya saja sejurus kemudian saya jadi teringat dengan rentetan sejarah yang pernah terjadi di negeri ini. Saat SBY terpilih untuk pertama kalinya menjadi Presiden ke-6, konon kebanyakan pemilihnya karena jatuh iba atas desas-desus yang beredar saat itu. SBY didzalimi oleh Megawati. Sedangkan watak bangsa ini pada umumnya mudah bersimpati terhadap sesamanya yang diperlakukan tidak adil seperti itu.

Seperti juga di desa kami, pernah terjadi seorang calon Kepala Desa yang sudah tiga kali mencalonkan diri, selalu saja jadi pecundang. Baru pada saat kembali mencalonkan diri untuk yang keempat kalinya, secara tak diduga-duga mampu meraih dukungan suara terbanyak. 

Dan ketika usai pemilihan, dalam berbagai obrolan dengan warga, rerata  yang memilihnya itu cukup simpel menjawab pertanyaan: Mengapa memilihnya? Karena kasihan! Itu saja. 

Kalau melihat kredibilitas dan kapabelitasnya di bawah rata-rata memang. Tapi karena tiga kali mencalonkan diri, tampaknya di punya ambisi yang kuat. Ditambah pula dengan modal yang dikeluarkan sudah begitu banyak. Apa boleh buat. Kami tidak tega juga melihatnya.

Begitulah. Bisa jadi Mas Kukuh juga sekarang ini memiliki pikiran seperti itu. Bukankah Prabowo juga dalam Pilpres mendatang akan tampil untuk ketiga kalinya mencalonkan diri. Siapa tahu Mas Kukuh jatuh iba karena kasihan kalau Prabowo jadi pecundang lagi.

"O, jadi Mas sekarang sudah berganti pilihan ya?"

Dia menatap saya dengan sorot yang tajam. Tapi tidak lama kemudian dia menebarkan senyumnya seraya menggelengkan kepala.

"Tidak. Saya jatuh iba terhadap beliau karena tak mau belajar dari kekalahannya. Sikapnya di dalam meraih simpati justru saya anggap kontra-produktif. Ditambah lagi dengan sikap orang-orang di belakangnya yang jumawa, dan seolah tak tahu etika. Belum lagi dengan calon pendampingnya yang sama sekali belum teruji. Baru beberapa bulan jadi wakil gubernur, bisa menjadi tolok ukur kedangkalan kinerjanya. Apa mau jualan janji-janji melulu? Sehingga kalau begini naga-naganya, tidak menutup kemungkinan Prabowo akan jatuh terperosok untuk ketiga kalinya."

"Kalau masalah pilihan, tidak berubah koq. Saya tetap memilih Jokowi. Apalagi sekarang memilih pendamping dari kalangan ulama, jadi semakin sinergi antara ulama dengan umara dalam mengelola Indonesia ke depannya."

Saya hanya manggut-manggut saja mendengar penjelasannya. Sementara dalam hati berucap kalau Mas Kukuh memang keukeuh, memiliki pendirian yang kuat. ***

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosok Selengkapnya
Lihat Sosok Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun