nomor urut 104
I
Kelebat bayang di balik tirai
Setiap kali fajar
menyingsingkan pesonanya
Lembut suara
Membuka paksa kelopak mata
Menghitung butiran dosa
Saat kantukku masih mendera
Duhai Bunda
Langkahku rapuh
Dipapah rintih doamu
Aku tertawa-tawa
saat
kau terlunta
Memungut ampun
Akan salah dan lupa
Yang kutebar sejauh usia
Dan lagi
Tak ada nilai yang bisa kubayar
Untuk membalas pengorbananmu
Tiada juga sajak yang mampu
Mengabadikan jerihmu
Karena rupa aksara
Tlah lenyap dari sini
Dari nuraniku ini
Duhai Bunda
Kelebat bayangmu di balik tirai
Mengusap kening
saat mata enggan membuka
Saat diseru-Nya
Pada suatu masa
saat aku didekap durhaka
Bagaimana aku lupa?
Sementara wajahmu
Hanya bisa kukenang
Lewat bingkai kaca
II
Seikat bunga di atas pusara
Daun-daun menunduk dalam
Bersimbah embun-embun
Kerlip bintang kejora
Jatuh di matamu
Menari-nari ia
Sebelum gelap memelukmu
Kelopak tulip yang rekah
Hiasi bibir mungilmu
Memamer senyum manis
Meski ruh
tlah pergi jauh
Ayat-ayat bagai petuah
Ayah Bunda sendu pasrah
Mengusap tubuh mungil
Dibungkus berhelai kain
Gadis mungil
Menghadap-Nya sepenuh cinta
melesapkan alunan merdu
Penghujung ayat
di sudut ruang
Tumpah sudah
airmata haru dan kehilangan
Seikat bunga di atas pusara
Doa-doa membumbung mengangkasa
hujan turun malu-malu
Di atas tanah merah menggunduk basah
Menghantar tubuh gadis mungil
Menuju asalnya
III
Terima kasih, cantik
Kita tiga medan berbeda
penjuru mata angin barat, timur, tenggara
Bermimpi menyapa dunia
Berbagi cerita
Menarik jarak
bagai sejangkalan saja
Simpul-simpul masalah
Bagai terkurung di hampa udara
Memenuhi ruang kosong di kepala
Rayuan maut jebakan putus asa
mengintai mangsanya
Ya
Kita
Saat tikaman semakin menghunus dalam
Saat ujian bukan lagi menghantam perasaan
Saat lengan tak bisa lagi
berpegangan menguatkan
Salam rindu terhatur
Menggusur sepi
Renyah suara meredam dendam
Senda gurau melibas murka
Airmata pun jatuh menyiram luka
Terangkum dalam cerita lewat udara
Terima kasih, Cantik
Seribu kata yang entah
Menghimpit menjepit
jejak-jejak gelap masa silam
Tak ada ruang di memori
Untuk menampungnya kembali
Sudah, mari kita kembali pada yang hakiki
Kita, tiga, berbeda
Gemuruh jiwa
Jangan kau bawa lari
Tepian jalan tak selamanya jurang
Ada pagar-pagar pembatas jalan
Yang menghadang niat busukmu
Melempar masalah
pula tubuhmu
Terima kasih, Cantik
untuk tetap sabar di jalan Tuhan
Kita perempuan
Penyimpul aksara
Roboh tika gelap mematut pula di cerminan
Tiga, kita berbeda
Ada bukan saling mencela
Saling merangkul
Bukan sengsara
Lalu
Menyulut airmata
Kita perempuan
Berkendara dengan doa
Menjerit bisu
saat hati
Tak lagi mampu
menampung lirih
Tiga kita berbeda
Berlari mengejar mimpi
Meski di separuh hari
Kita tak alpa akan mati
Terima kasih, Cantik,
Untuk tetap sabar di jalan Tuhan
Mari saling menguatkan
Arra Itsna Yusuf
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI