" Terimakasih atas kesempatannya Pak Kepala. Menurut saya ini jangan dibuat terlalu serius, hidup harus santai, pindah-pindah pegawai juga sebenarnya dinikmati saja, jika semua aman, kami aman, bapak juga senang. Terimakasih" kata Rizal.
Banyak dahi yang mengernyit, usia Rizal seabgai jubir tak panjang, sekali dua kali sesudah itu dia diganti Pak Hasan.
Menurut saya, sebenarnya kehadiran jubir ini penting, karena memang tidak semua dapat mengkomunikasikan sesuatu dengan baik.
Ada banyak alasannya, memang kita belum berlatih sehingga tidak mampu mengkomunikasikannya dengan baik, lalu ada hal-hal tertentu yang tidak kita kuasai dan juga terlalu banyak kerjaan sehingga perlu orang lain untuk mengkomunikasikan maksud kita.
Kemarin, saya sempat menyaksikan bagaimana cara Kepala KSP, Moeldoko dalam konfrensi pers berkaitan dengan sorotan terhadapnya berkaitan dengan tudingan upaya kudeta di Demokrat.
Konpers babak satu dan dua itu sebenarnya sudah baik, hanya yang menggangu saya adalah pemilihan diksi oleh Moeldoko yang  rasanya urang tepat dalam mengkomunikasikan sesuatu, apalagi  di topik yang sensitif.
Ada beberapa diksi yang saya ingat seperti baperan, lelucon, lucu-lucuan dan dageelan yang menurut saya menaikkan tensi sebuah konpers yang pada dasarnya berniat meneduhkan situasi.
Benar saja. Sesudah itu, soal baper, dagelan, lelucon disasar habis oleh petinggi Demokrat, mau dikaitkan dengan konteks atau tidak.
Sampai disini saya lantas berpikir, Moeldoko sebaiknya menunjuka jubir pribadi untuknya. Moeldoko tak perlu sungkan karena seprti yang diketahui Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan dan Menhan, Prabowo Subianto juga mempunyai jubir.
Jika saya lihat, kehadiran jubir buat Luhut dan Prabowo cukup efektif.
Soal jubir Luhut, Jodi Mahardi, Â saya ingat benar ketika muncul polemik dengan Said Didu beberapa waktu lalu, Jodi yang tampil di depan sangat membantu Luhut untuk menjelaskan posisi Luhut sehingga sang Menko dapat fokus di hal yang lainnya.