"Kemanusiaan akhirnya mendudukan rivalitas pada tempatnya semula" ujar seorang teman ketika melihat bagaimana video tepuk tangan fans saat kedatangan skuat Juventus di Bassilica.
Apa alasannya gesture humanis ini terjadi dengan begitu indah?. Saya yakin fans Juventus dan Fiorentina melihat apa yang terjadi Stadion Wembley, saat a minute's silence penghormatan bagi Astori sebelum Juventus bertanding melawan Tottenham Hotspurs.
Perhatikan Buffon, Barzagli dan terlebih Chiellini. Ketiga punggawa ini terlihat berdoa ketika a minute's silence itu dilakukan, sedang yang lain hanya tertunduk biasa. Bahkan Chiellini terlihat hampir menangis sesudah itu selesai dilakukan.
" Kami mempersembahkan kemenangan ini kepadanya tapi tidak hanya pertandingan ini, saya sering menangis, saya selalu percaya padanya karena dia pemain yang fantastis," kata Chiellini seusai pertandingan yang dimenangkan Juventus 2-1 tersebut.
Chiellini terlihat sangat sedih ketika tiba di Gereja Basilica di Santa Croce. Di antara semua skuat, hanya  Chiellini yang terus menundukan kepala sepanjang langkah masuk ke dalam gereja. Chiellini terlihat tak percaya  bahwa orang yang dikasihinya itu, Astori, harus lebih dahulu pergi. Disinilah perasaan Chiellini dan tekan-rekannya, berpaut menjadi satu dengan ratap tangis pendukung Fiorentina.
Tak ada lagi permusuhan di sana, rivalitas sejenak dilupakan, mereka bersatu dalam duka. Respek!.
Sepak bola sebenarnya sanggup melakukan ini. Berbagai pengalaman menunjukan bahwa pecinta sepak bola mampu menunjukan bahwa kemanusian itu unggul dari rivalitas sesengit apapun. Kisah tentang Fabrice Muamba, mungkin salah satu kisah yang paing inspiratif.
Pada 17 Maret 2012, Muamba yang kala itu memperkuat Bolton, collaps di lapangan saat tuan rumah, Tottenham Hotspurs menjamu Bolton Wanderers pada lanjutan Piala FA. Pertandingan dihentikan sementara selama 41 menit, saat Muamba sedang dirawat oleh petugas medis.
Selama itu, tidak terdengar teriakan di White Hart Lane, markas Spurs. Tidak terdengar nyanyian kebangaan masing-masing supporter. Semuanya seperti tanpa sadar sepakat untuk diam, dan menaikan doa bagi Muamba. Pemuda bernama lengkap Fabrice Ndula Muamba itu dilarikan ke rumah sakit, berangsur pulih dari saat-saat yang paling kritis dalam hidupnya. Sesudah pulih, Muamba memilih untuk pensiun.
Saat jeda, Â Muamba turun ke lapangan dan menuju titik di mana dia dulu pernah kolaps. Standing Ovation bergemuruh di White Hart Lane. Muamba tak kuasa membendung air matanya dan dia menangis.