“Ada apa Put?” Tanya Septy ketika melihat mata Putri yang berkaca-kaca. “Aku mau pergi dari rumah Sep, pergi ke rumah Kakek dipulau Rote untuk menemui Nenek. Tapi aku masih sayang pada suami dan anak-anakku. Jika aku menemui Nenek, sudah pasti Bang Tigor tidak mau mengakui aku sebagai isterinya lagi, aku bingung sep.”
“Put, kamu jangan gegabah dalam mengambil keputusan, ingat anak-anakmu!. Pikirkan dulu matang-matang, jangan sampai kamu menyesal dikemudian hari gara-gara keputusanmu yang gegabah itu. Sudahlah kamu sabar dulu.” Septi mencoba menasehati Putri.
“Aku juga sudah sabar Sep, tapi aku tidak tahan dengan perbuatan suamiku. Aku rindu dengan keharmonisan yang dulu menyelimuti keluargaku. Aku harus berani mengambil resiko Sep.” Ucap Putri sambil menangis.
“Terus nasib Anak-anak kamu bagaimana jika kamu tinggal pergi?, Kamu tidak boleh egois begitu Put. Pikirkan juga perkembangan mental anak-anakmu. Mereka terlalu kecil untuk menanggung semua beban ini. Kamu jangan mementingkan kebahagiaanmu sendiri Put,” Putri hanya menunduk. Air mata membanjiri pipinya.
Sementara itu ditempat berbeda...
Langkah kaki itu perlahan melangkah menjejak tanpa menimbulkan suara sedikitpun, seakan telah menyatu dengan alam sekitar. Tubuh tinggi besar itu sesekali mengedarkan pandangannya untuk memeriksa keadaan disekitar hutan maja yang lebat. Sebatang rokok sudah tubuh tinggi besar itu berjalan menyusuri lebatnya hutan maja namun apa yang dicari belum juga ditemukannya.
Hingga sampailah tubuh tinggi besar itu diantara tumpukan batu yang menyerupai sebuah kursi dipuncak bukit hutan tersebut. Karena lelah akhirnya tubuh tinggi besar itu menduduki kursi batu tersebut sambil mengingat-ingat petunjuk yang pernah di berikan oleh Ki Arke Jumpak sewaktu akan berangkat.
Suasana di puncak bukit itu terasa nyaman dan damai, semilir angin membelai lembut memijit penuh kehangatan. Tanpa terasa sosok tinggi besar itu terlelap pulas diatas kursi batu itu. Hingga akhirnya sosok tinggi besar itu terjaga oleh suara bentakan dan petikan nada dari sebuah alat musik yang masih asing ditelinganya. Sayup sayup sosok tinggi besar itu masih sempat mendegar patahan kata yang terbawa angin senja.
Kau reguk nikmat
Menetes deras
Menyeringai buas
Benih maksiat
Bersambung.......
Negeri asap,041015
Ilustrasi: ernisuyantimedikkonservasi.blogspot.com
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H