Bulan April tahun 1983, ayah saya meninggal di usia 51 tahun dengan meninggalkan 10 anak dan satu orang istri. Usia saya saat itu 7 tahun, kelas 2 Sekolah Dasar. Â Dengan selisih usia masing-masing anak 2 hingga 3 tahun, bisa dibayangkan saat itu kami berada dalam kondisi membutuhkan biaya untuk hidup dan biaya pendidikan.
Selang beberapa hari sejak meninggalnya ayah,  saat kami membongkar barang-barang miliknya, kami menemukan banyak lipatan kertas kalender harian yang ternyata berisi uang. Selain itu, ternyata ayah saya memiliki dua polis asuransi Bumiputera, satu polis asuransi jiwa dengan nilai uang pertanggungan Rp. 2.000.000,- dan satu lagi asuransi pendidikan atas nama saya, dengan nilai  USD 1.200,- yang dapat diambil secara bertahap sebesar USD 20 per bulan selama 5 tahun,  saat saya mulai memasuki usia kuliah tahun 1993.
Santunan meninggal yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi jiwa bersama (AJB) Bumiputera, dimanfaatkan untuk biaya kuliah salah satu kakak saya yang tahun itu kebetulan lulus SMA dan asuransi pendidikan atas nama saya menjadi bebas premi, dalam artian kami tidak perlu lagi membayar premi namun saya tetap dapat menerima manfaat yang tercantum di polis.
Saat lulus SMP, karena merasa memiliki asuransi pendidikan, saya memiliki harapan untuk bisa kuliah dan bercita-cita menjadi seorang sarjana. Namun, melihat ketentuan pengambilan manfaat yang tidak dapat dikeluarkan sekaligus dan nilai yang diperoleh bila dikalikan kurs USD saat itu hanya Rp. 240.000 per enam bulan, maka saya berpikir bahwa untuk dapat mewujudkan cita-cita menjadi seorang sarjana saya harus bisa masuk ke perguruan tinggi negeri.
Karena memiliki target bisa kuliah di perguruan tinggi negeri, saat duduk di kelas 1 SMA, saya mulai termotivasi untuk serius belajar dan mengerjakan semua PR dan tugas dengan serius. Semester pertama kelas 1, hanya hanya bisa duduk di peringkat 7 dari 40 siswa dan semester kedua bisa memperbaiki masuk 3 besar.
Kelas 2 SMA, saat mulai penjurusan, karena kakak saya sudah masuk jurusan A2 (Biologi), maka dengan pertimbangan agar bisa menghemat uang ibu saya sehingga tidak perlu lagi membeli buku pelajaran baru, maka saya memutuskan untuk masuk jurusan A2. Di kelas dua, saya berhasil masuk peringkat atas untuk dua semester.
Saat kelas 3 semester 5, ada tawaran dari beberapa perguruan tinggi negeri salah satunya IPB untuk masuk melalui jalur PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan). Saya yang bercita-cita untuk kuliah di perguruan tinggi melihat tawaran tersebut sebagai sebuah kesempatan, dan kemudian dengan percaya diri mengisi formulir dan melengkapi semua kelengkapan berkas.
Sejak berkas dikembalikan, setiap malam saya berdoa tanpa henti agar saya diterima dan bisa kuliah di perguruan tinggi negeri, serta biaya yang dibutuhkan cukup melalui pencairan asuransi pendidikan saya. Setelah selesai ujian nasional, seorang teman datang membawa undangan untuk saya dan ibu saya datang ke sekolah, dan ternyata saat itu kami diundang untuk menerima pemberitahuan bahwa saya diterima kuliah di IPB, dan dari enam siswa yang diterima, saya satu-satunya siswa A2.
Saat pertama kali menginjakkan kaki di Bogor, saya bersyukur memiliki kakak alumni satu SMA yang mau menampung sementara dan membantu dan mengantar saya mengenal kampus dan membeli keperluan saat itu. Karena belum dapat mengurus pencairan tahapan, maka uang kuliah tahun pertama saya yang besarnya Rp. 480.000, nilai yang sama persis dengan pencairan tahapan asuransi pendidikan saya per tahun, dibayarkan dulu dari uang tabungan ibu saya.
Tidak sulit mengurus pencairan tahapan asuransi
Karena sudah memiliki KTP, dan tidak mau merepotkan ibu ataupun kakak saya, maka dengan membawa polis, saya datang sendiri ke kantor cabang Bumiputera di kota kelahiran saya Rangkasbitung dan bertemu dengan petugas pencairan dana yang sangat membantu hingga memudahkan saya menerima uang tahapan pertama. Atas saran Bapak yang bertugas itu pula, saya akhirnya memutuskan mencairkan tahapan sekaligus setiap enam bulan untuk membayar uang semester.
Pencairan dana tahapan berjalan lancar hingga saya menyelesaikan kuliah dan wisuda, bahkan saat nilai tukar 1 USD mencapai Rp. 14.000,- tahapan saya tetap cair meskipun saya harus menerimanya dalam bentuk check dan dicairkan di Bank.
Bekerja di Perusahaan Asuransi
Setelah lulus kuliah dari jurusan Biologi, FMIPA, IPB, saya bekerja di sebuah perusahaan asuransi jiwa  bukan sebagai marketing, melainkan menjadi underwriter yang bertugas menyeleksi risiko dari calon nasabah yang mengajukan aplikasi, baik risiko kesehatan, pekerjaan, hobi maupun gaya hidup, sehingga apa yang saya pelajari tidak menyimpang terlalu jauh dengan pekerjaan yang saya tekuni.
Meskipun bukan sebagai marketing asuransi, tapi saya tidak bosan-bosan untuk menyarankan agar orang tua menyiapkan dana pendidikan sejak dini melalui asuransi sehingga dapat mewujudkan cita-cita anak tanpa terpengaruh masalah biaya.
Saya merasa menjadi contoh hidup yang merasakan besarnya manfaat dari menyiapkan dana pendidikan melalui asuransi sejak dini. Seandainya ayah saya tidak ikut program asuransi pendidikan, mungkin  saya tidak bisa menjadi seperti saat ini, jangankan mewujudkan cita-cita, bercita-cita untuk kuliah dan menjadi sarjana saja  mungkin saya tidak berani karena saya mengetahui kondisi ekonomi keluarga  yang tidak mungkin dapat membiayai kuliah.
Tulisan ini sekaligus sebagai ucapan terimakasih kepada Bumiputera yang telah memberi pelayanan yang sangat baik dan membantu saya mewujudkan cita-cita.
FB : https://www.facebook.com/ariyani.aja
Twitter  : https://twitter.com/Ariyani12
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI