Mohon tunggu...
Ari Wahyu Ramadhan
Ari Wahyu Ramadhan Mohon Tunggu... Seniman - Mahasiswa

hobi sesuai suasana hati

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Perbedaan Tidak Boleh Menjadi Perpecahan

28 November 2024   11:51 Diperbarui: 28 November 2024   12:01 85
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Perbedaan Tidak Boleh Menjadi Perpecahan

 

 Bangsa Indonesia diciptakan oleh Allah SWT sebagai bangsa yang majemuk berdasarkan suku, budaya, ras dan agama dengan semboyan Bineka Tunggal Ika. Pluralisme adalah suatu realitas sosiologis yang di dalamnya Masyarakat sebenarnya bersifat majemuk. 

Jamak pada hakikatnya berarti kemajemukan dan berkaitan dengan pengertian dan aliran. Pluralisme adalah suatu pemahaman atau sikap terhadap situasi pluralistic dalam segala bidang, termasuk sosial, budaya, politik dan agama. 

Semua agama ikut memperkuat persatuan bangsa melalui ajaran yang menekankan keadilan, kasih sayang, toleransi, rasa kerukunan umat beragama, persaudaraan dan kesatuan. Nilai luhur kebudayaan serta terpeliharanya persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia dituangkan dalam adat istiadat yang juga menjadi penghubung antara setiap bangsa, dan jika hal ini tidak terjadi maka akan banyak terjadi konflik di Indonesia. 

Generasi muda harus memiliki rasa pluralism yang kuat dan menanamkan rasa toleransi terhadap kerukunan umat beragama di Indonesia. 

Generasi muda bermunculan sebagai pemimpin yang akan mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia. Terlepas dari pluralism tersebut, khususnya di Indonesia penting untuk dipahami bahwa perbedaan kita bukanlah landasan atau landasan berdirinya Negara Republik Indonesia, namun Negara Republik Indonesia didirikan atas dasar persamaan dan bukan perbedaan.

Pluralisme yang Menginspirasi
Indonesia penuh dengan contoh nyata bagaimana perbedaan dapat didamaikan. Misalnya Yogyakarta, tradisi Grebeg Maulud tidak hanya melibatkan umat islam tetapi juga umat yang berbeda keyakinan. Hal serupa terjadi Ketika umat islam menjaga gereja saat Natal, sehingga menunjukan persatuan antar agama. 

Keberagaman yang terjalin ini membuktikan bahwa perbedaan bukanlah halangan untuk saling mendukung, namun keharmonisan ini tidak terjadi dengan sendirinya. Ada kesamaan pemahaman yang harus terus dijaga, sayangnya banyak orang lebih memilih menonjolkan perbedaan mereka dibandingkan menjadikan kelebihan.

Islam dan Teladan Nabi Muhammad
Dalam QS. Al-Hujurat : 13

"Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-banga dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti."

Dalam Islam, Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa agar kita saling mengenal, bukan saling bermusuhan. Nabi Muhammad SAW juga memberi contoh bagaimana hidup damai dalam keberagaman. Dalam membangun masyarakat Madinah, Nabi merancang Piagam Madinah, yaitu seperangkat aturan yang menjamin bahwa semua kelompok, baik Muslim maupun non-Muslim, dapat hidup berdampingan dengan hak dan bertanggung jawab yang sama.

 Contoh lainnya adalah para sahabat Nabi dari berbagai latar belakang. Salman Al-Farisi dari Persia, Bilal bin Rabah dari Ethiopia, dan Suhaib Al-Rumi dari Roma, semuanya diperlakukan sama dan menjadi bagian penting dalam dakwah Islam. Sikap Nabi tersebut menunjukan bahwa keberagaman bukanlah sebuah penghalang, namun justru berpotensi mempersatukan demi tujuan yang lebih besar.

Ketika Perbedaan Menjadi Alasan Perselisihan
Beberapa perselisihan di Indonesia menggambarkan bagaimana individu atau kelompok memahami perbedaan dengan salah. Konflik di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah dan kerusuhan di Sampit menunjukan bahwa ketidakpahaman tentang pluralisme dapat menyebabkan bencana. 

Politik identitas sering kali memperburuk keadaan, seperti yang terlihat dalam konflik politik yang memecah Masyarakat berdasarkan agama atau etnis. Ini adalah tantangan besar bagi kita semua, bagaimana kitab isa menyampaikan bahwa perbedaan itu wajar dan perlu dihargai.

Membangun Persatuan di Tengah Perbedaan
Perpecahan hanya akan terjadi jika kita tidak bisa menghargai pentingnya saling menghormati. Pendidikan tentang toleransi harus ditegaskan mulai dari keluarga dan sekolah. Pemerintahan dan Masyarakat juga perlu mengambil Tindakan tegas terhadap siapa saja yang mencoba memanfaatkan perbedaan untuk kepentingan pribadi atau politik. 

Akhirnya, setiap individu memiliki tanggung jawab untuk menjaga keharmonisan ini. Sebagai rakyat Indonesia, kita seharusnya menghormati perbedaan. Seperti yang diungkapkan pepatah, "Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh." Mari kita gunakan perbedaan sebagai peluang untuk mendekat, bukan untuk menjauh.

 

Ari Wahyu Ramadhan 

 

Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UINSA

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun