Mohon tunggu...
Arimbi Bimoseno
Arimbi Bimoseno Mohon Tunggu... karyawan swasta -

Author: Karma Cepat Datangnya | LOVE FOR LIFE - Menulis dengan Bahasa Kalbu untuk Relaksasi | Website:http://arimbibimoseno.com

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Untuk Kamu yang Sedang Rapuh

17 Juli 2011   17:22 Diperbarui: 26 Juni 2015   03:36 360
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Kamu bilang khawatir

Kamu bilang bingung

Kamu bilang takut

Untuk masalah yang sama yang tak kunjung terselesaikan

.

Kamu, pedih hatiku mendengarmu

Aku tahu apa rasanya itu

Kamu tidak sendiri

Tak percayakah kamu

.

Ibumu bilang bodoh

Maafkan Ibumu

Dia tidak bermaksud begitu

Ibumu standarnya terlalu tinggi katamu

Ibumu sangat mencintaimu

.

Aku pernah menjadi anak

Dan masih tetap menjadi anak

Dan kini aku seorang Ibu

Aku tahu maksud Ibumu

.

Kamu

Yang sedang marah pada keadaan

Sabar dan salat adalah penolongmu

Buka hatimu

.

Menangis hati ini mendengarmu

Mendengar ketaksanggupanmu bercerita

Tuhan bekerja dengan cara misterius

Ada kalanya ujian datang dari seorang Ibu

.

Nanti

Saat pengertian tumbuh di hatimu

Kamu akan mensyukuri semua yang telah kamu lalui

Pada saat itu kamu sudah berdamai dengan semuanya

.

Berdamai dengan diri sendiri

Berdamai dengan semua orang

Alam semesta merengkuhmu

Sesudah kesulitan ada kemudahan

.

Kamu masih belia

Semakin cepat mengerti akan semakin baik

Kalau kamu masih marah pada Ibumu, bahkan marah pada Tuhan

Lakukanlah hal-hal baik untuk dirimu sendiri dulu

.

Kamu

Ini untuk kamu

Kamu tidak sendiri

Aku pernah mengalami apa yang kamu alami

.

.

*untuk seseorang

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun