Mohon tunggu...
Ari Indarto
Ari Indarto Mohon Tunggu... Guru - Guru Kolese

Peristiwa | Cerita | Makna

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Kisah Tempe Menuntut Keadilan

18 November 2022   21:55 Diperbarui: 18 November 2022   22:14 158
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Bangsa ini penghasil dan pemakan tempe, tapi bukan bangsa tempe. Terkadang tempe dianggap sepele, tidak ada nilai, tidak ada harga, bahkan dianggap makanan si miskin. Hari ini bangsa tempe menuntut keadilan, 

Namaku Tempe, aku dikenal karena sejak zaman dulu menjadi makanan kerajaan-kerajaan di negeri ini. Aku dinamai  Tempe karena aku berasal dari bahasa Jawa kuno, Tumpi, berarti makanan yang berwarna putih. Meski sebenarnya aku dibuat dari kedelai hitam. Begitulah asal muasalku.

Tempe, makanan dari kedelai yang diproduksi berkat kerja keras mbok-mbok di berbagai tepat di negeri nan indah. Siapa yang tidak kenal  aku, Tempe. Dari ujung kota sampai ujung dunia,jagat pertempean selalu menggurita, memenuhi pasar, supermarket dan juga mal. Aku selalu dibeli manusia-manusia lintas generasi. 

Aku sebenarnya makanan yang bermutu bagi yang tahu. Dalam tubuhku banyak terkandung  kalori, protein, sodium, lemak, karbohidrat, mangan,zat besi, kalsium, kalium, fosfor, thiamin, riboflavin, niasin, air. Karena begitu banyak kandungan nutrisi dalam tubuhku, aku menjadi idola bagi yang gemuk, bagi yang kurus, yang sakit, yang sehat, ibu-ibu, bapak-bapak. Semua isi bangsa mengidolakan aku.  

Aku diciptakan untuk menjaga pikiran dan perasaan manusia yang memakanku. Aku membuat hidup orang yang makan tenang, damai dan tidak kelaparan. 

Bahkan seluruh tubuhku  dapat mengontrol berat badan bagi orang-orang yang dipenuhi lemak, menjaga kesehatan tulang bagi orang-orang yang sering mudah keropos, menjaga kesehatan jantung bagi orang yang lemah jantung, meningkatkan kesehatan usus bagi orang yang selalu makan dengan jumlah yang kadang tak terbatas, menangkal radikal bebas yang selalui menghantui manusia-manusia, mencegah anemia agar darah manusia selalu bersih dan bebas berbagai penyakit, menjaga kesehatan pencernaan, menurunkan kolesteraol agar segalanya terkontrol. 

Manusia pemakan aku selalu sehat, bukan hanya raga tetapi juga jiwa.  

Aku dibuat di negeri ini, tapi banyak negara juga memakanku. Aku dikirim tidak hanya diberbagai daerah di negeri ini. Aku dikirim  ke Korea Selatan, Hongkong, Malaysia, dan Jepang. Penggila Tempe; Jepang, Inggris, Arab Saudi, Amerika Serikat, Singapura selalu memintaku untuk datang dalam jumlah berton-ton. Sampai jauh aku dikirim, karena itu kadang aku lelah dan mulai membusuk. 

Tapi, aku selalu beruntung, manusia-manusia di tanah ini selalu menjagaku dan menyimpanku dengan sangat baik, hingga aku bisa awet muda, dan siap untuk disantap. 

Hanya memang sayang, kedelai yang menjadi cikal bakalku mulai berkurang. Sedikit demi sedikit petani yang menamam cikal bakalku, kedelai, mulai berkurang. Pada akhirnya benihku harus didatangkan dari berbagai negara di belahan dunia sana. Aku tidak lagi menjadi murni dari suku dan rasku. Benihku bule tapi aku tetep saja tempe. 

Tempe sempat langka, karena permainan impor kedelai, cikal bakalmu terkadang dipermainkan oleh tengkulak-tengkulak penyerap pemangsa manusia lain. Cikal bakalku menjadi permainan dan selalu dipermainkan. 

Hanya aku bersyukur karena sampai hari ini begitu banyak yang masih mau membuat makanan sepertiku. Jumlah pengrajin di negeriku ini lebih dari 115 ribu pengrajin. Aku beruntung hidup di negeri ini. Meski begitu banyak yang menghina tapi aku masih menjadi teman dikala berbagai kalangan makan di meja makan. Bahkan sekarang aku gembira karena istana pun tak mau melupakan aku. Semua orang makan aku. Aku bangga sebagai tempe. 

Tapi itu dulu,

Tahun demi tahun, aku mulai merasa sedih. Begitu banyak makanan membanjiri negeriku. Bukan hanya di kota-kota besar, makanan itu menyasar sampai ke kampung-kampung yang sebenarnya adalah tempat tinggalku, tempat aku selalu ada. Pizza menjajahku, Spaghetti menjadi pesaingku, Kimchi menjadi idola baru, Sushi dan Sashimi seolah menghinaku, Kebab mengalahkanku, dan masih begitu banyak idola-idola baru di negeri. Aku terlupakan. Mereka benar-benar menjajahku. 

Aku semakin lama semakin tersingkar. Apalagi anak-anak muda di negeriku ini tidak lagi mengenalku, bahkan tak lagi mempedulikan keberadaanku. Meraka tidak mau makan aku. Mereka tidak mau mengunyahku. Mereka tidak mau menyentuhku, bahkan mereka tidak mau membeliku. Hingga aku membusuh di banyak abang pedagang. 

Jangankan dijual lagi di mal, supermarket. Aku mulai tersingkir dari pasar-pasar tradisional. Aku benar-benar tersingkir. Karena penjajahan berbagai makanan dari manapun melanda negeriku. Apakah aku harus protes ke Gubernur, Menteri atau Presiden. 

Siapa yang bisa menyelamatkan aku? Siapa yang memerdekakan aku? Aku mulai merasa lelah, aku tak sanggup lagi hidup di negeri ini. Karena bukan hanya anak muda yang tak mau memakanku, bahkan orang-orang tua yang dulu mengidolakan aku, kini menjadikanku busuk, hingga aku dibuang ke kolam untuk makanan lele. Aku sedih,

Aku musti mengusir penjajahku. Aku musti menuntut keadilan, karena aku tidak mau terhina di Tanah Airku. Aku menuntut keadilan. Aku hanya ingin menjadi Tempe di negeri sendiri. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun