Mohon tunggu...
ARIFULHAK  ACEH
ARIFULHAK ACEH Mohon Tunggu... Freelancer - Tebar Kebaikan Untuk Ummat

Umur begitu singkat. Karya tulisan akan dikenang

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Hidup Bahagia

15 Januari 2023   09:33 Diperbarui: 15 Januari 2023   09:45 125
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

HIDUP  BAHAGIA 

by  ARIFULHAK  ATJEH

Manusia ditakdirkan sebagai makhluk yang memiliki banyak kebutuhan untuk menjalani kehidupan. Setiap saat manusia berusaha memenuhi keinginan dan cita-citanya dan menjadikannya sebagai tujuan hidup baik bersifat materi maupun immateri. Uang,harta kekayaan,dan sederet jabatan yang disandang akan diraih dan menjadikannya sebagai tolok ukur kesuksesan hidup.

Di lain pihak,sebagian orang menderita akibat tidak tercapainya ambisi yang diinginkan seperti kurangnya materi yang didapatkan. Dan tentu saja,kita pasti mengakui bahwa beberapa orang yang terlahir beruntung dengan kemewahan adalah termasuk orang-orang yang memiliki hidup bahagia.

Akan tetapi,dibalik bergelimangnya materi yang diperoleh ada satu hal yang tentu tak bisa dibeli dan didapatkan yakni kebahagiaan.

Adalah hal lumrah bila dewasa ini orang disibukkan dengan berbagai training atau seminar  yang bertujuan bisa membuat bahagia mulai dari  yang berbiaya hingga non-biaya.Nah,muncul pertanyaan,"Apakah bahagia itu,bagaimana bisa bahagia, dan kapan bisa bahagia sebenarnya ?"

Dalam KBBI, bahagia diartikan sebagai keadaan atau perasaan senang dan tentram yang terbebas dari segala yang menyusahkan; beruntung. Sedangkan Aristoteles seorang filsuf Yunani mendefinisikan kebahagiaan dalam dua kategori yakni "hedonia" hal yang menyenangkan dan "eudaimonia" pencarian tentang makna hidup. 

Definisi ini cukuplah bagi kita memaknai kebahagiaan itu dengan terdapatnya rasa senang dalam diri,baik yang diperoleh melalui pencarian makna hidup maupun segala hal yang bisa membebaskan diri dari hal yang menyusahkan.

Definisi ini diperkuat oleh Anisia Kumala dari UHAMKA yang mengatakan bahwa kebahagiaan yang berbeda-beda dan diperoleh dapat mempengaruhi cara untuk mencapainya. Ada yang mendapatkannya dengan berbagai macam hal yang mereka sukai, ada yang melakukannya dengan bersilaturrahim dengan keluarga, bahkan ada yang diam dan tak beranjak dari rumah, sudah merasakan kebahagiaan.

Selanjutnya Anisa juga menjelaskan bahwa hakikat kebahagiaan yang sesungguhnya adalah bersifat stabil dan berkepanjangan, berbeda dengan senang yang cepat berubah, singkat, dan sesaat.

Sebagai contoh,penyanyi Michael Jackson dengan uang yang melimpah, harta banyak,ketenaran, semuanya ia peroleh namun, mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Casey Johnson yang hidup bergelimang kekayaan dan kemewahan selama hidupnya tapi berakhir tragis ditemukan telah meninggal tanpa siapapun mendampinginya di sebuah villa yang berantakan dalam usia yang masih muda.

Seiring dengan perjalanan kehidupan, seseorang bisa saja beranggapan bahwa dengan memiliki harta yang melimpah,jabatan tinggi,gaji menggiurkan,istri banyak,anak yang sukses bekerja di berbagai instansi, dipastikan kebahagiaan akan diperolehnya.

Mereka beranggapan bahwa menjadi kaya adalah pencapaian tertinggi yang dengannya dapat mendapatkan apapun yang diinginkan dan hanya tinggal menikmati kehidupan dengan bahagia. Sebaliknya,para pakar berkata,"Orang kaya akan menjadi miskin bila mereka menginginkan lebih banyak hal..." .

Bergelimangnya uang yang dimiliki merupakan fenomena kebanyakan orang yang beranggapan bahwa kepuasan akan diraih, namun yang didapatkan adalah kehampaan belaka yang tak pernah diduga sebelumnya.Hal ini sering dialami oleh orang-orang yang memiliki uang  banyak, dan akhirnya mereka akan mengatakan bahwa uang tidak memberikan kebahagiaan.

BERBAGI

Salah satu cara terbaik menjadikan harta,kekayaan,dan uang yang dimiliki lebih berkah adalah membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan,para yatim, dan kaum miskin. Bukankah ketika kita mengulurkan tangan kepada mereka dengan harta,uang yang kita miliki, dan bisa menyaksikan langsung bagaimana mereka "bahagia" saat mereka terbebas dari kesusahannya?Batin kita akan langsung merasakan efeknya, ya "bahagia"akan langsung melekat dalam diri kita. Inilah balasan langsung yang akan diperolah ketika kita menjadi dermawan meskipun nilai harta kita tak seberapa nilainya !

Jadi, siapapun yang memiliki harta,kekayaan,jabatan yang telah berniat ikhlas dan turut berbagi kepada saudara-saudara yang membutuhkan. Ya,Berbagi ala kadarnya, bisa secara individual tapi lebih baik lagi bila disalurkan melalui organisasi yang telah teruji seperti Muhammadiyah, dll.

 Ketika kita memberikan sesuatu dengan niat ikhlas yang mampu membuat orang lain bahagia,bukankah ini menjadi amal jariyah ? Ya, tentu balasan akan menunggu bagi mereka yang telah merelakan hartanya dipergunakan untuk ummat.Pahala akan terus mengalir kepadanya hingga akhir zaman. Di dunia, mereka akan mendapatkan balasan langsung;sembuh dari penyakit,dimudahkan Allah hajatnya,dimurahkan Allah jalan-jalan rezekinya, dan tentu saja "bahagia" melekat bersamanya.

Demikian, saudaraku ! Semoga kita semua mampu memaknai kebahagiaan dan dapat terus berikhtiar, berbuat kebaikan untuk ummat.

 

Medan, Ahad_15 Januari 2023

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun