[caption caption="Photo By Arif Rahman"]
[/caption]Trip menonton Motor GP Sepang ternyata tidaklah sulit. Kemampuan panitia meng-handle event internasional sekelas GP memang telah teruji, terutama dari segi transportasi. Bagi yang datang melalui Kuala Lumpur Internasional Airport, maka telah tersedia kereta monorel dari lokasi bandara yang bisa membawa kita ke KLCC atau Kuala Lumpur Central. Demikian pula bagi yang datang dari jalur darat [Dari Thailand atau Singapura], maka tinggal menuju ke salah satu dari dua posisi itu [KLCC atau KL Central], disana telah tersedia bus official dari Motor GP yang stand by untuk mengangkut semua fans menuju Sepang.
Setibanya di kawasan sirkuit, telah tersedia shuttle bus yang mengantarkan kita dari kawasan parkir menuju venue. Jika bukan karena antrian yang demikian panjang karena jumlah penguinjung yang besar, maka menuju Sepang bisa dibilang perjalanan yang mudah dan sangat lancar. Dan event ini, adalah salah satu alasan yang logis mengapa Indonesia kalah jauh dari kunjungan wismannya daripada Malaysia.
Fans motor GP ini datang dari manca negara, Indonesia dan beberapa dari negara Asean yang paling terlihat. Sekelompok pengendara moge pun tak kalah banyak, tidak sedikit yang datang dari Indonesia. Beberapa rombongan Ducati ada pula yang datang dari Vietnam dan satu hotel dengan tempat saya menginap. Namun tentu saja yang paling banyak adalah anak-anak muda backpacker layaknya saya. Kami datang dari jalur Singapura untuk menghindari biaya penerbangan yang lebih mahal. Tiket GP pun sudah bisa di beli secara online di banyak situs.
Saya sendiri kehabisan tiket ketika hendak membelinya via online, dan nekat ke Sepang tanpa tiket. Di bus saya satu kursi dengan salah seorang bapak setengah baya fans dari VR, dan cukup kaget begitu mendengar saya datang tanpa tiket. Namun saya sudah mendapat informasi sebelumnya dari sejumlah blogger, bahwa Sepang tidak pernah kehabisan tiket on the spot, setidaknya bisa memperolehnya melalui calo. Dan benar saja saya mendapatkan tiket sekalipun tidak di tribun sebagaimana saya harapkan, dan ini tanpa calo.
Daripada cuma photo-photo nggak masuk venue, lokasi di rumput pun boleh lah. Sepulang dari Sepang, saya satu bus dengan anak-anak muda bakcpacker lainnya, yang dari pembicaraan mereka saya mendengar bahwa penjual tiket diluar counter memang ada, bahkan dengan harga yang tidak jauh beda dengan harga resminya. Malah pembelian online, banyak yang lebih mahal daripada harga on the spotnya. Jadi kalau mau nonton sebatas di Hillstand, ini bisa jadi tips trip buat yang mau nonton tahun depan.
The Legend
[caption caption="Photo By Putera Adnyana"]
Rasanya, apapun yang terjadi di Valencia, VR akan tetap menjadi legenda. Semoga saja tidak seperti Zidane yang gantung sepatu dimana pertandingan terakhirnya terhenti karena peristiwa tidak menyenangkan. Buat saya pribadi, melihat bagaimana VR berjuang di Sepang kemarin adalah “moment of truth” tersendiri. Olahragawan yang besar karena totalitasnya.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H