Kalau soal domino sih saya jangan ditanya. Sejak kelas 5 SD, hingga kuliah saya makan tidurnya di meja domino. Orang-orang pada tahu semua itu.
Baca artikel Humor lainnya Kalau Saya Jadi Elang ....
Begitu melihat saja datang, satu kelompok meminta saya menggantikan salah satu rekan mereka. Maksudnya buat penghormatan mungkin.
Tapi begitu akan saya gantikan. Tiga orang lainnya protes. Mereka keberatan jika saya ada di tengah-tengah mereka.
"Kalau Sidin (panggilan untuk orang yang lebih tua) yang main jelas kami kalah. Mending menyerahkan kuping saja buat dijewer. Tak usah dijepit pake jepitan jemuran gini," katanya.
Saya senyum-senyum saja. Dan tak jadi duduk di lingkaran itu. Buat apa juga? Toh jadi penonton tak seru sama sekali. Hanya sorak-sorak, mana enaknya. Coba jadi pemain, kan bisa menggojlok seenaknya. Seru abis pokoknya.
Sedari tadi sebenarnya saya itu mendengar teriakan dan sorakan dari lapak lainnya tak jauh dari tempat saya. Pemain catur yang lagi ngejek-ngejek lawan mainnya. Rupa-rupanya lagi menang. Jadi pastilah yang kalah jadi bulan-bulanan.
Maka saya pun mendekat. Mereka semua menyapa dan membuat larangan khusus buat saya.
"Pak Dhe! Jangan kasih komentar ya. Ntar saya kalah. Mampus kuping saya kena jepitan nanti," katanya.
Saya hanya mesam-mesem saja. Tak tega memberikan komentar dan arahan agar salah seorang pemain bisa menang.
Lagi-lagi jadi penonton memang tak enak. Yang paling enak itu jadi penonton bola memang. Bisa teriak seenak perutnya. Menyalah-nyalahkan suka-suka.