Mohon tunggu...
Arif L Hakim
Arif L Hakim Mohon Tunggu... Konsultan - digital media dan manusia

digital media dan manusia

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Artikel Utama

Cerita Nglanggeran, Geosite yang Mendunia dan Penuh Kenangan

25 Januari 2017   15:21 Diperbarui: 25 Januari 2017   16:34 1510
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Embung Nglanggeran di antara teduhnya kawasan Nglanggeran dari Puncak Watu Bantal (dok. pribadi)

Desa Nglanggeran terasa sejuk saat saya datangi. Entah karena berada sekitar 500-750 meter di atas permukaan laut (mdpl), atau memang karena hujan sedang menaungi saat saya berkunjung ke salah satu desa di Kecamatan Patuk, Gunungkidul ini. Alunan rintik-rintik air dari langit terus mengiringi kegiatan yang kami jalani bersama Dinas Pariwisata DIY dan Kelompok Sadar Wisata Nglanggeran Selasa (24/01/2017) kemarin. Saya ikut kegiatan digital media trip ini bersama rekan-rekan blogger (temasuk kompasianer) dan buzzer dari Jogja, Solo, maupun Magelang di antara jaringan Masyarakat Digital Jogja (Masdjo).

Nglanggeran mungkin tak asing bagi warga Jogja. Visualisasi yang muncul ketika membahas desa ini adalah tentang Gunung Api Purba dan Embung Nglanggeran. Namun, gambaran destinasi wisata tersebut rupanya baru 'kulitnya' Nglanggeran. Masih ada banyak hal yang sangat menarik untuk dikisahkan ketika bercerita tentang desa wisata yang baru saja mendapatkan penghargaan sebagai desa wisata terbaik se-ASEAN untuk bidang community based tourism Jumat (20/01) yang lalu ini.

Kepala Dinas Pariwisata DIY, Ir. Aris Riyanta, M. Si saat memberi pengantar di awal kegiatan (dok. pribadi)
Kepala Dinas Pariwisata DIY, Ir. Aris Riyanta, M. Si saat memberi pengantar di awal kegiatan (dok. pribadi)
Saya awali cerita dengan bagian utama Geosite Nglanggeran sebagai bagian dari Geopark Gunungsewu yang membentang di tiga kabupaten dan tiga provinsi: Gunungkidul (DIY), Wonogiri (Jawa Tengah), dan Pacitan (Jawa Timur). Menurut pemaparan Ir. Budi Martono selaku GM Geopark Gunungsewu, Geosite Nglanggeran hanya salah satu di antara 33 geosite. Goa Pindul, Goa Jomblang, Kalisuci, deretan pantai Wedi Ombo, Baron, Siung, Krakal, adalah nama-nama geosite lainnya yang juga populer di Gunungkidul. "Total ada 13 geosite di Gunungkidul yang menjadi bagian dari rangkaian 33 geosite yang ada di Geopark Gunungsewu", tutur Budi. Apa keunikan Geosite Nglanggeran? "Dari sisi geologi, keunikan geoheritage ini adalah kandungan conical karst landscape pada batuan penyusunnya", Budi menambahkan.

Geosite Nglanggeran mulanya populer dengan Gunung Api Purba sebagai ikon utamanya. Dikutip dari laman resmi Gunung Api Purba Nglanggeran, secara fisiografi Gunung Api Purba Nglanggeran terletak di zona Pegunungan Selatan Jawa Tengah-Jawa Timur (Van Bemmelen, 1949) atau tepatnya di sub zona Pegunungan Baturagung (Baturagung range) dengan ketinggian 700 meter dari permukaan laut dan kemiringan lerengnya curam-terjal (>45%). Gunung Nglanggeran berdasarkan sejarah geologinya merupakan gunung api purba yang berumur tersier (oligo-miosen) atau 0,6 – 70 juta tahun yang lalu. Material batuan penyusun Gunung Nglanggeran merupakan endapan vulkanik tua berjenis andesit (old andesite formation). Jenis batuan yang ditemukan di Gunung Nglanggeran antara lain breksi andesit, tufa, dan lava bantal.

Perlu diketahui bahwa Nglanggeran dulunya adalah salah satu desa pemasok TKI (tenaga kerja Indonesia) yang bekerja di luar negeri. Namun sejak dikelolanya Geosite Nglanggeran sebagai destinasi wisata, kini mereka lebih memilih tinggal dan merawat desanya. Sugeng Handoko, salah satu perwakilan kelompok sadar wisata Nglanggeran menuturkan kini ada 154 pemuda yang ikut tergerak untuk mengelola Geosite Nglanggeran. Rumah-rumah penduduk pun dimaksimalkan sebagai homestay yang bisa digunakan untuk live in wisatawan. "Sekitar 80 homestay telah siap digunakan wisatawan dengan rate per malam Rp 150 rb - Rp 250 rb per orang, sudah termasuk makan dua kali.", Sugeng bercerita dengan penuh semangat. 

Sebagai destinasi wisata, Geosite Nglanggeran terus berbenah. Dari paket wisata edukasi, budaya, petualangan, agro, dan lingkungan yang telah dikreasikan di Nglanggeran, mampu mendongkrak wisatawan dari semula 13 wisatawan mancanegara dan 1.437 wisatawan nusantara pada tahun 2007 menjadi 476 wisatawan mancanegara dan hampir 325.000 wisatawan nusantara pada tahun 2014. Angka ini terus bergerak naik pasca dibukanya beberapa spot wisata tambahan dan dikukuhkannya Geopark Gunungsewu sebagai bagian dari geopark dunia oleh UNESCO.

GM Geopark Gunungsewu, Ir. Budi Martono saat memberi paparan di depan netizen (dok. pribadi)
GM Geopark Gunungsewu, Ir. Budi Martono saat memberi paparan di depan netizen (dok. pribadi)
GAP Nglanggeran memang memiliki spot-spot menarik. Saat berkunjung bersama Dinas Pariwisata DIY kemarin, kami diajak ke dua titik mempesona. Yang pertama adalah Puncak Wayang. penamaan puncak ini tidak lain sebagai penanda bahwa dalam kepercayaan adat Jawa di GAP Nglanggeran dijaga oleh Ki Ongko Wijoyo dan empat punokawan dalam tokoh pewayangan: Semar, Petruk, Gareng, serta Bagong. Dari Puncak Wayang, view terindah bisa kita lihat dan rasakan. Dari ketinggian 700 mdpl ini kita bisa menyaksikan bumi terhampar luas di bawah Gunung Merapi yang gagah. 

Spot kedua adalah Puncak Watu Bantal. Batuan super keras dengan medan mendaki dan menurun secara berseling adalah tantangan utama sebelum menjamah puncak ini. Perjuangan menaklukkan medan tersebut adalah bumbu pemanis bagi pecinta trekking. Setelah mencapai Puncak Watu Bantal, panorama Geosite Nglanggeran begitu syahdu terpajang di depan mata. Dari titik ini pula kita bisa melihat Embung Nglanggeran di antara teduhnya vegetasi Nglanggeran. 

Gunung Merapi tampak gagah dari Puncak Wayang, Nglanggeran (dok. pribadi)
Gunung Merapi tampak gagah dari Puncak Wayang, Nglanggeran (dok. pribadi)
Embung Nglanggeran di antara teduhnya kawasan Nglanggeran dari Puncak Watu Bantal (dok. pribadi)
Embung Nglanggeran di antara teduhnya kawasan Nglanggeran dari Puncak Watu Bantal (dok. pribadi)
Cerita berikutnya adalah tentang Kampung Pitu, sebuah kampung eksotik yang hanya dihuni oleh tujuh (pitu) kepala keluarga. Dari model bangunan dan interaksi sosial, kampung ini memang terlihat biasa saja. Namun yang membuatnya berbeda adalah tentang jumlah kepala keluarga yang menghuninya. Kampung Pitu selalu dan hanya bisa ditinggali oleh tujuh kepala keluarga. 

Kami dijamu oleh Mbah Rejo dan Mbah Yatno, dua sesepuh Kampung Pitu yang merupakan keturunan Mbah Kyai Irokromo dan Mbah Kyai Tir. Sesepuh generasi ketiga Kampung Pitu ini bercerita bahwa dulu ada pohon Kinah Gadung Wulung yang didalamnya terdapat benda pusaka. Benda pusaka tersebut diketahui oleh abdi dalem Kraton Ngayogyakarta memiliki kekuatan. Berikutnya, diadakanlah sayembara bagi yang bisa menjaga benda pusaka ini akan diberi tanah secukupnya untuk penghidupan anak dan keturunannya. Mbah Irokromo adalah pemenang sayembara ini, sehingga dialah yang layak untuk mendapatkan tanah tersebut. Tanah ini kemudian dihuni oleh beberapa Empu. Namun dari sekian banyak empu tersebut, hanya tersisa dua orang yaitu Mbah Irokromo dan Mbah Kyai Tir yang hingga kini berlanjut keturunannya. 

Mbah Rejo dan Mbah Yatno, dua sesepuh Kampung Pitu (dok. pribadi)
Mbah Rejo dan Mbah Yatno, dua sesepuh Kampung Pitu (dok. pribadi)
Di Kampung Pitu, jika kampung ini ditinggali lebih dari tujuh kepala keluarga maka akan sering terjadi cekcok antar keluarga atau tetangga. Kemudian jika kurang dari tujuh kepala keluarga, ndilalah (tiba-tiba) ada saja salah satu anggota keluarga yang kembali ke Kampung Pitu menjadikan kampung ini kembali berjumlah tujuh kepala keluarga. 

Kampung Pitu dulunya dikenal dengan nama Dusun Telaga karena adanya telaga yang konon menjadi tempat pemandian kuda sembrani. Selain dikenal sebagai Kampung Pitu, kini secara administratif kampung ini dikenal sebagai wilayah RT 19 Dusun Nglanggeran Wetan, Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul. Dengan luas sekitar 7 hektare, kampung ini sekarang dihuni oleh 25 jiwa. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun