Mohon tunggu...
Abdullah Al Aswad
Abdullah Al Aswad Mohon Tunggu... Wiraswasta - Mahasiswa

Hidup untuk hidup

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Nostalgia Romantis Cukuran Massal MDQH NW Anjani

22 Juni 2019   15:08 Diperbarui: 22 Juni 2019   15:12 21
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Doc. MDQH NW Anjani

Cukuran massal thullab dan tholibat baru Mahad Darul Qur'an Wal Hadits Al Majidiyah As Syafi'iyah Nahdlatul Wathan Anjani Lombok Timur

Sabtu,  22 Juni 2019

Akupun pernah merasakannya.. 

Iya,  tiga tahun yang lalu aku adalah salah satu dari ribuan Thullab baru yang merasakan tangan-tangan dingin itu..

Tangan dingin penuh doa, menekan perlahan gunting untuk mencukur sebagian rambutku.. 

Itulah kebiasaan yang ditinggalkan oleh sang maha guru.. 

"Sang Maulana" begitulah kami menyebut beliau..

Maulana Syaikh Zainuddin Abdul Majid Al Anfanany,  salah seorang pahlawan nasional,  pendiri Mahad Darul Quran Wal Hadits..

Cukuran Massal adalah kebiasaan yang telah mendarah daging dalam kamus kehidupan MDQH, semua thullab harus merelakan rambutnya untuk dihilangkan alias dibotak jika ingin mengawali perjalan keilmuan di mahad ini.. 

Iringan doa dan harapan semoga sifat dan kebiasaan kurang baik selama di Sekolah Menengah Atas ikut hilang seiring hilangnya rambut oleh tangan-tangan berkah para masyaikh, dan dengan harapan semoga tumbuh rambut-rambut mahad yang bersih,  rambut yang akan menemani pemiliknya bersimpuh penuh hidmat di hadapan para masyaikh.. 

Sungguh hidmat acara ini.. 

Pikiranku melayang pada kenangan romantis tiga tahun silam.. 

Seorang anak kampung yang hanya bermodal ingin tau,  memberanikan diri untuk mencari berkah dimajelis penuh berkah ini... 

Seandainya aku bisa memutar waktu.. 

Begitu hidmat masa-masa itu, para masyaikh madrasah tertua di tanah suci Makkah, Madrasah As Saulatiyyah yang setiap tahun menyempatkan diri untuk datang ke Mahad ini memberi kesan tersendiri akan kerinduan itu.. 

Oh tidak.. 

Waktuku hanya tinggal satu tahun,  aku sudah berada pada tingkat terakhir di Mahad ini.. 

Inilah waktu penentuan itu,  penentuan apakah aku lulus atau sekedar tamat belajar.. 

Apakah nostalgia indah pada awal perjalannku akan seindah kisah akhirku.. 

Aku hanya bisa berharap.. 

Disamping mencoba istiqomah dalam khidmah dan keikhlasan untuk mencari berkah.. 

Berharap bukan hanya tamat,  tapi juga lulus sehingga patut dikatakan sebagai seorang murid.. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun