Berdasarkan penanggalan musim tanam yang dalam budaya Jawa disebut pranata mangsa, pertengahan September hingga pertengahan Oktober disebut mangsa semplah dan termasuk dalam kapat atau ke-4.
Masa ini merupakan masa perubahan dari musim kemarau menuju musim hujan.
Pertanda alam paling nyata atau mudah dilihat adalah mulai munculnya awan atau mendung tipis sekalipun siang hari. Kadang disertai angin yang bisa menimbulkan badai sebab ada perubahan suhu udara dari panas menjadi sedikit lebih dingin. Namun masih kemungkinan kecil turunnya hujan. Jika memang ada hujan turun tidak terlalu lebat dan bersifat lokal.
Masyarakat tradisional Jawa menyimbolkan dengan istilah waspa kumembeng sajroning kalbu dalam bahasa Indonesia berarti air mata menggenang dalam sanubari.
Maksud dari bahasa simbolis ini manusia (petani) bekerja namun belum bisa menghasilkan dan tak perlu bersedih. Simpanlah kesedihan dalam hati saja.
Maksud dari belum bisa menghasilkan sebab petani pada mangsa kapat atau mangsa semplah ini baru mengolah tanah dan menebar benih bukan bibit.
Kerja keras banting tulang hingga capai terasa lunglai dalam bahasa Jawa disebut semplah. Maka dari itu disebut mangsa semplah.
Semakin dekat mangsa kalima atau ke-5 mendung semakin tebal dan perubahan suhu secara drastis kadang terjadi sehingga menyebabkan munculnya badai atau dalam budaya Jawa disebut lesus atau ulur-ulur. Bukan badai El Nino.
Fenomena alam ini dipahami oleh masyarakat tradisional sebagai suatu siklus yang terus berputar.
Bahwa kadang ada perubahan misalnya terjadi hujan di musim kemarau atau masyarakat Jawa menyebut udan salah mangsa adalah sesuatu yang lumrah karena adanya kondisi yang tak terduga. Misalnya meletusnya gunung yang bisa mengubah suhu secara signifikan dan hanya bersifat lokal.
Apakah pranata mangsa masih bisa diterapkan pada masa kini?
Perkembangan jaman, pengetahuan, dan teknologi serta tertatanya sistem irigasi memang mengubah usia tanaman. Pola tanam pun berubah.
Pada masa lalu usia padi sekitar 6 bulan setelah panen padi diganti menanam palawija. Demikian seterusnya.
Pada masa kini usia tanaman termasuk hortikultura semakin pendek. Sehingga dalam setahun bisa panen 2-3 kali. Namun ketergantungan pada irigasi, pupuk, dan pestisida meningkat juga.
Bagi petani tradisional masih menggunakan pranata mangsa dalam penanggalan musim tanam tanpa mengabaikan modernisasi sistem pertanian yang terintegrasi.
Sebagai contoh adalah petani-petani di wilayah dataran tinggi Dieng dan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
Para petani di perbukitan ini hanya mengandalkan irigasi dari curah hujan.
Demikian juga petani-petani di wilayah Kecamatan Jabung, Pakis, Tumpang, dan Poncokusumo. Sekalipun ada irigasi yang terintegrasi namun pada saat kemarau juga debitnya turun drastis. Dengan tetap memperhatikan dan menggunakan pranata mangsa pada mangsa kapat atau semplah tetap bisa produktif dan panen melimpah.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI