Tidak stabilnya harga sayuran selama hampir setahun akibat pandemi Covid-19 memang dirasakan para petani sayur dan pedagang sayur mayur.Â
Fluktuasi harga kadang betul-betul membuat kerugian dalam arti modal tidak kembali, kadang hanya kembali modal, kadang untung sedikit, tetapi jarang untung besar.Â
Untuk petani padi dan kentang memang harga bisa dikatakan stabil karena kala permintaan sedikit dan persediaan melimpah, hasil panen masih bisa disimpan sekian minggu bahkan dua bulan. Setelah permintaan naik barulah dijual dengan harga yang lumayan.
Sedang untuk sayuran, jika hari ini panen maka hari ini pula harus terjual. Jika tidak terjual karena permintaan sedikit maka mau tidak mau harus dibuang.Â
Tidak mungkin dijual esok hari karena mengalami kebusukan setidaknya layu. Untuk sayur tomat, kobis, brokoli, dan sawi putih masih bisa bertahan hingga 4-5 hari.Â
Tetapi bagaimana pun mengalami kebusukan sebagian sehingga jika akan dijual harus dirempesi atau dibuang yang mulai busuk sehingga tetap tampak segar.Â
Perempesan ini tentu saja menyebabkan penyusutan bobot paling tidak 5-10%. Jika harga komoditas naik tentu saja tidak akan mengurangi kerugian. Tetapi jika harga stabil bahkan turun maka kerugian akan sangat terasa.
Turunnya permintaan dan harga yang cukup signifikan selama setahun ini membuat saya harus melihat secara langsung ke pasar untuk melihat kenyataan yang sebenarnya.Â
Beberapa sekolah berasrama di Surabaya dan Malang yang biasanya kami pasok memang jelas permintaan berhenti sama sekali karena penghuni asrama kembali ke daerah masing-masing dan belajar secara daring di rumah masing-masing.
Selama satu minggu ini, kami berdua keliling pasar-pasar tradisional di wilayah Surabaya, mulai pasar Wonokromo, Kayoon, Tambak Rejo, dan pasar-pasar kaget di sekitar Kapasan, Ploso Bogen, Karang Asem, Karang Empat, Gubeng Kertajaya, dan sekitar Menur.Â