Dalam budaya Jawa ada ungkapan atau peribahasa yang berbunyi 'isuk dele sore tempe' dalam bahasa Indonesia berarti 'pagi masih berupa kedelai namun sore hari sudah menjadi tempe'. Peribahasa ini mempunyai arti seseorang yang plin-plan atau mencla-mencle apa yang dikatakan. Misalnya ketika ditanya atau diminta pendapatnya tentang suatu program ia mengatakan setuju dan mendukung, namun ketika program akan dijalankan ia menyatakan ketidaksetujuannya dengan alasan tertentu.
Bahwa seseorang berbeda pendapat merupakan hal yang biasa, namun apa yang diucapkan seharusnya dipikirkan terlebih dahulu bukan asal meluncur tanpa arti dan membuat orang lain bingung. Bahkan membuat kecewa. Apalagi jika menyangkut sebuah janji dan pada akhirnya diingkari.


Pada masa kini, tempe busuk (Jawa: tempe bosok) jarang dijadikan bahan  masakan. Banyak orang yang sudah tidak doyan. Dulu tempe busuk bisa jadi bahan tambahan untuk membuat sayur bobor, lodeh, atau untuk Jawa Timur untuk dijadikan mendol.
Maka makna isuk dele sore tempe, malam tempe busuk dan pagi mendol adalah mengungkapkan seseorang yang sangat plin-plan. Â

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI