Alasan bermigrasi ini senada dengan hasil riset Perkumpulan PIKUL (Pengembangan  Inisiatif dan Kapasitas Lokal) dipublikasikan tahun 2018 terhadap 500 pekerja di Kota Kupang tentang 'Kota-Kota Kecil, Kabupaten Urban di Indonesia (Garis Depan Tantangan Tantangan Ketenagakerjaan, Migrasi dan Urbanisasi)' yang menyatakan bahwa tujuan bermigrasi ke Kota Kupang adalah untuk mendapatkan uang tunai.

Bagi Karemlita Sesfaot (24) yang selama 8 bulan ini mendampingi Orang Tua dan Anak Anak di Desa Basmuti dan Desa Kuanfatu dalam program 'Pengasuhan Anak dan Pemberdayaan Anak'-Partisipasi orang tua di Desa Basmuti dalam kelas Parenting cukup tinggi. Ini dibuktikan dengan kehadiran orang tua dalam setiap kali pertemuan mencapai 15-20 orang. Dalam pertemuan tersebut orang tua menceritakan pengalamannya mendidik anak di rumah dengan menghargai hak anak dan menuntunya untuk berkembang sesuai dengan kehendaknya sendiri.
"Sejak bulan November 2018 sampai Agustus 2019 tingkat kehadiran orang tua dalam pertemuan di Desa Basmuti terlihat konstan dan stabil. Kostan maksudnya tingkat kehadiran mereka tidak pernah di bawah 15 orang, selalu di atas 15 sampai 20- an orang tua yang hadir. Di dalam kelas, orang tua aktif dan partisipatif.Â
Mereka menyampaikan pada beta dengan spontan dan tidak malu-malu. Secara kognitif, mereka berani mengeksplorasi pengalamannya dalam mendidik anak kemudian membagikannya pada hadirin. Misalnya pada anak usia 5 tahun, bagaimana mereka mengajari anak untuk mengenali huruf," terang Amel.
Menurut Amel, Partisipasi masyarakat di Desa Kuanfatu cukup rendah. Tingkat kepercayaan diri anak anak pun rendah. padahal secara usia mereka lebih dia tas anak anak dari Desa Basmuti yang cenderung lebih aktif mengajukan pendapat.Â
Mirisnya, dalam pendampingan Amel menemukan bahwa banyak anak anak di Desa Kuanfatu yang hidup dalam pengasuhan kakek dan neneknya karena orang tua mereka memilih bermigrasi.
Kedua desa ini menyisahkan cerita tentang manusia yang tidak berhenti berharap. Berjuang merubah nasib. Anak anak yang mendamba masa depan cerah. Perdagangan orang jadi momok dalam mimpi yang sempurna.Â
Pekerjaan rumah bersama adalah membangun karakter manusia yang berdaya dan berjuang hidup di kampungnya sendiri dengan kapasitasnya. Maka, dalam dua kali perjumpaan ini kami bersama Sepakat mengatakan 'Stop Bajual Orang NTT, Kami bukan Barang Dagangan."

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI