Mohon tunggu...
Ardi Winata Tobing
Ardi Winata Tobing Mohon Tunggu... Administrasi - Menulis untuk mengingat.

Prokopton.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Teror Prancis, Gempa Turki, dan Masyarakat yang Sakit!

31 Oktober 2020   22:14 Diperbarui: 1 November 2020   03:36 414
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Corona belum tampak akan berakhir dalam waktu dekat, tapi satu pandemi lain muncul dan menjalar dengan cepat.

Penyakit ini bahkan lebih menyeramkan karena kehadirannya ditandai tanpa banyak gembar-gembor, tanpa peringatan siap siaga, walau basil-basilnya terlihat nyata di depan mata dan bisa saja dampaknya lebih fatal dibandingkan virus asal China.

Jika Covid-19 dipercayai muncul dari konsumsi keliru hewan kelelawar, virus yang satu ini menyebar pasca dua kejadian yang baru saja mengambil tempat fokus perhatian publik yang sudah cukup lama terpusat pada pandemi Covid; serangan teror di Prancis dan gempa di Turki.

Kehebohan bermula ketika seorang guru sejarah SMP di Prancis bernama Samuel Paty tewas dipenggal seorang pemuda 18 tahun, Abdoullakh Anzorov. Sebabnya, Anzorov menganggap Paty sudah memprovokasi dan menghina agamanya saat menggunakan karikatur Nabi Muhammad dalam diskusi kelas kewarganegaraan tentang kebebasan berbicara.

Kasus ini menjadi perhatian nasional bahkan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, unjuk komentar dengan mengecam tindakan tersebut lewat pidatonya. Rupanya pidato ini malah jadi bensin yang menyulut api makin merak karena ia dituding menyampaikan pesan “anti-Islam”. Aksi protes dan boikot langsung menggema di seantero dunia, utamanya dari negara-negara mayoritas muslim, salah satunya Turki.

Bola salju bergulir membesar: setelah beberapa teror lanjutan, puncak aksi brutal terjadi ketika tiga warga Prancis di salah satu gereja di Nice mesti meregang nyawa. Ketiganya meninggal dunia setelah mendapat serangan benda tajam, bahkan salah satu di antaranya dipenggal oleh pelaku, pada 29 Oktober lalu.

Belum usai keterkejutan publik akibat kejadian itu, esoknya 30 Oktober, dunia terhenyak saat gempa berkekuatan M 7,0 mengguncang Pantai Aegean di Turki. Gempa ini merenggut puluhan korban jiwa, bahkan memicu gelombang tsunami lokal dan ratusan gempa susulan.

Hilangnya Empati di Ujung Jari

Dua kejadian yang sebenarnya tak punya hubungan apa-apa itu rupanya menjadi trigger dari kemunculan virus baru. Virus ini dinamai “krisis empati” dan menjangkiti banyak orang, khususnya di tengah masyarakat Indonesia.

Ini terlihat jelas dari bukti yang didapati pada sumber yang sebenarnya sepele saja: fitur react di Facebook.

Facebook meluncurkan fitur reaksi yang terdiri dari 6 ekspresi emosi yang dapat dipilih oleh pengguna untuk menanggapi sebuah kiriman, selain tentunya “like” yang sejak awal tersedia.

6 ekspresi itu adalah “heart, LOL, wow, sad, angry dan hug” yang mewakili masing-masing respons sesuai dengan nama dan tampilannya.

Fitur
Fitur "react" Facebook

Namun fitur yang sebenarnya menarik tersebut justru di lain sisi dapat dijadikan bukti untuk menyingkap “sakit parah” yang sedang diidap oleh sebagian orang.

Hal ini dibuktikan dari pantauan dan temuan di berbagai kiriman berita dari akun-akun media massa kenamaan nasional.

Ambil contoh di fans page Kompas.com.

Di sana, disediakan fitur pencarian yang dapat digunakan untuk menemukan artikel tertentu dengan menggunakan kata kunci dan beberapa filter yang tersedia.

Coba ketikkan kata kunci yang berhubungan dengan teror Prancis, misalnya saja “teror, Prancis, gereja” atau beberapa key words lain yang berhubungan, lalu sortir kiriman dengan pilihan “terbaru” serta pilih “tanggal posting 2020”, maka akan ditampilkan konten berita Kompas yang berhubungan dengan kejadian tersebut.

Setelah itu, alihkan pandangan ke lokasi di mana react para pembaca terakumulasi di sudut kiri bawah masing-masing kiriman.

Hasilnya?

Akal sehat akan otomatis berpikir sudah sewajarnya orang-orang akan menyampaikan bela sungkawa, rasa sedih, kecewa atau marah untuk kejadian semacam ini dengan memilih react “sad” atau “angry” yang mewakili kesedihan dan kemarahan.

Namun rupanya ada juga orang yang memilih untuk merespons kejadian tersebut sebagai sesuatu yang lucu. Semacam lelucon.

Jika satu atau dua akun saja yang memilih reaksi tertawa, mungkin kita bisa memaklumi hal tersebut sebagai ketidaksengajaan saat menggunakan fitur reaksi atau bisa jadi ada yang salah dengan kejiwaan orang tersebut, karena memang akan selalu saja ada satu atau dua orang seperti itu, bukan? Psikopat, misalnya. Yang kondisi psikisnya membuat empati tak punya tempat lagi di jiwanya.

Namun bagaimana jika reaksi tertawa tersebut dipilih oleh belasan, puluhan bahkan ratusan akun?

Tangkapan layar hasil pencarian. Ini hanya sebagian.
Tangkapan layar hasil pencarian. Ini hanya sebagian.

Ini persoalan yang memunculkan tanya: apakah tewasnya seorang pria berusia 55 tahun serta satunya lagi Ibu dari 3 orang anak, yang sama-sama dikenal sebagai pribadi “baik dan murah senyum”, akibat tikaman berulang-ulang, layak untuk ditertawakan?

Lalu apakah ketika seorang jemaat gereja yang jadi korban ketiga dengan kondisi kepala nyaris terpisah dari badan termasuk lelucon yang menyulut gelak tawa?

Timbul rasa penasaran.. orang seperti apa pula yang punya selera humor jenis itu?

Hal yang sama juga bisa kita temukan dari informasi bencana alam gempa bumi yang terjadi di Turki.

Ketikkan kata kunci yang bisa kita pakai untuk menemukan artikel Kompas.com yang memberitakan kejadian itu.

Apa yang terlihat?

Untuk sebuah kejadian yang merenggut nyawa puluhan orang (termasuk lansia dan anak-anak) rasanya gila saja jika ada yang menganggapnya sebagai lelucon kan?

Tapi itulah yang terjadi!

screenshot-602-001-5f9d7ce4d541df2657540303.jpg
screenshot-602-001-5f9d7ce4d541df2657540303.jpg
Faktanya, bukan satu atau dua, tapi puluhan, bahkan ratusan akun sanggup menertawakan tragedi tersebut dengan jarinya dan ini terlihat dengan begitu gamblang lewat fitur Facebook react.

Bahkan, hal serupa bisa ditemukan pada beberapa portal media populer macam Tempo atau Detik. Dan besar kemungkinan hal yang sama juga bisa didapati pada media-media lainnya.

screenshot-605-5f9d7c67d541df274523bd73.png
screenshot-605-5f9d7c67d541df274523bd73.png
screenshot-606-5f9d7c6f8ede482fa91f33e2.png
screenshot-606-5f9d7c6f8ede482fa91f33e2.png
screenshot-603-5f9d7d178ede484d1d1bdac2.png
screenshot-603-5f9d7d178ede484d1d1bdac2.png
Mudah mempertanyakan, apakah “empati”—yang menjadikan manusia mahluk yang istimewa di hadapan spesies lainnya—sudah pelan-pelan tergerus dan menjelang hilang? Apakah ini bentuk wabah psikopat massal?

Mungkin saja ada yang memberi pembelaan jika fenomena tersebut sebagai konsekuensi “wajar” dari eskalasi kejadian yang berlangsung akhir-akhir ini.

Kita bisa menyaksikan dua arus opini kini sudah terbelah.

Pertama adalah mereka yang menganggap Prancis sudah bablas menjalankan kebebasan berpendapat dengan membiarkan berulangnya aksi penghinaan dan penistaan terhadap kepercayaan agama.

Lalu di sisi lawannya adalah mereka yang beranggapan jika Turki, lewat presidennya Recep Tayyip Erdoğan, tidak pantas mengeluarkan komentar atau kritik keras terhadap kejadian di Prancis, apalagi pihak Prancis menyebut Erdoğan tidak terlihat berbelasungkawa terhadap orang-orang yang menjadi korban teror.

Dan bagian mengerikannya adalah sebagian orang, yang jumlahnya tidak sedikit, kemudian menarik kesimpulan (ini dapat dilihat di kolom komentar pada banyak kiriman mengenai dua kejadian di atas), bahwa para korban teror Prancis dan korban bencana alam di Turki, layak menjadi korban atas (sekali lagi) konsekuensi “wajar” dari eskalasi kejadian yang berlangsung akhir-akhir ini.

Padahal, tragis jika membayangkan seandainya mereka yang kehilangan nyawa malah bisa saja tidak peduli sama sekali dengan kehebohan yang sedang terjadi terkait isu SARA (dan politik) itu. Bisa saja mereka hanya orang normal yang berusaha bertahan hidup di tengah situasi dunia yang sedang bertarung habis-habisan melawan pandemi.

Tapi tragedi yang merenggut nyawa mereka malah dengan gampangnya dijadikan lelucon oleh sebagian orang yang hampir seluruhnya tidak mengenal mereka, tidak mengetahui apa-apa mengenai hidup mereka dan tinggal jauh dari tempat di mana jasad mereka terkulai tak bernyawa.

screenshot-608-1-001-5f9d7de88ede487be5410252.jpg
screenshot-608-1-001-5f9d7de88ede487be5410252.jpg
Coba bayangkan jika korban adalah salah satu dari Anda: meninggal dengan cara yang tragis dan ratusan orang dengan gampangnya memakai jari mereka untuk menertawakan kematian Anda atas sesuatu yang sama sekali Anda tidak terlibat di dalamnya, atas sesuatu yang bahkan you don’t give a single sh*t.

screenshot-607-001-5f9d7dfdd541df7fe833d003.jpg
screenshot-607-001-5f9d7dfdd541df7fe833d003.jpg

Hal ini makin mengkhawatirkan karena jika biasanya orang-orang menyampaikan pendapat provokatif dengan menggunakan akun samaran, berlindung di balik anonimitas, maka kali ini orang-orang semacam itu tidak lagi takut menutupi jati dirinya.

Akun-akun yang terlihat jelas menertawakan tragedi tersebut lewat pilhan react di Facebook hampir pasti sebagian besar adalah profil asli, dengan foto dan data diri nyata, bukan profil tuyul-tuyul anonim.

Mengapa ini bisa terjadi? Perlu tinjauan ilmiah untuk merunut korelasi dan menarik konklusi. 

Namun bisa jadi ini karena ada yang keliru dalam cara pandang sebagian masyarakat terhadap pluralitas dan tampaknya ini bukan lagi masalah baru, malah cenderung makin kompleks, ditambah jumlah mereka yang banyak dan pembenaran yang didapat dari tokoh-tokoh berpengaruh yang punya pandangan serupa. Hal ini pada akhirnya menjadikan tindakan itu menjadi wajar dan pantas.

Tapi ini hanya salah satu kemungkinan yang perlu ditelisik lebih lanjut.

Pada akhirnya, apakah tulisan ini hanya bentuk kekhawatiran lebay yang keliru dan sekadar cocokologi fenomena yang dipaksakan? Mungkin saja ya.

Namun mungkin juga, apa yang sedang terjadi dan dikhawatirkan dalam isi tulisan ini adalah awal (atau lanjutan?) dari runtuhnya nilai-nilai universal, terutama empati antar sesama umat manusia, akibat pandangan sempit dan sentimen perbedaan yang makin kuat, yang sebenarnya masih menampilkan pucuk mini dari gunung es raksasa yang tersembunyi di bawah sana.

Tentunya, saya lebih suka dan berharap pada kemungkinan pertama.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun